Berhak Sarjana

Berhak Sarjana
part 8


__ADS_3

****


Tak terasa disepanjang perjalanan Ara meneteskan air matanya karena sebenarnya dari dulu ia juga menyukai Bian tapi ia mengurungkan perasaannya, karena Ara trauma dengan kisah Ayah dan Ibu nya yang berakhir tragis , ia pun juga tak mau kehilangan Bian nantinya.


'maafkan aku Bian


tiba-tiba ponsel Ara berdering dan itu pesan dari Bian


📥 'hei hapuslah air matamu anak kancil, apa kau tak malu di lihatin banyak orang?


Ara terkejut mendapatkan pesan itu, ia pun langsung melihat ke depan , samping , dan belakang . Lalu mata nya tertuju ke samping angkutan umum tersebut, yang mana ia sedang berhadapan dengan satu mobil , ya itu adalah mobilnya Bian.


Ara langsung menghapus air matanya dan menelpon Bian


call on


"hei curut kenapa kau mengikutiku?


ucap Ara di telpon.


"aku kepikiran denganmu, sejak pagi kau berbeda Ara . aku takut terjadi sesuatu padamu.


sahut Bian


"terus, bagaimana dengan ayu?


tanya Ara


"aku memanggilkan ojol untuknya , dan langsung mencari mu , ternyata benar dugaanku kalau kau telah membohongiku. sekarang turunlah dari sana, biar aku saja yang mengantar mu.


jawab Bian .


'maaf Bian, aku tak bisa. aku sudah berjanji dengan diriku sendiri.


"kau tega sekali Bian, apa semua laki-laki itu sama ya? mementingkan ego nya tanpa mengerti perasaan yang menyayanginya?


ucap Ara dengan kesal


"hei Ara , apa yang kau katakan? aku paham kau sedang berbicara tentang ayahmu, tapi jangan pernah kau samakan aku dengan nya . sudahlah sekarang kau mau turun sendiri atau aku akan membuat supirnya mengusirmu dari sana?


jawab Bian dengan nada sedikit tinggi.


Ara tau jika Bian tak pernah main-main dalam berbicara, ia takut Bian akan melakukan hal yang aneh , ia langsung mematikan ponselnya.


Call off.


"pinggir pak..


ucap Ara sambil turun


lalu setelah turun Ara langsung berjalan ke arah pinggir , dan duduk di trotoar , tak lama kemudian Bian menghampiri nya.


"kau sudah gila Bian .


ucap Ara sambil menunjuk hidungnya Bian


"apa? kau katakan aku gila? baiklah akan aku tunjukkan kegilaanku padamu sekarang."


ucap Bian sambil menarik tangan Ara masuk ke dalam mobil.


"awwww sakit..."


lirih Ara


sampai dalam mobil Ara hanya terdiam didalam sambil melihat ke arah samping kaca jendela mobil. ia tak melirik Bian sama sekali.


Bian yang sudah tak tahan lagi melihatnya ia pun langsung menegur Ara .


"hei Ara, kenapa kau diam saja? bukankah kau tadi sudah seperti kereta yang berjalan?"


ucap Bian


"sudahlah jangan menggangguku.."


ucap Ara


"Ara maafkan aku soal tadi.."


ucap Bian


"hmm ya."


jawab Ara dengan singkat


"kau ingin makan?"

__ADS_1


tanya Bian sambil melirik Ara


"aku ingin pulang, kau dengar itu? aku ingin pulang! turunkan aku sekarang."


jawab Ara dengan kesal


"kau ini kenapa?"


tanya Bian dengan nada lembut


"aku tak suka caramu Bian. Ayu itu pacarmu dan dia sangat menyayangimu. kenapa kau membiarkan nya naik ojol?"


tanya Ara


"bahkan aku rela tidak berhubungan dengan siapapun daripada aku kehilangan sahabatku, kau dengar itu?"


jawab Bian dengan tegas.


Ara langsung menoleh ke arah Bian , dan memegang tangan kirinya


"Bian jangan lakukan itu.."


Bian menatap Ara dengan tajam


"kenapa Ara? bukankah sebaiknya seperti itu agar kau tidak menangis lagi?"


Deggg.....


Jantung Ara seperti ingin lari dari tempatnya , mukanya memerah dan tak sanggup lagi membalas tatapan nya.


"sudahlah kau jangan menatapku seperti itu, lupakanlah."


jawab Ara sambil mengarahkan muka Bian ke depan


"tapi aku serius, kenapa kau menangis tadi?"


tanya Bian


"aku menangis karena aku nonton Drakor, hehh kau ini lebay sekali"


jawab Ara dengan bohong


"siapa yang sedang kau bohongi ini Farasya?"


"baiklah, sepertinya kau tahu betul tentang aku. jadi sebaiknya aku tak perlu menjelaskan lagi kenapa aku, dan bagaimana aku."


jawab Ara sambil meletakkan kedua tangannya di dada


"Farasya... ku mohon biarkan aku bersikap baik padamu."


ucap Bian dengan tangannya yang memohon


"tidak Bian, jika kau ingin berlaku seperti itu maka perlakukan juga lah yang lain dengan perlakuan sama. gimana? apa kau sanggup?"


sahut Ara dengan menantang


"baiklah, jika itu maumu."


ucap Bian sambil menghela nafasnya.


****


Keesokan hari nya saat dikampus, antara kedua nya tak saling bicara, seperti ada jarak diantara mereka . Ara yang tak sanggup mengarah kan pandangannya ke Bian kini ia mencoba membuat hobi baru yaitu membaca novel. sementara Bian sibuk dengan bucinnya bersama Ayu.


'hmm menjijikkan sekali


ucap Ara dalam hati.


Amel yang menyadari seperti ada benteng diantara keduanya langsung menepuk pundak Ara dengan perlahan, Ara pun terbangun dalam lamunannya.


"hei"


ucap Amel


"ya Amel, kenapa?"


jawab Ara


"kau yang kenapa? tumben sekali membaca novel seperti ini"


ucap Amel


"ah tak apa, ini hobi baruku.."


jawab Ara singkat

__ADS_1


Bian langsung menoleh ke arah belakang dan langsung melihat Ara yang sedang membaca novel nya


"tumben baca yang horor Ra?"


tanya Bian


"sudah kubilang ini hobi baruku, apa kau tidak mendengarnya tadi?


jawab Ara dengan jutek


Amel dan Ghina langsung tatap-tatapan, tak biasanya Ara bersikap seperti itu. sementara Ayu hanya diam melihat Bian .


Memang berat rasanya mencintai sahabat sendiri, apalagi mereka adalah 2 insan yang saling mencintai. tapi kalau belum di takdirkan untuk menjadi miliknya ya kita sebagai manusia bisa apa lagi selain menunggu keajaiban.


Hari berlalu namun mereka masih saja sama, bersikap dingin adalah jalan satu-satunya bagi Bian dan Ara . Tampak dengan sangat jelas keduanya saling merindu, tak dapat dipungkiri karena kebersamaan mereka sudah sangat lama .


Ara yang duduknya dibelakang Ayu dan Bian sesekali memandang Bian sambil berkata dalam hatinya 'curut, aku merindukanmu


Tak jauh beda dengan Bian yang sadar ketika Ara melhatnya, ia pun berbisik dalam hatinya 'berhentilah menyiksaku seperti ini kancil .


"kalian ini kenapa?"


bisik Amel pada Ara


"lebih baik begini , bukan?"


jawab Ara singkat.


"sampai kapan?"


tanya Amel lagi


"sampai kami terbiasa dengan ini semua"/


jawab Ara


Amel hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.


Tak berapa lama kemudian Bian mengirimkan pesan kepada Ara


📥 hei perjanjiannya kan jangan bersikap lebih padamu, tapi kenapa kau memusuhiku? jangan menyiksaku secara berlebihan Farasya .


Ara yang membaca pesannya itu pun langsung menggelengkan kepalanya namun ia tak membalas pesan dari Bian .


'baiklah mungkin aku yang berlebihan, tapi aku tak akan tinggal diam jika kau berlaku seperti dulu lagi Bian.


ucapnya dalam hati


Ara yang hari ini tidak membawa motor dikarenakan ban nya bocor lagi, terpaksa harus naik angkutan umum lagi. Ghina yang kebetulan tidak membawa kendaraan ternyata sudah mengajak Amel untuk pulang bareng.


'aduh bagaimana aku ini? malah ke simpang jauh banget, astaga...


Ara dikagetkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya


"hei kau kenapa?"


tanya ayu


"tak apa, pergilah kalian, hati-hati ya.."


jawab Ara yang melihat Ayu bersama Bian


"kau tidak membawa motor?*


tanya Bian


"hmm ya, motorku ban nya bocor lagi.. ya sudah aku deluan ya.."


jawab Ara


"tunggu, ikutlah dengan kami. setidaknya sampai simpang, kami juga akan menunggumu mendapatkan angkutan umum ."


ucap Bian


"iya Ara Ayuk ikut kami*


ucap Ayu sambil menarik tangan Ara


"oke oke baiklah.."


jawab Ara


Bian yang mendengarnya langsung tersenyum melihat Ara .


'mungkin aku tak bisa menjauhi mu Ara , tapi aku janji akan mengurangi kadarnya.

__ADS_1


__ADS_2