
Pihak kampus menghubungi melalui pesan
" kepada seluruh mahasiswa/i yang akan wisuda periode 1 maka harus datang ke kampus pasca sarjana untuk mengambil toga dan kartu undangan, terima kasih ."
Setelah menerima pesan tersebut Ara langsung bersiap untuk pergi ke kampus memakai baju berwarna coklat.
Sampailah Ara di kampus tercinta, ia langsung pergi menuju kantin karena sudah janjian dengan teman-temannya.
gedebuk...
"aduh" sambil memegang bahu nya
"maaf kak, maaf.. sakit ya" Bian menunduk karena ia mengaku salah sudah menabrak seseorang..
"Bian!!!! huh kau lagi kau lagi" ucap Ara
Bian langsung melihat ke sumber suara "astagaaa aku menabrakmu lagi ya? maaf Ra sakit ya? aku gak sengaja "
Ara menggelengkan kepalanya "gak apa-apa, lain kali hati-hati dong. ini bukan kali pertamanya loh kau menabrakku."
"ya baik lah, tapi jika dengan cara aku menabrakmu itu bisa menghancurkan tembok egoismu agar aku bisa masuk ke dalam hatimu aku akan rela menabrakmu setiap saat" goda Bian.
"apa katamu? berani sekali kau ini" Ara menepuk Bian dengan tas nya beberapa kali.
"ampun, ampun raaa.. aku bercanda.. hah kau ini, apa kau tak lihat semua orang sedang melihat kita"
'aduh nih couple berantam kok di kampus
'urusan rumah tangga bicarain dirumah aja kali bang
'gak malu ya dengan baju mereka yang couple tapi berantam
Yaaa begitulah kata-kata orang yang melihat mereka berantam, lalu mereka tersadar dengan kalimat couple .
"kau memakai baju coklat?" ucap Bian dan Ara barengan..
'ciyeee ...
'cuit cuit .. kata orang sekitar yang melihat mereka.
Ara menghentikan aksinya, lalu diam sejenak, begitu juga dengan Bian yang malu-malu tapi mau, iya mau di aamiinin malaikat agar mereka menjadi sepasang kekasih.
Ternyata diam-diam Ayu sedang memantau dari jauh dan menghampiri mereka "yuk ke kantin" ucap Ayu sedikit kesal.
"yu ini gak seperti yang kau lihat, sungguh.."
"tenang lah Ra, aku juga tak apa kok, bahkan aku baru sampai. emang ada apa?" ucap Ayu berbohong
"jadi kau tidak tahu apa yang terjadi tadi?" tanya Ara sementara Ayu menggelengkan kepalanya .
hah syukurlah, batin Ara
"Hem ayo kita ke kantin sekarang" Bian menarik tangan Ara dan Ayu barengan.
Sampai di kantin, Ghina dan Amel tertawa cekikikan karena melihat Bian yang menarik tangan Ayu dan Ara.
__ADS_1
"haduh tuan Bian terhormat, bisakah kau melepaskan tanganmu dari bidadari-bidadarimu?" goda Amel
Sementara Bian Ayu dan Ara saling melirik satu sama lain "Upsss sorry " ucap Bian melepaskan tangannya.
"sialan kau" ucap Ayu dan Ara .
"guys kira-kira ada berapa undangan nanti ya yang boleh kita ajak?"
"yang jelas adalah ketika yang lain membawa pasangan sedangkan kita hanya membawa orangtua"
"setuju" ucap mereka barengan, kecuali Ara .
Ara hanya diam tanpa kata.
Bian memperhatikan Ara yang hanya diam dari tadi "ada apa Ra?"
Ara menggelengkan kepala "berbahagia lah kalian karena bisa membawa orangtua kalian dengan mudahnya"
"apa ayah dan ibu mu tak ingin melihat kau wisuda Ra?"
"orang tua mana yang tak ingin anaknya wisuda?" tanya Ara balik .
"lalu masalahnya dimana Farasya?"
"kalian gak akan tau rasanya jadi anak brokenhome guys, semua serba salah. kalian tau kan magnet aja jika berlawanan tak akan bisa berdekatan apalagi manusia?"
"tapi aku yakin orangtua mu mau hadir saat kau wisuda Ara, semangat!!!"
*****
"astaga ngambil kartu antrian saja seperti ngambil sembako ya" ucap Ayu
"iya benar, dan kita harus sadar kalau saingan kita nantinya di dunia kerja juga sebanyak ini bahkan lebih" ucap Amel
"sudah, jangan berisik. jika kita banyak mengeluh maka kita akan semakin kelelahan. apa kalian tidak haus?" tanya Ara
"kalian haus? biar aku belikkan minum ya" tanya Bian
"apa kau sudah gila? jika kau keluar dari barisan maka kau harus mengantri lagi dibelakang, sudahlah menetap saja di barisan karena sebentar lagi giliran kita" ucap Amel.
Padahal Bian benar-benar ingin memberikan minum kepada mereka karena melihat Ara sudah sangat kelelahan di bawah terik matahari. Bian juga tak memikirkan nasibnya di barisan karena sebenarnya tanpa ia mengantri pun ia juga akan mendapatkan toga tersebut kapanpun, karena ia adalah anak dari salah satu pemilik kampus jadi ya wajar saja.
Setelah mengantri akhirnya mereka mendapatkan kursi duduk untuk menunggu panggilan .
"hah akhirnya duduk juga"
tak lama kemudian mereka dipanggil ke dalam untuk mengambil toga, jas nya dan kartu undangan. Bian Ayu Amel dan Ghina langsung keluar setelah mendapatkannya, kecuali Ara.
Ara dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan karena ternyata ia adalah salah satu dari cumlaude.
Awalnya Ara tidak tahu jika dia salah satu dari cumlaude
"Ara silahkan ke ruangan sebelah"
"loh kenapa Bu? apa saya melakukan kesalahan?" tanya Ara kaget karena melihat teman-temannya di jalur yang pas dengan yang ia hadapkan sekarang.
__ADS_1
"tidak ada kesalahan dan kau akan tahu nanti" ucap dosen tersebut.
"hmm baiklah" Ara masuk ke dalam ruangan
"cekrek"
pintu dibuka Ara dan ia melihat ada beberapa mahasiswa/i yang juga sedang menunggu giliran
"kita ngapai disini kak?" tanya Ara dengan mahasiswa yang berbeda jurusan dengannya.
"oh ini, katanya kita cumlaude jadi sedikit berbeda costumnya dengan yang lain kak" jelas nya
"apa? serius kak?" tanya Ara kembali.
"ya jika tak percaya tanya aja langsung" ucap nya.
Ara pun kembali duduk, ia masih tak percaya. perasaannya saat ini sedang bercampur aduk. ada senang, sedih karena ia tak menyangka akhirnya ia berada di titik ini .
Ya seperti yang ia dengar tadi bahwa Ara salah satu peserta cumlaude. Saat ini Ara memegang 3 kartu undangan pastinya satu undangan untuknya, tinggal lah 2 undangan lagi yang ia bingung untuk siapa.
Ara keluar ruangan, ia memegang 2 kartu undangan sepanjang jalan dengan wajah yang sangat lesu.
*yatuhan untuk siapa undangan ini , jika aku memberikan ke Ayah dan Ibu aku yakin banyak pihak yang tersakiti. jika aku memberikannya kepada Ibu dan Oma aku yakin Ayah akan sakit hati. Namun jika aku memberikannya kepada Ayah mana mungkin ayah tak mengajak istrinya dan itu akan membuat ibuku patah hati.
astaga bagaimana ini Tuhan...
tolong aku* ...
Melihat Ara yang seperti orang linglung membuat Bian dan yang lainnya terheran, Bian langsung menarik tangan Ara dan mengarahkannya untuk duduk .
"ada apa Ra?
Tanya Bian dan Ara menggelengkan kepalanya.
"terus kenapa kau dipanggil ke ruangan itu? apa ada masalah?"
"hmm tidak guys bahkan di ruangan itu aku sangat bahagia"
"serius? ada apa emang?"
"hmm penasaran ya"
"jangan nyagil dong Ara ih ngeselin banget"
"hahaha baik baik, jadi ceritanya aku tuh cumlaude"
Mendengar kalimat itu keluar dari bibirnya Ara membuat sahabatnya memeluknya kecuali Bian "selamat ya Ra, aku turut senang" ucap mereka.
"beruntung sekali kalian, dan aku harus meluk siapa" goda Bian
"noh ada tembok" ucap Ayu.
Lalu Ara diam kembali
"terus kenapa kau terlihat murung? apa ada masalah lain?"
__ADS_1
"ya aku bingung undangan ini untuk siapa"