
"ladieeesss pelankan suara kalian haduh, sakit telingaku" ucap Bian dengan mengeluskan telinganya.
"heran aku punya ladies cantik-cantik tapi suara melengking hobinya mukulin anak orang. siapa yang bakal mau sama kalian cobak arghhh!" kesal Bian.
"eh jangan salah, gini-gini satu diantara kami sudah pernah singgah di hatimu dan malah masih ada yang tinggal walau orangnya najis ya untuk tinggal" sindir Amel
jelllbbbb
Mendengar itu, Ghina langsung tawa terbahak-bahak "pffhhh hahahhaha sorry gaes walau dalam tapi itu fakta nhahahaha"
"ah ya sudah, kalian selesaikan aja sendiri masalah kalian, aku mau pulang aja. bhay" sahut Bian pura-pura marah.
"eh jangan dooong" kata mereka barengan
"bilang dulu, Bian yang ganteng dan baik hati tolong kami dong, gitu" pinta Bian asal
"dengan terpaksa, Bian yang ganteng dan baik hati tolong kami dong" ucap mereka
"oke oke oke no problem sayang hahahah" sahut Bian
"begini, gimana kalau tulisannya kalian typo aja pake stip ex? bagaimana? kan cuma sedikit tuh yang salah, ntar keringin nya di ruangan aja biar cepat kering kan adem tuh" lanjutnya lagi dengan memberi saran.
Seketika semua hening karena memikirkan ide gilanya Bian .
"heloow, apa disini cuma aku sendiri yang manusia???" tanya nya lagi.
seketika Ara menepuk pundaknya Bian "berisik ih."
"habisnya kalian gak ada respon sih" kesal Bian
"ya sudah kami ikutin saranmu, tapi apa kau yakin ini akan berhasil? maksudku apa kepala prodi tidak marah?" tanya Ara lagi memastikan
,.
Mendengar pernyataan itu Bian seketika langsung cekikikan, karena baginya Ara yang dikenalnya masih dan selalu polos sampai sampai yang begitu saja dipertanyakan.
"hahahha Ara, Ara... kalau ketahuan ya pasti kalian kena marah lah, tapi tenang.. selagi kalian menghapusnya dengan rapi pasti tidak ketahuan, percaya samaku" jawab Bian meyakinkan.
"astaga Bian, anak SD pun bakal tau kalau jawabanmu kaya gitu, heh!! tapi apa salahnya kita coba aja? gimana gaes? tanya Ghina dan membuat Ara Amel dan Ayu mengangguk.
Mereka pun sampai ke ruangan yang di tuju, dengan sangat hati-hati mereka pun memperbaiki yang salah.
"yappp! selesai...." ucap mereka barengan
lalu setelah itu kaum hawa tersebut berpandangan dan seketika......... "hahahhahaha"
tawa mereka pecah melihat ulah mereka sendiri.
"kalian kenapa?" tanya Bian yang masih heran melihat sahabatnya
"skripsi mana coba yang salah malah di tip ex?? kaya UTS aja pake tip ex hahahhah" ucap Ara
"benar itu, malah kita juga harus nunggu sampe kering lagi hahahha" sahut Ghina
__ADS_1
"dan yang lebih parahnya ini semua saran dari anak pemilik kampus pula lagi, ehmmm" sindir Amel
dan yang terakhir...
"kau harus tanggung jawab nanti Biii kalau kami ketahuan" ucap Ayu dengan pelan.
"ciyeee Ayu, tanggung jawab... hahaha" ucap mereka barengan..
wajah Ayu seketika merah merona "loh dimana salahku? kan bener tuh dia harus tanggung jawab"
"tuh bi, tanggung jawab" goda ghina
Bian tersenyum ke arah Ayu "baiklah Ayu aku akan tanggung jawab, memangnya kapan kita melakukan nya? heh?" goda Bian
"Bian!!!!!!!!!!" teriak Ayu
"awwww gak pake pekik juga kali " ucap Amel
"iya gaes aku akan tanggung jawab, dah kan? selesai masalah. huh ribet amat cewek ni" ketus Bian.
Beberapa jam kemudian skripsi itu sudah siap diantar ke perpustakaan, prodi, dan kampusnya.
Mereka semua bernafas legah termasuk Bian
"Biii kenapa kau kegirangan juga seperti kami?" tanya Ara tiba-tiba
"memangnya kenapa? apa aku tidak boleh bahagia juga??" tanya Bian kembali,
"bukan begitu maksudku, tapi kan skripsi mu belum siap? dan kau masih tenang-tenang saja, astaga kau tahu tidak kalau sidang kita itu besok? huh?" sahut Ara ketus.
"ya lah anak pemilik kampus, kami apalah kaleng bocor, bunyinya klenteng klenteng" ucap Ghina yang membuat semuanya terkekeh mendengarnya.
lalu suasana menjadi hening ketika Amel bertanya pada Bian "Bi apa kau tidak malu berteman dengan kami? kami ini kan kaleng bocor"
"kau saja kaleng bocor, aku sih ogah" kata Ara
"sama"
"hah sama"
"sialan lu pada" ucap Amel Karena melihat ketiga sahabatnya malah memojokkannya
"hahaha, kau ini ngomong apasih, yang kaya kan bokap ku, bukan aku. aku juga sama kaya kalian, ga punya apa-apa bahkan aku juga tidak sepintar Ara dan kau Mel, otakku juga sedikit minus mungkin karena itu makanya aku bisa berteman dengan kaleng bocor hahahaha" jawabnya yang bercanda tapi nyata.
"udah malam, pulang yuk" cetus Ayu yang membuat mereka menjadi sadar waktu.
****
ceklekkk...
pintu rumah Ara terbuka "assalamu'alaikum"
tiba-tiba Oma Ara pun keluar dari kamarnya "kenapa lama sekali pulang nya nak"
__ADS_1
Ara mencium tangan Oma nya "hmm iya Oma Ara tadi ngurus skripsi, lelah sekali"
Tak lama kemudian, ibu Ara pun keluar dari kamarnya "dari mana saja kau ini? gak lihat jam ya? huh?"
" dari kampus" jawab Ara singkat sambil pergi ke kamar
"berhenti! kau ini melawan saja ya, apa begini caramu bertingkah dengan orangtua?" tanya ibu Ara yang membuat langkahnya terhenti.
"apa? Ara tak salah dengar? sejak kapan menjadi peduli? dan lagi dimana letak melawannya? oh iya, apa ibu pernah mengajarkan Ara bagaimana bertingkah yang baik dengan orang tua? hmm satu lagi, Ara tidak seperti ibu ya yang sering keluyuran tengah malam gak jelas" ucap Ara lalu meninggalkan ibunya.
"araaaa!!!" teriak ibu Ara.
"diam!" ucap Oma tiba-tiba.
"kau tak berhak memarahi cucuku, apa pedulimu dengannya? hah? apa kau sekarang sadar kalau kau punya anak? "tanya Oma ketus
"sudahlah aku pergi saja" ucap ibu Ara
"kau memarahi anakmu pulang tapi kau pergi jam segini?" hei ibu mecem apa kau?" ucap Oma lalu meninggalkan ibu nya Ara.
Di dalam kamar Ara menangis sejadi-jadinya karena ia dan ibunya tak pernah akur, tapi ia sangat menyayangi ibunya.
Sejak ibu dan ayah Ara berpisah, ibunya berubah menjadi orang yang seperti tidak punya hati karena hatinya hanya diberikannya kepada pacarnya yang brandal itu.
sungguh malang nasib Ara karena di usianya saat ini harusnya ia memiliki ibu yang pengertian karena masa-masa remajanya perlu didampingi oleh ibunya, tapi ia tak pernah mendapatkan kasih sayang itu dari ibunya.
"yaallah, kenapa aku berbeda????? kenapa??!"
"kenapa aku memiliki orang tua hanya sebagai statusnya saja??? kenapa?"
"kenapa aku tak berhak bahagia??"
"kenapa yaallah???"
"aku juga butuh kasih sayang mereka, bukan malah begini"
"huuuuujhhhh" Ara menangis terisak-isak.
"bahkan kepercayaan saja sekarang aku tidak dapat lagi, astaga sebegitu mirisnya kah hidupku????"
"huuuuuuhhj"
"hapus air matamu!" celetuk Oma Ara yang berdiri didepan pintu kamarnya.
"omaaa!!!!!" Ara memeluk Oma nya.
"kau tidak perlu menangisi nya nak, air matamu itu sangat berharga, namun kau juga jangan membencinya" ucap Oma nya.
"Oma, apa sebenarnya kami adalah anak yang tidak diinginkan?" tanya Ara tiba-tiba
"husss sembarangan!" sahut Oma Ara.
"kenapa kau bertanya seperti itu? kalian adalah permata kami, kau ingat tidak kalau sewaktu kau kecil dulu kau sering sakit?" tanya omanya yang dianggukin oleh Ara
__ADS_1
"kau tidak tahu kan bagaimana peduli nya orangtuamu dulu? ya walaupun peran opa saat itu lebih banyak dari orangtuamu, tapi Oma bisa lihat kalau mereka sangat menyayangimu. kau itu kebanggaan mereka nak, betapa bodohnya mereka kalau sampai tidak menganggapmu, karena kau adalah berlian"