
Hujan tiba dimalam hari menemani suasana hati yang sedang berbunga, rintikan hujan membuat Ara merindukan suara seseorang yang jauh disana.
Ara duduk di meja belajarnya menatap ke arah jendela yang tertuju pada rintikan hujan yang menghiasi malamnya, melamunkan sosok lelaki yang tak pernah ia jumpai namun sangat tersimpan dalam hatinya siapa lagi kalau bukan Rayhan. 'panjang umur nih ustadz' dalam hati nya yang melihat ada video call dari Rayhan .
Ara mengambil jilbabnya dan merapikan nya sebaik mungkin agar tidak nampak sehelai pun rambut nya .
"assalamu'alaikum adinda"
"waalaikumsalam abangda"
belum sempat Ara nanya kabar, Rayhan sudah dengan posisinya memegang gitar dan bersiap untuk bernyanyi
lagu : siapkah kau tuk jatuh cinta lagi
ketika ku mendengar bahwa
kini kau tak lagi dengannya
dalam benakku timbul tanya
masihkah ada dia dihatimu bertahta?
atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu?
namun siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?
meski bibir ini tak berkata
bukan berarti ku tak merasa
ada yang berbeda di antara kita
dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara
bahwa aku inginkan kau ada di hidupku.
Ara terhanyut dengan perasaan, ditambah lagi Rayhan memainkannya sambil menunjukkan senyuman yang indah nan menawan.
kemudian Ara melanjutkan lagu yang dibawakan oleh Ray
kini ku tak lagi dengannya
sudah tak ada lagi rasa
antara aku dengan dia
siapkah kau bertahta di hatiku hai cinta
karena ini saat yang tepat untuk singgah dihatiku
namun siapkah kau tuk jatuh cinta lagi?
meski bibir ini tak berkata
bukan berarti ku tak merasa
ada yang berbeda di antara kita
dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara
__ADS_1
bahwa aku inginkan kau ada di hidupku.....
jrenggg...
(ciyeee siapa yang ikut nyanyi?? huh author nanya sambil bercermin kayanya hiksss)
Gugup yang mereka rasakan membuat gitar berhenti barengan dengan lagu yang mereka nyanyikan. lalu mereka tertawa bersama..
Sesimple itu membuat Ara bahagia dan pastinya sudah tak ada lagi rasa dengan Bian yang dipendamnya sejak dulu kala.
"suara abangda bagus" ucap Ara
"adinda lebih merdu" balas Ray .
kemudian Ray menceritakan kesehariannya di madrasah begitu juga Ara menceritakan kegiatannya yang ada di kampus.
tiba-tiba hening, hanya derasnya hujan yang terdengar ..
"Ara , abangda mau ngomong sesuatu"
glekkk
jantung serasa copot seketika, tapi Ara berusaha untuk bersikap biasa saja.
"boleh abangda" jawab Ara
"adinda percaya gak dengan cinta yang hadir karena terbiasa?" tanya Ray
"percaya, bahkan tak peduli sejauh apapun jarak diantara keduanya, selama mereka tetap komitmen" jelas Ara yang sebagian besar merupakan kode darinya.
"sekalipun itu belum pernah berjumpa?" tanya Ray kembali
Ray tersenyum "oh baiklah, abangda mengerti. maaf banget ya adinda, kayanya abangda akan melanggar apa yang pernah abangda bilang dulu"
Ara terbengong karena kalau masalah ini Ara emang tak mengerti
"maksudnya gimana ya abangda? maaf banget Ara gak faham"
"ingat gak dulu abangda pernah bilang kalau abangda cuma mau berteman aja?" tanya Ray yang di anggukin oleh Ara.
"sekarang Abangda boleh ralat gak?" tanya nya
degggg!
"maksudnya??" tanya Ara
"abangda mencintai Ara, bahkan abangda enggak tahu sejak kapan"
Ara bernafas lega karena ternyata cinta nya tak bertepuk sebelah tangan.
Ara tersenyum, "Ara juga merasakan yang sama abangda"
blushhhh
"jadi sekarang kita???" sambung Rayhan yang ingin memastikan lagi..
Ara tersenyum "kita jalanin aja ya, kalau memang kita jodoh Alhamdulillah kalau tidak ya syukurilah"
"kenapa ada kata kalau tidak ? adinda tak ingin berjodoh dengan abangda?" sambil mengerutkan alisnya
__ADS_1
"kita tidak tahu jodoh kita bagaimana abangda, semoga takdir baik berpihak pada kita" jawab Ara yang dianggukin oleh Rayhan sambil bilang aamiin.
******
Hari yang indah bagi Ara karena mulai tadi malam ia tak lagi menyimpan rasa sendiri, tentu saja hal itu menjadi acuan baginya untuk lebih semangat lagi mengerjakan skripsinya.
Perpustakaan merupakan tempat favorit bagi Ara and the Genk untuk ngerjain skripsi tentunya karena adem dan WiFi.
Hari ini Ara datang lebih awal karena jadwal mereka siang hari. Ara memilih tempat yang biasa mereka duduki yaitu di sudut dinding bersebelahan dengan colokan listrik yang menjadi nilai plus nya.
Ara mengeluarkan laptopnya lalu ia mulai beraksi di depan layar laptop.
"dorrrrr" Bian mengagetkan Ara dengan menciprat kan air dari dalam botol minum yang ia beli di kantin.
Ara kaget dengan spontan ia langsung meninju tepat dimuka Bian tanpa melihat wajah Bian.
Tinjuan itu membuat Bian mengadu sakit yang membuat Ara mengenali suaranya "kau!!!!" ucap Ara
Bian mengeluskan wajahnya "kau ini gak pernah berubah ya!"
Ara melirik ke Bian dengan senyuman "aduduuuu jangan marah dong, siapa suruh ngagetin"
Bian langsung duduk tepat disebelah Ara , ia menutup laptop yang sedang Ara ketik "aku ingin bicara, penting!" ucapnya.
Ara kebingungan dan ia mengangguk "cepat katakan, huh kau ini mengganggu saja"
"Ara , ada hubungan apa kau dengan dia?" tanya Bian.
Ara paham dengan jelas maksud dari Bian adalah Rayhan namun ia memilih menggelengkan kepalanya seolah ia tak mengerti maksud dari Bian.
"Ara aku serius!!!" tegas Bian sambil melotot.
"aku juga serius Bian, aku tak mengerti maksud kamu apa! dia? dia siapa yang kau maksud?" tanya Ara
"lelaki yang diponselmu, siapa namanya? R...r... Ray iya Ray,, siapa dia?" tanya Bian
"oh itu, bukan siapa-siapa. hanya teman. emangnya kenapa? " jawab Ara
"kau menyukainya?" selidik Bian
"bukan urusanmu" sahut Ara
"Ara, tatap aku. apa kau menyukainya?" tanyanya lagi
"kalau iya kenapa? bukan hak mu melarang ku, memangnya kau ini siapa? dengar ya Bian... hidupku milikku, kau jangan coba untuk mengganggu" jelas Ara
"Ara aku bukan melarang mu, tapi aku tak yakin dia bisa membahagiakanmu" sahut Bian sambil menatap Ara
"lalu yang bisa membahagiakan ku siapa? kamu? jangan harap lebih ya Bian! aku memang nyaman dengan mu, kau sahabat ku yang paling baik, kau mengerti aku, tapi soal hati kau jangan coba untuk usik"
"Ara bahkan kau belum pernah berjumpa dengannya, aku hanya tak ingin kau patah hati"
"aku juga tak berharap lebih Bian... sudahlah.. jangan pernah bahas ini lagi. kalau kau memang sahabatku tolong kau dukung saja aku"
'ara apa tak ada sedikitpun hatimu untukku? aku hanya tak ingin kau patah hati karena aku tahu kau belum pernah memiliki teman dekat. membayangkan kau patah hati saja sudah membuat hatiku hancur' batin Bian.
"maaf" lirih Bian .
"sudahlah tak ada gunanya juga marah denganmu" ketus Ara .
__ADS_1
tak lama kemudian Ghina Ayu dan Amel datang. tampak jelas Ayu sedang menahan cemburunya tapi apa daya Karena Ayu sadar jika cinta tak bisa dipaksa.