
Matahari telah terbit dan hari sudah siang karena jam sudah memasuki pukul 11.00 tapi Ara belum juga bangun dari tidurnya yang dilanjutnya setelah ia sholat subuh tadi.
"hoaaaaammmmm"
Ara menguap sambil mengucek matanya lalu ia duduk dan melihat jam dinding
"astaga sudah jam 11 siang, aku harus kekampus" sambil pergi menuju kamar mandi.
Setelah mandi ia melihat disudut kamarnya banyak sekali hadiah yang baru ia dapatkan kemarin "omaygatttt bodohnya aku, bisa-bisanya aku lupa kalau aku sudah sidang hahahha memalukan Ara" sambil menepuk jidatnya yang tidak bersalah itu .
"untung saja tak ada yang melihat kekonyolanku, jika tidak maka matilah aku" sambil menyisir rambutnya
"Ara Ara, kau ini baru saja sidang, tapi kau sudah pikun begitu" sambil cekikikan
"sekarang kau harus ngapain Ara? kau ini pengangguran yang belum mendapat kan ijazah"
ya begitulah ucapannya yang ngomong berhadapan di depan cermin .
"hah iya, aku suruh Bian datang aja" sambil mencari ponselnya.
Setelah menemukan ponselnya Ara menggelengkan kepala "huh tidak tidak, ceroboh sekali kau Ara , bisa-bisa ia besar kepala nanti dan menganggap aku tak bisa tanpanya"
Farhan tak sengaja melewati kamar Ara dan melihat kakaknya tersebut sedang mondar mandir sambil berbicara sendiri
lihatlah sarjana ini, setelah sidang ia seperti orang gila saja, ihhhhh seram.
"hei pengacara, apa yang kau lakukan disana" teriak Farhan dari luar kamar Ara.
"apa tadi katamu? pengacara? kau berbicara denganku?" tanya Ara heran
"hahaha kakak, kakak .. lihatlah dirimu sekarang bahkan kau lebih bodoh dari pada aku" ledek Farhan
Ara melipat tangannya "kau kesini untuk mencari masalah denganku? iya? enyahlah"
"baiklah kak, aku akan pergi. oh ya tadi kau bertanya padaku kan apa itu pengacara? ngomong ngomong pengacara itu adalah... pengangguran banyak acara, wwleeekkk" Farhan langsung kabur setelah melihat sapu yang dipegang kakaknya akan segera melayang ke arahnya.
sialan anak itu, awas aja kau ya!! .
kring..
kring .
Tak lama kemudian ponsel Ara berbunyi
📲*Amel*
"ya halo Amel ada apa?"
"jalan yuk, aku bosan dirumah"
"A....Ayuk... eh tapi gak jadi deh"
"kenapa sih hayuklah "
"kau tahu kan biaya wisuda nanti berapa? jika aku memakai uangnya selembar saja aku takut nantinya mempengaruhi sidangku, ah tidak tidak... aku tak mau itu terjadi"
"hei, apa yang kau bicarakan? kau fikir aku akan mengajakmu menghambur kan uang? gitu?"
"ya setidaknya kita nanti pasti makan, iya kan?"
__ADS_1
"iya sih, ya sudah kali ini aku yang traktir tapi bakso aja ya hahahhaa"
"eum gimana ya Mel, aku fikir dulu ya" goda Ara
"pake mocca float deeeeh"
"oke aku setuju"
"dasar ya kau ini raa haha yasudah aku tunggu ya"
"pengangguran mah bebas hahhaa see you"
Begitulah Ara, yang tak akan menolak jika di ajak makan. orang orang tak akan percaya jika dia hobi makan karena tubuhnya yang langsing.
******
Malam harinya di temani dengan banyaknya angin yang datang dari sudut jendela membuat Ara semakin bingung dengan dirinya sendiri.
Ara merasakan bagaikan pengangguran yang tak tahu harus apa dan bagaimana kehidupannya ke depan, ia ingin sekali mendapatkan pekerjaan secepatnya tapi apalah daya jika syarat untuk melamar kerja adalah melampirkan ijazah sedangkan ia belum mendapatkan nya.
tak lama kemudian ponsel Ara berbunyi
📲*ayah*
'hah ayah? ada apa malam-malam begini menelpon, huh aku tahu pasti UUD (ujung ujung nya duit).
"iya halo ayah ada apa?"
"bagaimana kabarmu nak?"
"tak perlu lah basa-basi ayah, karena itu sudah basi"
"boleh dong, boleh sekali asal itu tulus dari hati. jika ayah memang merindukanku pasti ayah datang untuk menjengukku, dan jika ayah tak ada waktu untuk itu setidaknya ayah menyempatkan waktu untuk menelpon ku setiap hari"
"Ara apa yang kau katakan nak"
"sudahlah ayah Ara capek, ngantuk . langsung aja to the point"
"bisakah ayah meminjam uang Ara ? kali ini ayah benar-benar tidak punya uang nak"
Seketika Ara diam tak berkutik, ia ingin marah namun ia kasihan. walau gimana pun ayahnya adalah orang tua baginya dan Ara sangat menghargai itu.
"hahahha apa ayah bercanda?"
"tidak, ayo lah nak ayah tunggu besok ya"
"bagaimana bisa Ara memiliki uang sementara ayah tak pernah memberikannya lagi? sungguh ini sangatlah lucu"
"Ayah tau Ara punya uang, iyakan?"
"pandai sekali ayah membuat lelucon, sungguh Ara sangat terhibur Hahahahaha . "
"tolong la ayah nak"
"Ara benar-benar tidak megang uang ayah, seharusnya ayah yang memberikan Ara uang, bukan sebaliknya. ingat ya , ayah itu masih punya tanggung jawab atas Ara karena Ara belum menikah.. mengerti?.
sudahlah Ara capek, assalamu'alaikum"
titt...
__ADS_1
Ara mematikan ponselnya
Air mata terus jatuh membasahi pipinya betapa ia sangat kecewa dengan ayahnya itu . tapi apalah daya sebenci apapun anak dengan orang tua tetap saja dia adalah orang tuanya. tanpa orang tua kita bukan jadi apa-apa bahkan kita tak mungkin ada di dunia.
Duit? apa yang ada dipikiran ayahnya sekarang? bukannya membantu Ara eh malah sebaliknya. Entahlah.
Ara kembali menatap langit, air matanya kembali menetes..
"aku bosan nangis tapi kenapa masalah tak bosan denganku? kenapa ia masih betah menghampiri ku? hikss..."
"tuhan aku rindu kebahagiaan, kapan ia menjemputku hiksssss"
Ara memutarkan lagu yang mewakili perasaannya sekarang
**Diary depresiku - oleh Last child
malam ini hujan turun lagi
bersama kenangan yang ungkit luka di hati
Luka yang harusnya dapat terobati
yang ku harap tiada pernah terjadi
ku ingat saat ayah pergi, dan kami mulai kelaparan
hal yang biasa buat aku hidup di jalanan
disaat ku belum mengerti arti sebuah perceraian
yang hancurkan semua hal indah
yang dulu pernah aku miliki**
wajar bila saat ini ku iri pada kalian
yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
hal yang selalu aku bandingkan dengan hidup ku yang kelam
tiada harga diri agar hidupku terus bertahan.
Ya. begitulah lirik nya yang membuat tangisan Ara semakin pecah sampai ia tertidur dengan sendirinya karena kelelahan menangis.
****
Keesokan harinya Ara pergi menemani Amel mencari baju untuk wisuda, sebenarnya ia juga pengen beli, tapi ia harus memudarkan keinginan itu sampai ia sudah tahu berapa jumlah biaya wisuda nya.
"Ara, ini bagus gak?" tanya Amel
"bagus sih tapi warnanya aku ga suka" jawab Ara
"oh baiklah" kata Amel sambil membawa baju itu ke kasir
"loh kamu ambil bajunya? kamu mau Mel?" tanya Ara lagi
"hahaha iya, aku ambil karena kau tak suka hahahha" jawabnya yang membuat Ara masih terdiam.
"kenapa diam? wkwkw" ucap Amel sambil ketawa.
__ADS_1
"hahhh dasar cewe , ribet" sahut Ara.