
Pasca sidang sempro Ara menjadi lebih semangat lagi dan jiwa periangnya kembali muncul pasalnya ia sudah tak memikirkan soal biayanya untuk kedepan.
Tak terasa kini Ara sudah masuk di semester 7 dan matkul yang ia jalani hanyalah 3 termasuk skripsi yang masih ia pikirkan apa judul nya nanti..
Tiba-tiba Oma ingin umroh bareng dengan kakaknya Oma yang sering dipanggil "Oma kembar" oleh Ara karena memang wajahnya sangatlah mirip.
Ara sangat senang mendengar kabar ini karena ia percaya kalau didoakan di Makkah insyaallah akan terkabul, ia langsung teringat dengan skripsinya yang entah bagaimana nanti nasibnya.
"Oma sayang... " goda Ara
Oma yang sedang membereskan pakaian nya itu langsung menoleh ke arah Ara "ya ada apa sayang?"
"mau Ara bantuin gak?" tawar Ara.
"boleh, ambil mukenah Oma ya di lemari sebelah sana !" titah Oma
Ara langsung pergi mengambil mukenah itu
"ini Oma... "
Oma tersenyum melihat cucunya yang pasti sedang ada maunya "ayo katakan cucu Oma mau apa?"
Ara tersipu malu karena ia emang tak bisa basa basi didepan Oma nya "hehehhehehe" .
Cengiran Ara membuat Oma tertawa "sudahlah nak jika tak ada yang ingin kau sampaikan sebaiknya kembalilah ke kamarmu.. "
Ara langsung melotot dan menggelengkan kepalanya "Oma Ara ada 1 permintaan dan itu simple "
Oma mengangguk "katakan..."
Ara duduk disebelah Oma "nanti jangan lupa doain Ara ya, doain skripsi Ara agar lancar sesuai ekspektasi Ara... "
Oma tersenyum "aamiin... nanti Oma doakan.. itu saja???" Oma mengelus rambut Ara
"sekalian, doain Ara dapat jodoh yang Sholeh dan punya iman agar kelak rumah tangga Ara tak seperti ibu dan ayah .."
ucap Ara sambil pergi karena ia malu dengan pernyataannya..
Oma menggelengkan kepalanya "dasar anak nakal....." gumam Omanya sambil tersenyum .
Keesokan harinya Ara mengantarkan Oma ke bandara bersama ibu dan adiknya.
Air mata Ara menetes karena akan berpisah dengan Oma nya walau hanya beberapa hari saja karena ia tak bisa jauh dengan Oma si pendengar curhatan nya.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa jam akhirnya rombongan dari grup Oma telah datang semua, Oma mulai berpamitan dengan Ara dan yang lainnya.
"Oma jangan lupa pesan Ara tadi malam ya"
sambil melihat punggung badan Oma yang mulai menjauh ..
Teriakan Ara membuat Oma nya menoleh dengan senyuman "pasti sayang"
****
Hari demi hari telah dilalui oleh Ara tanpa Oma, sedikit kehilangan karena Oma adalah orang yang selalu mendengarkan keluh kesah Ara selama ini.
Seperti biasa, Ara pergi ke kampus menaiki sepeda motor miliknya . sesampainya ia melihat ke empat sahabatnya sudah berada di dalam kelas namun Ara merasa ada kejanggalan disana.
Bagaimana tidak, suasananya hening seperti ditengah kuburan . "ada apa ini??" tanya Ara tapi tak ada satupun yang menjawab..
Ara menepuk tangan Amel yang kebetulan duduk disebelahnya "ada apa sih? kok hening?"
Amel membisikkan ke telinga Ara "Bian dan Ayu putus Ra sebelum kamu datang, bahkan didepan kami sendiri"
Ara shock mendengarnya "apaaaaa?"
Jeritan Ara membuat satu kelas melihatnya lalu mulutnya ditutup oleh Amel karena itu emang terlalu kencang "jangan berisik" ucap Amel.
"apa masalahnya? kenapa putus?" tanya Ara kebingungan.
Ara menepuk jidatnya 'astaga Bian, ada apa lagi ini?' batin Ara
Amel yang melihat Ara menepuk jidat "ada apa?"
tanya Amel tanpa suara yang kemudian di gelengkan oleh Ara .
Ara mengambil ponsel ia mengirim pesan pada Bian yang ada di depan matanya "kenapa kalian putus?"
Bian membalas "maafin aku Ra, Ayu tahu aku belum bisa mencintainya"
Ara shock membacanya tanpa ia sadari ia sudah mukul meja dan membuat sahabatnya menoleh ke arahnya 'shittt'
"eh kenapa pada liatin? aku kesenggol meja hehehe" ucap Ara dengan muka masamnya.
Amel tertawa geli melihat Ara karena ia tahu sebab Ara seperti itu "ayok kita bantu mereka biar baikan" bisik Ara dan Amel mengangguk.
Sehabis matkul selesai seperti biasa mereka akan beristirahat dulu dikelas sambil cerita-cerita tapi kali ini Bian memilih pergi karena ia tahu Ayu butuh waktu sendiri.
__ADS_1
Ara menghentikan langkah Bian yang berjalan keluar "tunggu..."
Bian melihat ke belakang dan menaikkan alis "ada apa Ra??"
Ara menghampiri dan menarik tangan Bian "duduk dulu sini"
"Tapi aku lagj ada urusan Ra" ucap Bian yang mencoba mengelak.
Ara melotot ke arah Bian tanda ia marah sedangkan Bian tak ada pilihan lain selain menuruti Ara yang matanya seperti ingin keluar.
"ayo duduk" ucap Ara kepada Bian sambil menunjuk ke arah kursi sebelah Ayu, sedangkan Ayu pasrah ia juga tak bisa pergi karena sudah di halangi oleh Amel dan Ghina.
"Aku dengar kalian putus ya?" tanya Ara sambil menatap Bian dan Ayu yang tidak menjawab pertanyaan Ara
"kalian jangan kekanakan deh, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. tapi gak gini caranya, sebelum kalian pacaran kalian juga temenan, jangan rusak pertemanan kalian ini hanya karena ego" sambung Ara
"Maaf Ra udah ngecewain, tapi aku gak bisa"
ucap Ayu..
Ara menggenggam tangan Ayu "ada apa? ayo cerita"
Ayu melirik ke arah Bian dengan tajam "aku gak bisa bareng dengan orang yang ternyata selama ini bohongin aku, aku tahu betul dia masih suka sama kamu Ra, aku juga ga akan nyalahin kamu karena itu bukan salah kamu Ra, bukan salah dia juga... aku saja yang kepedean sejak dulu"
Bian tak terima dengan ucapan Ayu "beb maafkan aku, kamu ini salah paham"
"beb? enyahkan panggilan itu sekarang" ucap Ayu .
Amel menggelengkan kepala nya "sudah, sekarang apa tak ada yang bisa di pertahankan?"
Ayu mengangguk sedangkan Bian hanya diam .
"oke kalau kalian mau putus sebagai pacar, tapi apa kalian juga mau putus sebagai teman?" tanya Ghina.
kembali lagi, Ayu dan Bian hanya diam.
"jawab dong guys, kalian itu teman kami" ucap Ara dengan memohon..
Bian lagi-lagi tak tega melihat Ara "enggak Ra, aku akan terus menjaga pertemanan kita semua"
Ara sedikit lega mendengar Bian "bagaimana dengan kamu yu?"
Ayu tersenyum masam, karena ia hanya terpaksa senyum "akan aku coba Ra.."
__ADS_1
Ara tersenyum bahagia mendengarnya walaupun ia tahu kedua sahabatnya ini hanya berpura-pura setuju sementara Ara yakin cepat atau lambat pasti akan baikan lagi seperti sedia kala.
~aku sadar selama ini hanya akulah yang berjuang. melepaskanmu adalah caraku berjuang juga, ya berjuang melihatmu bahagia~ ayu