Berhak Sarjana

Berhak Sarjana
Part 11


__ADS_3

Tak berapa lama dokter datang masuk ke dalam dan memberikan kabar baik untuk mereka


"permisi bu, oh iya gimana kabarnya nak Ara?"


kata dokter tersebut didampingi 2 orang perawat cantik dibelakangnya


"saya sudah merasa baikan dokter, apa saya boleh pulang?" sahut Ara


"sebentar ya saya periksa dulu.."


ucap dokter tersebut sambil memeriksa badan Ara


"hmm baiklah, keadaan nak Ara sudah mulai membaik, anda boleh pulang besok . makan nya dijaga ya dan harus lebih teratur lagi. Jangan banyak pikiran dan tetaplah bahagia selalu, saya permisi dulu.. mari..."


ucap dokter tersebut sambil berjalan keluar.


Ibu Ara menatap anak gadisnya itu dengan menahan air matanya. mungkin ia tau apa yang dirasakan anaknya itu tapi ia tak dapat berkata apa-apa karena tak ada yang bisa melawan takdir..


"nak maafkan ibu" lirih ibu nya


"untuk apa ibu?" tanya Ara dengan nada kesal


"ibu tau Ara seperti ini karena ibu. ibu juga sadar kalau selama ini ibu tak ada disamping Ara bahkan ibu tak tau anak gadis ibu ini sedang sakit."


ucap ibu nya dengan mata berkaca-kaca.


"sudahlah Bu, Ara butuh pembuktian bukan ucapan."


ucapnya singkat .


Suasana menjadi hening karena Ara marah pada ibu nya yang tak pernah ada disampingnya. Sejak orangtua Ara berpisah ibu Ara berubah drastis mulai dari penampilan sampai dengan perilakunya . Dulu yang berpakaian layaknya seorang ibu yang Sholeha karena memakai long dress dan jilbab menutup dada juga memiliki sifat ke ibuan karena selalu masak dan memperhatikan anak-anaknya. berbeda sekali dengan ibu nya sekarang yang sering memakai pakaian mini sukanya berkeluyuran juga tak mau tau lagi dengan anaknya .


Untunglah Ara memiliki sifat yang sabar dan kuat, walaupun ia adalah anak perempuan tapi ia sangat menjaga dirinya agar tidak terjadi fitnah. Ara selalu menunjukkan bahwa ia tak sama dengan korban brokenhome lainnya karena penampilan dan akhlaknya selalu baik dan sopan.


Ara memilih untuk tidur karena ia sudah tidak sabar untuk pulang esok harinya.


Gelap menjadi terang, akhirnya yang dinanti Ara telah tiba. Ara akan pulang hari ini sangkin semangat nya ia lupa untuk memikirkan naik apa pulangnya karena kendaraan yang ia miliki hanyalah sebuah motor yang tak mungkin cukup untuk membawa perlengkapan nya selama di Rumah Sakit ini..


"selamat pageeeh everibadehhhh"


ucap Bian yang sengaja datang lebih pagi


"kau!!! astaga, untuk apa kau datang se pagi ini Bian?"


ucap Ara sambil menepuk jidatnya.


"apa kau tak ingin pulang Farasya Aflah?"


tanya Bian dengan lembut sambil mendekati Ara


"ya tentu saja aku ingin pulang, aku sudah tidak betah lagi disini."


ucap Ara sambil menunjuk kasurnya


"lantas naik apa kau pulang kalau tidak ikut bersamaku nona?"


jawab Bian sambil melirik Ara


"astaga, kau benar.. aku bahkan tidak memikirkan itu sebelumnya"


ucap Ara sambil menepuk jidatnya lagi.


Melihat Bian menahan tawanya, Ara langsung curiga dengan sahabatnya ini dengan wajahnya aneh sekali . "kau kenapa? apa yang lucu? Hmm"


Seketika tawa Bian pecah karena tak sanggup lagi menahannya "pfffttt hahahhaha, araa kau ini lucu sekali, kenapa kau menepuk jidatmu padahal ia tidak salah? hahahaha"


Mendengar ocehan sahabatnya yang menyudutkan nya, Ara langsung memasang wajah masam nya.


"baiklah, kau jangan banyak protes. aku akan mengantarmu. apa cuma ini saja yang akan ku masukkan ke mobilku?"


ucap Bian sambil melihat ke arah barang-barang yang sudah di kemas ibu Ara


"hmm iya.. maaf merepotkan mu.."


ucap Ara dengan lembut karena pipinya sudah merah akibat malu


"baiklah biar ku angkat saja , kau tunggu lah di sini"


ucap Bian sambil mengangkat barang-barang itu


"biar Tante bantu nak"


ucap ibu nya


"tidak usah Tante, biar aku saja.."


ucap Bian yang menolak permintaan ibu nya Ara


Bian pun memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil dan setelahnya ia langsung membantu Ara untuk masuk ke dalam mobil


"aku bisa sendiri"


ucap Ara


"biar aku bantu, jika kau terjatuh lagi maka kau akan bermalam lagi dirumah sakit ini. apa kau mau? aku sih gak mau ya, karena aku sudah sangat lelah memasukkan barang-barang mu ke dalam mobilku ini."


ucap Bian yang menarik tangan Ara


"kau ini cerewet sekali"


ucap Ara dengan malu.


*****


Besok adalah Hari Ulang Tahun Ara sudah menjadi kebiasaan di rumah Ara siapa pun yang ber- ulang tahun ia lah yang mentraktir makan malam .


Pagi hari nya Ara pergi ke kampus seperti biasa ia mengenakan motor kesayangannya . sampai di kampus ia di cuekin oleh ke 4 sahabatnya termasuk Bian.

__ADS_1


"waduh aku telat ternyata"


ucap Ara kepada sahabat nya


tapi tak ada satu pun yang menjawabnya .


"Mel sudah siap tugas ekonomi bisnis belum?"


tanya Ara


"Hmmm.."


jawab Amel dengan menaikkan alis


"oh gitu, syukurlah.."


ucap Ara dengan kebingungan..


"kenapa dia? apa sedang PMS? huh"


ucap Ara pelan


"Ghina apa kau sudah membuat tugas?"


ucap Ara mengetuk punggung Ghina yang ada di depan bangku nya


Ghina tidak menoleh dan Ara menegurnya kembali


"Ghina apa kau tidak mendengarku?"


ucap Ara dengan menaikkan sedikit suaranya


"apa sih Ra?"


ucap Ghina dengan wajah yang sinis


"hmm sepertinya kau juga sedang pms ya? baiklah aku tidak akan menegurmu"


jawab Ara dengan sedikit kecewa.


Ara tidak habis akal, ia juga menegur Ayu dan Bian secara bersamaan ..


"hai pasangan ter hitz , apa kalian nanti langsung pulang?" tanya Ara .


"ya untuk apa berlama-lama dikampus ini? kau ini ada-ada saja."


ucap Bian yang disusul juga dengan Ayu


"sudahla jangan banyak bertanya"


Ara memangku dagu dengan tangannya yang diletaknya di atas meja , ia heran dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu sambil melihat ke semua sahabatnya satu per satu.


'baiklah, mungkin kali ini aku yang salah'


Ara memutuskan untuk tidak berbicara satu kata pun saat pelajaran di mulai, walaupun ia melihat sahabat-sahabatnya saling bicara dihadapannya tanpa mempedulikan perasaannya.


"guys apa aku ada salah pada kalian?"


tanya Ara


karena tidak ada respon dari sahabatnya ia pun kembali bertanya dengan meneteskan air mata


"apa kalian tidak mendengarku?"


"baiklah aku tidak akan mengganggu kalian"


ucapnya lagi dengan nada tersedu-sedu sambil berjalan keluar.


Bian yang melihat Ara pergi melewatinya langsung menahan tangan Ara


"lepaskan"


ucap Ara sambil menangis


"jika kau jngin tau kesalahanmu apa, ikutlah dengan kami" sahut Bian


Ara diam mengangguk dan pasrah saat Bian menarik tangannya untuk mengajaknya keluar yang disusul Amel Ghina dan Ayu.


"Bian aku akan mengikutimu tapi lepaskan aku"


ucap Ara karena takut Ayu salah paham


"baiklah ayo"


ucap Bian dengan melepaskan tangannya


'astaga aku tidak sadar menggandeng tangannya dari tadi


Mereka pun pergi ke sebuah tempat, dari luar tempat itu tampak seperti rumah kuno yang bercat abu gelap tapi ternyata ada logo cafe nya.


"ini dimana?"


ucap Ara


"aku lapar, kita makan dulu"


ucap Bian


Ara tidak menyadari Ayu Ghina dan Amel sedang menahan tawa, karena Ara sengaja diberi tempat duduk paling depan bersebelahan dengan Bian .


Mereka turun dari mobil dan begitu masuk mereka disambut oleh nyanyian "selamat ulang tahun" berserta terompet dan kertas yang berjatuhan di kepala Ara dari atas pintu nya.


duar...


duar....


suara kembang api pun juga ikut berbunyi

__ADS_1


tangisan Ara pecah , sahabat-sahabatnya memeluk Ara sambil mengucapkan


"happy birthday Ara nya kamiiiiii"


"terimakasih guys, jadi kalian sengaja diemin aku? jahat banget sih"


ucapnya sambil menangis


"hei hapus air matamu"


ucap Bian


"kau juga kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?"


tanya Ara


"ha..ha..ha.. Ara.. Ara.. apa maksudmu? jika aku memberitahumu apa itu akan masih menjadi surprise? apa aku akan melihat kau menangis seperti ini? cengeng sekali si kancil"


ucap Bian yang tidak dapat menahan ketawanya


"uuuu maafkan kamiii"


ucap Ghina Amel dan Ayu


"baiklah aku sekarang sangat lapar, ayo kita makan..."


Bersamaan dengan saat makan mereka pun memberikan kado tampak dengan sangat jelas kebahagiaan di raut wajah Ara .


Setelah itu mereka kembali lagi ke kampus karena motor Ara dan Ghina parkir di kampus.


Begitu sampai di rumah Ara kembali sedih karena tak satupun yang mengingat ia sedang ulang tahun.


Tiba-tiba ponselnya berdering ia mendapatkan pesan dari ayah nya.


*selamat ulang tahun anak ayah yang cantik, semoga panjang umur sehat selalu lancar kuliahnya menjadi anak Sholehah berguna untuk agama dan negaranya. aamiin.. maafkan ayah yang tak pernah ada disaat Ara butuh..


Tangisan Ara pecah saat mendapatkan pesan itu namun ia menghapusnya karena melihat adiknya Farhan menghampirinya


"kakaaaaak"


ucapnya


"Hmm yaa"


ucap Ara sambil menghapus air matanya


"kau kenapa kak?"


kata Farhan


"tak apa aku hanya kelilipan. ada apa?"


tanya Ara


"kau hari ini ulang tahun bukan? ayo lah traktir aku..."


ucap Farhan


"kurang ajar sekali kau ini, bukannya kau ucapin aku dan mendoakan aku.." plakkk


satu pukulan mendarat ke tangan Farhan


"baiklah selamat ulang tahun kakakku yang cantik semoga murah rezeki mu agar kau selalu baik pada adikmu...


ucap Farhan sambil memeluk kakaknya


"tiba-tiba aku ingin muntah, pergilah kau biar aku pesan makan malam untuk kita


ucap Ara.


Malam hari nya makanan telah datang, Ara Oma dan Farhan sudah mengumpul di ruang makan mereka sengaja tidak makan dulu karena menunggu ibu Ara yang sedang berpakaian.


Setelah keluar kamar ibu Ara langsung berpamitan dengan Oma nya untuk pergi tanpa melihat apa yang sedang terjadi di ruang makan..


"awak pamit dulu ya maa"


ucap ibu nya Ara


"mau kemana? "tanya Oma Ara


"pergi sama teman" . ucap ibu Ara


"makan dulu la Bu, kak Ara ulang tahun"


ucap Farhan


"letak aja disitu nanti ibu makan


ucap ibunya yang langsung pergi"


jleb....


Air mata Ara langsung tumpah dan ia nangis tersedu-sedu. Sakit hatinya kali ini pecah ia benar-benar Ter iris melihat ibunya yang tak memperdulikan ia.


"sudahlah nak biarkan saja ibumu"


ucap Oma nya


"ibu benar-benar melupakanku. bahkan aku kalah penting dari laki-laki itu"


ucap Ara


"jangan kau sibuk memikirkan yang tak mempedulikanmu, kau lihat ini kami ada untukmu


ucap Oma nya


lalu mereka makan dengan diawali doa yang dipimpin oleh Oma Ara. mereka menikmati makanan tersebut kecuali Ara yang tetap menelan makanan walau yang ia rasa adalah kepahitan .

__ADS_1


'sungguh aku tak akan bisa melupakan kejadian ini , aku seperti anak yatim piatu dengan status ayah ibuku yang masih hidup.


__ADS_2