
"araaaa!!! kemarilah, kau kenapa? wajahmu kenapa kusut sekali?" tanya seseorang padaku.
Seketika Ara menoleh ke sumber suara yang sepertinya ia sangat mengenali suaranya.
"eh Bian, hehee" ucapnya dengan senyum masam
"katakanlah, ada apa?" tanya Bian lagi.
Ara menceritakan segalanya apa yang baru saja ia alami, dan seketika tawa nya pecah "hahahhahaha"
tawanya membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka "hei apa ini lucu? lihatlah semua orang melihat kita" ucap Ara
"ma...maaf Ra, aku keceplosan" ucap Bian yang membuat Ara semakin melotot kepadanya
"hah? keceplosan katamu?"
"Ara apakah itu lebih penting daripada masalah yang kau punya sekarang?" tanya Bian lagi yang menyadarkan Ara akan sesuatu.
"haa iya benar, astaga aku sampai lupa jadinya" ucap Ara
"lihatlah Bian di lembar pertama itu, apa kau tahu dimana salahnya?" lanjut ara lagi sambil menyodorkan bukunya.
Bian mengeritkan dahi nya lalu mencermati dengan seksama dan pandangannya tertuju pada semua nama, seketika tawa nya pecah
__ADS_1
"buahahahahahahha"
Ara melongo di buat Bian karena tanpa ada angin dan hujan tiba-tiba saja sahabatnya itu tertawa "Biiiiiiii, kenapa kau tertawa? dimana yang lucu??? ha?" tanya Ara dengan meninggi kan suaranya.
Bian menghentikan tawanya dan mendekatinya "aduuuuh ternyata cerobohnya sahabatku ini tidak pernah hilang ya, kenapa kau mengetik nama Bu Sabrina sepanjang itu? apa kau fikir dia menyukainya???"
"ternyata kau sudah tahu ya? kenapa kau tidak memberitahuku??"
"ya aku sangat mengetahui watak semua dosen disini , kau kan tahu aku siapa! dan lagi, salahmu sendiri kenapa tidak bertanya dulu padaku? hayolooo" ucap Bian dengan sedikit menyombongkan dirinya.
"ahhh iya, salahku juga, lantas bagaimana ini? masa aku harus cetak ulang? kan gak lucu??" tanya Ara pasrah.
Tak lama kemudian Ghina datang dan disusul oleh Ayu juga Amel, mereka pun bercerita satu sama lainnya dan ternyata dengan masalah yang sama .
Bian lagi-lagi tak dapat menahan tawa nya "maafkan aku gaes, ahahhahahahhah" ucapnya yang sontak membuat Ghina Amel dan Ayu menatapnya dengan penuh keheranan.
"jadi gaes ternyata anak curut ini sudah tahu kalau Bu Sabrina tak suka namanya yang begitu panjang di ekspos dengan nyata" ucap Ara kesal
Amel memberikan isyarat kepada kaum hawa untuk melakukan penyerangan kepada Bian yang masih duduk sambil minum itu.
satu...
dua...
__ADS_1
tiga...
seraaaaanggggggggggg
"hei gaes , apa apaan ini? aduuhhh sakit, parah ni kalian Tiba-tiba main nyerang aja, sakit wooy"
ucap Bian yang melihat skripsi-skripsi itu melayang ke badannya , lalu kaum hawa tersebut tertawa lepas melihatnya
"rasain, emang enak" ucap mereka.
"kira-kira dong woy kalau ngelempar, malah punya kalian tebal-tebal semua, auuuhhh" ucap Bian lagi..
****
Perut sudah keroncongan , tak terasa kini sudah memasuki makan siang, Ara dan teman-temannya memutuskan untuk makan di warung bakso sambil bernostalgia saat mereka makan bareng disana.
Tak menunggu berlama-lama akhirnya seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka, dengan sigap mereka langsung mengambil sendok yang berada di hadapan mereka sambil mengucapkan "makanan datangggg, yuhuuuu"
Setelah makanan siap di makan akhirnya kaum hawa itu melirik lagi skripsi mereka dan Bian menyadari jika sahabat nya sedang kebingungan..
"gaes aku punya ide" ucapnya tiba-tiba membuat kaum hawa tersebut mendadak melihatnya
"apa? cepat katakan" ucap Ara ketus
__ADS_1
Bian mengulurkan waktunya "ehmm gini ... emhh penasaran yaaaaa" ucapnya
"Bian!!!!!" teriak mereka yang tampak murka.