
dddrrrdddd dddrrrddd
*ayah*
tumbennn?? ada apa ini?, batin Ara
"halo yah, assalamu'alaikum"
"waalaikumsalam nak"
"bagaimana persiapanmu menjelang wisuda?"
huh? pertanyaan mecem apa ini? persiapan apa yang dimaksud?? seperti mau ujian saja pakai persiapan, kok perasaanku jadi tidak enak ya. ucap Ara dalam hati.
"halo nak?? hei" ucap Ayah Ara lagi karena tidak mendapatkan respon dari anaknya.
"hmm ha-halo yah? hmm gimana tadi maksudnya? persiapan ya? oh itu... anu... persiapan apa maksudnya? " tanya Ara terbata-bata.
"iya maksudnya pakaianmu.. apa kau sudah membelinya??" tanya ayah Ara
"oh, apa ayah ingin membelikannya?" tanya Ara lagi penuh harap.
dan ternyata......
jrengg.......
"malah sebaliknya, ayah nungguin... kok bajunya belum sampai, eh ternyata belum dibeli ya?" jawab ayah Ara dengan polosnya dan tanpa dosa.
"WHAT?????" teriak Ara sampai seisi rumah mendengarnya
tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan, pastinya bukan dari ponsel, namun dari ibunya Ara yang menguping dari luar,
"ya nak, ibu juga kenapa belum dapat bajunya ya??"
"HAH??" teriak murka Ara
Ara diam seketika, ia tak menyangka dengan kenyataan ini, pahit ya pahit sekali bahkan kopi hitam itu sangat manis saat ini menurutnya.
__ADS_1
Bruuuukk..... dan
tittttt...
Ara menutup pintu kamarnya dengan sangat keras, juga menutup telponnya tanpa salam.
Didalam kamar,
Ara nangis sejadi-jadinya , meluapkan segala emosi di hatinya. bagaimana tidak??? posisinya adalah ia sebagai anak, dimana anak lainnya diperhatikan segalanya bahkan dari hal yang kecil sekali pun.
"ini sekarang yang menjadi anak itu aku atau mereka?? ya Tuhan ini kapan sih berakhirnya? kapan mereka akan sadar? kapan ya tuhan!!!!"
tiba-tiba pintu kamar Ara dipukul dari luar, tentu saja itu adalah ulah dari ibunya karena tidak terima atas perlakuan Ara barusan.
sedikit cerita,
Sebenarnya Ara sudah tahu kalau belakangan ini ibunya sedang coba-coba memakai S**u yang didapatnya dari pacar nya si preman lontong itu. beribu kali sudah Ara menasehati ibunya sampai bibirnya seperti ingin melepuh berbusa kaya keracunan. Tapi apalah daya, efek dari s**u nya itu sudah merajalela di otak ibunya. itulah yang membuat sikap ibu Ara tidak stabil, kadang baik dan kadang juga jahat . Saat ini Ara hanya beradu nasib dengan tuhan agar ibu nya akan sadar secepat mungkin.
pukkkk... pukkkk.... (suara pintu dipukul)
Makian sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Ara, ia jadi teringat beberapa hari yang lalu saat dimana Ara mau berangkat ke kampus untuk sidang skripsi.
flashback
Ara telah bersiap-siap untuk pergi ke kampus dengan stelan pakaian hitam putih. Hari yang sangat menegangkan baginya bahkan rasa nerveous itu muncul sejak ia bangun tidur tadi.
Ara pamit kepada Oma nya sambil meminta doa dari Oma Ara, juga kepada adiknya yang sekaligus ikut memberikan ia semangat.
Terakhir adalah ibu nya. ia berniat untuk menyalam ibunya itu dan meminta restu doa untuknya.
Saat Ara hendak mengeluarkan motornya tiba-tiba saja ibunya menyuruh Ara untuk mengantarnya ke pasar.
Kalau saja waktu itu masih ada waktu Ara akan mengantarkan ibunya tapi saat itu ia sedang terburu-buru karena waktunya sangat singkat, bagaimana tidak? ia akan sidang jam 9.30 sedangkan sekarang sudah jam 08.50, perjalanan kesana cukup jauh.
"Ara sudah terlambat, ibu sama Farhan saja ya" tolak Ara yang membuat telinga ibunya panas membara.
"apa katamu? hah? melawan saja kerjamu ya, kau lihat nanti kau tak akan jadi sarjana, kalaupun kau sarjana kau tak akan menjadi apa-apa. baru mau sidang aja udah sombong."
__ADS_1
Makian itu sangat menyayat hati Ara, bahkan ia tak bisa melupakannya sampai kapanpun. kecewa pastinya, disaat ia mengharapkan doa yang baik untuknya malah sang ibu mengutuknya detik itu juga.
Diperjalanan,
Ara tak henti-hentinya menangis, tapi ia positif thinking dengan Tuhannya, karena Ara tahu Tuhanlah yang maha mengatur atas apa yang akan menjadi nasib umatnya.
"salahku apa??"
"kenapa cobaan selalu datang tuhan? kenapa?"
"aku juga ingin bahagia, apa itu salah?
ya itulah yang ia ucapkan, ia tak perduli dengan banyaknya kendaraan yang melihatnya karena sesak dihatinya sudah tak dapat ia tahan lagi.
flash-on
"kenapa kau diam saja? buka?!!! "teriak ibunya
Ara tersadar dalam lamunannya seketika air matanya semakin menjadi keluar tanpa permisi .
Untunglah ada Oma yang melihat kejadian itu, "Raina!!! jangan teriak-teriak. kau yang salah kenapa kau yang marah-marah? huh? kau kira sudah hebat kali kau? ini rumahku!" ucap Oma nya
"mama bela saja cucu mama itu" jawab ibu Ara dengan ketus.
"kalau kau tidak suka, silahkan pergi dari rumah ini! dan ingat, kau itu ibunya , harus nya kau yang ngasih anakmu pakaian, bukan dia yang ngasih kalian. kau fikir dari mana dia dapat uang ? ha? punya otak kan? mikir!" sahut Oma nya ketus saat melihat ibu Ara pergi meninggalkan pintu kamar Ara.
ibu Ara berhenti sejenak saat mendengar Oma memarahinya lalu ia meninggalkan Oma sendirian.
tok..tok..tok...
"Ara, ini Oma nak"
ceklek...
"omaaaa" Ara memeluk omanya sambil menangis
"sudahlah nak, jangan menangis.. ada Oma disini" sahut omanya sambil mempererat pelukan tersebut.
__ADS_1