
Tak lama kemudian Bian datang menjenguk Ara dengan membawa seikat bunga di tangan kanan dan beberapa cokelat juga Snack di tangan kiri yang di pegang nya dibalik punggungnya..
"hai Ara tebak aku bawa apa?"
tanya Bian dengan berdiri di depan Ara
" apa itu?? sini berikan kepadaku.."
ucap Ara merengek
"taraaaa... ini untukmu nona cantik, semoga kau menyukainya.." sambil memberikan semua yang ditangannya.
Ara pun dengan sigap langsung mengambilnya, mukanya memerah dan sangat senang. seketika ia melupakan janjinya yang ingin berjauhan dengan Bian.
"asyikkk, ini semua untukku?"
ucap Ara sambil mencium bunga mawar itu
"bukan, tapi untuk Oma.." kesal Bian .
"wleee, tetap aku makan"
ucap Ara sambil membuka coklat nya
"huuu dasar kancil"
ucap Bian sambil menarik hidung Ara
tiba-tiba Ara ingat kalau ia harus menjauhi Bian ..
"ehem..." deheman Ara.
"ada apa?" tanya Bian sambil menaikkan alisnya
"aku baru ingat, kenapa kau tidak mengajak yang lain?"
tanya Ara yang mulai nunjukkan sikap dinginnya
"oh itu... anu... aku..."
jawab Bian gugup
"ada apa Bian?"
tanya Ara
"aku akan beritahu tapi kau harus janji untuk tidak marah denganku"
jawab Bian dengan menaikkan jari kelingkingnya
"janji? marah? apa sih maksudnya? oke-oke baiklah aku janji" sahut Ara dengan membalas jarinya Bian
"sebenarnya aku menyuruh mereka untuk menyusul karena aku ingin memberikan kejutan untukmu"
ucap Bian sambil menunduk
"astaga Bian , kau...!" teriak Ara sambil menunjuk Bian
"hei jangan lah marah, kau sudah berjanji padaku"
ucap Bian
"tapi kau sudah keterlaluan Bian, aku tak menyangka kau sekejam itu." sahut Ara
"hei... aku akan mengantar mereka pulang nanti, tolonglah berhentilah marah padaku.."
jawab Bian dengan memohon..
"Yayayaya baiklah.. terserah kau saja."
ucap Ara singkat sambil membaringkan tubuhnya.
Ponsel Bian berbunyi, ternyata itu pesan dari Ayu yang mengabarkan kalau ia dan yang lainnya sudah sampai di Rumah Sakit .
"Ara aku akan menjemput mereka didepan, tolonglah bilang pada mereka bahwa aku baru saja sampai dan semua pemberian ini bukan dariku.."
ucap Bian
Dengan mata nya yang melotot ia tiba-tiba memiliki ide untuk mengerjai Bian..
'kenak kau Bian...
"oh no..no..no.. tak segampang itu Bian, aku akan berkata jujur pada mereka bahwa ini semua adalah pemberian darimu"
ucap Ara sambil senyum tipis
Bian yang mendengarnya langsung mendekati Ara dan berbisik
"benarkah?? ternyata kau tidak sabar ya melihat hubungan kami hancur agar kita bersama lagi? ya baiklah, katakan saja padanya"
goda Bian sambil berjalan keluar..
'****, berani sekali dia mengancam ku , awas aja kamu ya Bian!!!
Bian menjemput Ayu dan yang lainnya di pintu masuk Rumah Sakit, mereka membawakan buah kesukaan Ara yaitu buah naga. Mereka sengaja membawakan buah itu sekalian untuk menghibur Ara .
"sayang, kau sudah sampai?"
ucap Bian yang menghampiri mereka
"iya apa kau sudah lama menunggu?"
__ADS_1
jawab Ayu.
"belum lama, yuk masuk.."
ucap Bian sambil menggandeng tangan Ayu
"ehemmm , hello? apa kau hanya melihat Ayu disini?"
ucap Ghina
"astaga ternyata ada orang selain kita , tapi dimana ya? hai siapapun kalian ayolah ikut kami, aku sungguh tak melihat kalian"
goda Bian
"Amel aku rasa dia merindukan pukulan mu.."
ucap Ghina sambil menyenggol tangan Amel.
"Ampun nona, aku hanya bercanda.. ayolah wanita-wanitaku.. Ara sudah menunggu kalian.."
ucap Bian sambil menarik tangan Ghina dan Amel.
"sialan kau"
ucap Amel dan Ghina.
sementara Ayu tertawa melihat kelakuan mereka.
Tibalah mereka di kamar Ara , mereka melihat Ara sedang menikmati coklat dari Bian ..
"astaga Ara, kenapa kau makan coklat sebanyak ini?"
tanya Ayu
Ara yang melihat sahabatnya sudah datang pun langsung menutup mukanya, ia sangat malu dihadapan mereka, terlebih lagi ada Bian.
'*astaga kenapa aku tak tahu mereka masuk*
ucap Ara dalam hati
'kau sungguh menikmatinya Ara , baiklah nanti akan aku berikan lagi..'
ucap Bian dalam hati
"heiiii kalian sudah datang, ayo makan ini..."
ucap Ara sambil menawarkan sisa coklat yang didepannya
"dengan senang hati, enak saja kau menikmatinya sendiri"
goda Amel
"apa yang kalian bawa itu?"
"astaga aku sampai lupa, ini kami bawain buah naga, kau pasti sangat menyukainya"
ucap Ghina dengan memberikan plastik tersebut kepada Ara
"yaampun aku ingin memakannya saat ini juga"
ucap Ara sambil memegang buah naga itu
"baiklah aku akan memotongnya untukmu, apa disini ada pisau?"
tanya Amel dengan mencari pisau disekelilingnya
"kau tunggu lah disini , aku akan mencarinya"
jawab Bian sambil berlari keluar .
Tak lama kemudian Bian pun berhasil mendapatkan pisau, tampak dengan sangat jelas kebahagiaan Ara menikmati buah tersebut walau wajahnya penuh dengan warna ungu.
"astaga Ara , pelan pelan lah.. apa kau tak melihat dirimu sekarang tak jauh beda dengan badut?"
goda Ayu
"maaf, tapi kalian juga tidak tahu betapa aku merindukan buah ini"
ucap Ara sambil menelan buah naga itu
Tak terasa hari semakin sore, Ayu Amel dan Ghina pamit pulang dengan Bian yang akan mengantar nya.
"astaga benar mereka aku sudah seperti badut, bagaimana ini tubuhku seperti ketimpa cat ungu, huh..."
ucap Ara sambil melihat sekeliling tubuhnya.
"hmm hari yang melelahkan, sebaiknya aku tidur saja.."
ucap Ara sambil membaringkan tubuhnya
Baru saja ia ingin terlelap , ayahnya datang bersama istri dan anak mereka.
tok..
tok..
tok..
Ara pun menoleh, "astaga siapa lagi itu!?"
ceklek..
__ADS_1
Pintu terbuka, dan masuklah ayah Ara dan disusul dengan ibu sambungnya yang menggendong Naura
"nak, ada apa denganmu?"
ucap Ayah
"tak apa ayah , hanya kelelahan saja. hai adik kakak tersayang sini cium dulu..."
sahut Ara sambil memanggil adiknya
"kau jangan banyak pikiran Ara , apalagi mikirin pacar.."
goda ibu sambung nya.
'kau tak perlu menasehati ku , untuk apa kau sebut pacar? apa supaya ayahku jadi marah padaku? iya?
"hmm iya ibu aku hanya kelelahan saja, lagian aku gak punya pacar ."
ucap Ara sambil memegang rambut Naura
"tatakk kenapa tatit?? adek cediiiih"
rengek adiknya yang masih belum sempurna bicaranya.
"sayang, kakak gak papa, Naura jangan sedih ya.."
ucap Ara
"hmm iya tatak"
sahut Naura sambil mengangguk
"baiklah karena Naura anak yang pinter, kakak ada sesuatu untuk Naura"
sambil mengeluarkan cokelat
"asikkkk, makaci tatakk"
sambil pergi makan cokelat ke arah dekat pintu .
Apapun yang terjadi antara kedua orang tuanya tak membuat Ara membenci adiknya Naura . Selain karena Ara sangat menyukai anak kecil ia juga berpikir dewasa, baginya adiknya itu tidak bersalah dan ia sangat menyayangi adiknya.
Tak sampai 1 jam Ayah Ara pun pamit pulang dengan alasan punya janji dengan klien.
"sayang, ayah pamit dulu ya.."
ucap ayahnya dengan mencium kening Ara
'ternyata kau datang hanya menjengukku, bukan untuk mengurusi aku sebagai anak.'
"baiklah Ayah."
sahut Ara singkat sambil menahan air matanya agar tidak tumpah
"jika ada apa-apa telepon lah ayah ya nak"
'apa kau bilang? telepon? aku tak yakin kau akan ada disaat aku butuh
Ara hanya mengangguk..
"dadahhhh tatakk.."
"daah sayang.."
sambil melambaikan tangannya.
Setelah Ayahnya menutup pintu ia pun langsung meneteskan air matanya.
'ayah kau benar-benar berubah! apa kau lupa aku ini anakmu? atau aku yang lupa kalau aku hanyalah anak yang kau tinggalkan? bagaimana cara memberitahumu bahwa aku merindukan sosokmu di kehidupanku ayah?
wujudmu ada , namun tidak dengan peranmu. kau melupakan peranmu sebagai ayah untukku. ya Tuhan sakit sekali rasanya...'
tiba-tiba pintu terbuka
ceklek...
belum sempat Ara menghapus air matanya tiba-tiba sosok itu mengagetkannya sampai-sampai ia lupa menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
"sayaaaang, kau kenapa?"
ucap wanita itu sambil menangis
"ibu?????"
jawab Ara yang heran campur sedih. heran karena melihat ibunya menangis, dan sedih karena ibunya baru sempat melihatnya.
"nak maafkan ibu...."
ucap ibu nya sambil memeluk Ara
"Bu , duduklah.. tenangkan pikiran ibu"
ucap Ara sambil mendorong tangan ibunya yang memeluk dirinya.
"ibu mecem apa aku ini sampai aku mengabaikan putriku"
jawab ibu nya
"hei Bu, apa yang kau katakan? aku tidak apa-apa, aku hanya kelelahan saja. mungkin sebentar lagi aku juga dibolehkan pulang."
ucap Ara dengan lirih
__ADS_1
"baik lah, ibu akan menginap di sini"
sahut ibunya sambil menaruh tas di atas meja itu.