
Ara semakin terhanyut dengan perasaannya , Rayhan sangatlah sempurna baginya karena ia bisa memposisikan untuk menjadi imam yang baik menurutnya. Bagaimana mungkin? seorang ahli agama bisa humoris dan romantis baginya itu sangatlah langka.
Seperti biasa Rayhan menelpon Ara setelah pulang dari madrasahnya. Walaupun di tempat Rayhan sekarang masih jam 1 siang tapi di tempat Ara sudah lah sore namun perbedaan waktu tak menghalangkan komunikasi mereka.
"sayang, Abang mau cerita" ucap Ray
"ya? apa tuh?" tanya Ara yang masih terkekeh-kekeh karena sebelumnya mereka sedang bercanda.
"tadi kan, Abang jumpa sama ibu-ibu..."
"terus??"
"terus...kan.... emmm... nungguin ya"
"isss Ray!!!!! ngeselin banget"
"oke-oke " sambil cekikikan.
"dia nanya sama Abang" ucap nya lagi
"nanya apa ? kalau gak penting ga usah cerita deh " ketus Ara yang masih kesal.
"yakin gak mau dengar? ini menyangkut masa depan Abang, dan sekarang menyangkut adek juga!"
Ara tersenyum seketika namun ia kembali fokus mendengarkan cerita Rayhan.
"dia nanya apa Abang sudah punya pacar atau belum?"
jlebb ... hati Ara sedikit kecewa mendengarnya.
"terus Abang bilang apa?" tanya Ara
"Abang bilang aja Abang ga punya pacar"
gubrakk...
seketika air mata langsung turun dari wajah Ara , tentu saja Rayhan mengetahuinya karena mereka sedang video call.
"hei jangan nangis, Abang belum siap cerita" ucap Rayhan.
"gapapa kok bang, lagian hubungan mecem apa yang cuma ada melalui ponsel doang hahahha" ucap Ara dengan memaksakan diri untuk tertawa
"kamu belum dengar kelanjutannya loh yang" ucap Ray
"yaudah lanjutin" ucap Ara.
"jadi saat Abang bilang ga punya pacar ibu itu mengeluarkan beberapa foto ponakannya yang mau di kasihkannya ke Abang, tapi Abang langsung bilang : saya sudah punya istri di Indonesia, dan dia masih kuliah"
Ara cekikikan mendengarnya, benar saja moodnya dapat berubah-ubah dan itu karena Rayhan.
"Abang udah tau pasti dia mau jodohin Abang, makanya Abang kerjain kaya gitu"
"makasih sayang"
"makasih buat apa?"
"makasih udah jaga hatinya, agak lebay memang tapi Ara senang banget"
__ADS_1
"tunggu Abang pulang ya"
Ara langsung mengangguk "pasti, Abang"
tapi tiba-tiba wajah Ara langsung murung
"kenapa sayang? bukannya Abang udah nolak tawaran ibu-ibu tadi ya?"
"enggak sayang, bukan gitu.. gini bang, Ara minder dengan keluarga Abang. Ara itu fakir ilmu agama, sementara keluarga Abang? bahkan 1 juz saja Ara tidak khatam bang, hiks...hiks.."
"loh loh kok jadi nangis? hei dengarin Abang.. cinta tak mandang itu semua sayang, dan Abang sudah milih Ara untuk tempat Abang berlabuh. plis jangan nangis, karena itu buat hati Abang sakit"
"huh lebay, hiks..."
"loh kok masih nangis?"
"Abang, apa Ara boleh bertanya sesuatu?"
"katakan sayang"
"bolehkan berandai-andai? misal nih, ibu Abang tidak menyetujuinya dan bahkan berniat menjodohkan Abang dengan yang lain , gimana?"
deggggg!
"jangan ngomong gitu dong sayang, Abang jadi bingung nih"
"Abang gak mau pertahankan hubungan kita kan?"
"Abang menyayangi ibu Abang, tapi ketahuilah hati Abang sepenuhnya sudah untuk Ara"
"apalah daya hati jika tak dapat restu? ah ya sudahlah sayang, Ara sudah tahu jawabannya apa sekarang".
Kata orang kita jangan terlalu senang karena nantinya akan sangat kecewa. Benar saja karena sepanjang malam Ara selalu memikirkan hubungan nya ini dengan Ray.
Ara ingin nantinya ia bisa menjadi istri dari Ray tapi Ray sampai detik ini pun masih belum memberitahu kan hubungannya dengan keluarga Ray terutama Ibu yang sangat ia cintai.
Ray pernah bilang "restu dari ibu sangatlah penting baginya" itu membuat Ara selalu memikirkan apa ibunya akan menyukai nya karena dari penampilan saja ia tak layak menjadi istri calon ustadz.
Perlahan Ara mulai mengubah penampilannya dengan sangat sopan namun tentu saja ia belum siap untuk memakai cadar .
Selain karena orang tuanya yang memang bukan dari ahli agama , pertanggung jawaban Makai cadar sangatlah besar baginya. walaupun begitu progress dari Ara sangatlah di acungkan jempol oleh Rayhan .
Suatu malam Ara sudah tak tahan lagi dengan perasaannya "sayang, apa Abang masih belum menceritakan hubungan kita ini dengan orangtua Abang?"
"belum tapi Abang sudah pernah singgung kok"
"bilang apa?"
"kalau Abang punya pacar itu gimana, terus kata orang tua Abang sebaiknya jangan karena pendidikan sangatlah penting"
"trus seandainya ingin menikah bagaimana?"
"orang tua Abang memilih untuk menjodohkan Abang, tapi Abang gak mau itu"
"benarkan yang Ara duga kemarin" lirih Ara
Air mata turun begitu saja dari pipi Ara , ia memang meminta Rayhan untuk selalu jujur pada nya walau itu pahit..
__ADS_1
,"sayang jangan nangis!!!" ucap Ray
"kalau begitu turuti saja keinginan mereka, bukankah syurga di bawah telapak kaki ibu?"
"apa maksud kamu sayang? sudahlah jangan dipikirin"
"lebih baik dipikirkan sekarang daripada nanti, Ara gak mau rasa ini semakin dalam jika kelak kita takkan bisa bersama "
"kamu mau kita putus?"
Ara mengangguk "lebih cepat lebih baik"
"tapi Abang gak bisa"
"semoga Abang bahagia selalu, Ara tahu kita saling mencintai dan melupakan itu gak mudah. sama seperti makan nasi, kita tak akan bisa berhenti makan nasi namun kita bisa mengurangi takaran nya. Abang akan selalu ada dihati, terimakasih sudah menjadi teman yang baik."
Ara langsung mematikan ponselnya. kali ini ia benar-benar patah hati, ia baru sadar apa yang Bian katakan dulu itu benar adanya.
Tak seperti biasanya, Ara datang ke kampus dengan wajah yang masam karena ia sudah tak bersemangat lagi bahkan ia malu untuk bertemu dengan Bian .
Tapi lagi-lagi Bian tak akan membiarkan Ara bersedih terlalu larut.
Bian menarik tangan Ara ke taman kampusnya "awww sakit!!"
Bian melepaskan tangannya yang ia tak sadar jika genggaman nya terlalu kuat "maaf, ayo duduk"
Ara menuruti Bian "kau ini kenapa?" tanya Ara
"kau yang kenapa, wajahmu kusut sekali hari ini"
"enak saja kau pikir aku kain setrikaan"
"ada masalah apa Ra? ayo cerita "
"aku tak apa"
"kau bohong!"
"baiklah aku putus dengan Ray!" Ara menunduk
"****!!! sialan tu anak berani-beraninya.."
"sudah sudah, kau ini apa-apaan, ini bukan salahnya tapi salahku"
"tetap saja dia sudah menyakitimu"
"sudahlah bi, aku yang tak ingin meneruskannya."
Ara langsung menceritakan sedetail mungkin, Bian mengangguk pertanda ia setuju dan mengerti.
"maafkan aku Ara, ini semua karena aku"
"dimana salah mu?" tanya Ara heran
"karena aku yang sudah menyadarkanmu atas ketololanmu" goda Bian
"sial lu, jangan ngomong lagi atau kau akan kutonjok" ucap Ara .
__ADS_1
Tapi setelah itu Ara mulai baikan, dan lagi-lagi semua karena Bian.