
"aku pulaaaangggg!!!" teriak Ara sambil meletakkan belanjaan ke sofa.
"memangnya kau darimana kak? kenapa belanjaanmu banyak sekali? wahhh apa ini?? untukku ada tidak??" tanya Farhan sambil memeriksa bungkusan paper bag itu.
Melihat tingkah adiknya itu Ara menggelengkan kepalanya "astaga Farhan apa yang kau lakukan? ini belanjaan untuk ibu sama ayah, aku yang wisuda mereka yang baju baru, hebat gak tuuuuuu"
"apa kau bilang? huh bodoh sekali kau ini! bagus untukku, adikmu seorang." umpat Farhan yang kesal mendengarnya.
"dan lebih bagus lagi uangnya kusimpan saja, tak perlu menghambur-hamburkan uang seperti ini, huh kau ini malah membuatku semakin kesal saja" ketus Ara sambil pergi ke kamarnya.
Ara terpaksa membelikan kedua orangtuanya pakaian karena itu permintaan mereka. Ara sadar seberapa kesalnya dia dengan orangtuanya tetap saja mereka adalah ayah dan ibunya.
mungkin ini sudah menjadi jalan takdirnya, namun Tuhan juga tidak tidur dan pasti sudah menyiapkan kebahagiaan untuknya nanti, dan Ara hanya perlu bersabar saja menunggunya.
Malam harinya Ara menonton tv dengan Oma dan adiknya, tiba-tiba ibunya pulang dan melihat paperbag yang berada di sofa tamu.
"wah apa ini" ucap ibu Ara.
"dimana-mana tu orang kalau masuk itu assalamu'alaikum bukan nanyakin belanjaan, huh sia-sia yang ku ajarkan dulu padahal bersusah payah aku mengajarkan anak-anakku tentang adab" sindir Oma Ara dari kejauhan.
"ah mama, kenapa hal kecil saja dibesarin sih?" sahut ibu Ara, kemudian ia buka paperbag satu per satu.
"Ara gamisnya cantik, ini punya siapa?" teriak ibunya.
"lihatlah Oma, sekarang malah teriak-teriak" bisik Farhan.
Ara yang mendengarnya langsung menepuk adiknya "hei kau ini seperti kompor letap letop "
"Ara kenapa tidak menjawab???" teriak ibunya sekali lagi.
"untuk ibu" jawab Ara singkat.
lalu ibu mengambil paperbag nya dan membawanya masuk ke kamar, dan kamarnya sebelahan dengan ruang tv, otomatis saat berjalan itu melewati mereka yang sedang nonton tv .
Ara melirik sekilas "apa ibu menyukainya?" tanya Ara yang menghentikan langkah ibunya.
"hmm ya" jawab singkat
__ADS_1
"kalau begitu pakailah besok saat aku wisuda" sahut Ara dengan mata masih menonton tv.
ibunya pergi begitu saja, membuat kekesalan ara semakin bertambah, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa, Ara hanya bisa mengepalkan tangannya yang tidak bersalah.
"huhhhh sabarrrrrr!!!" sambil membuang nafas yang begitu panjang.
Oma tau apa yang dirasakan cucunya sampai membuatnya iba "nak, percayalah... surga selalu terbuka untuk anak yang bersabar"
tak lama kemudian,
drrrrdddd dddrrrdddd
*ayah*
"pucuk dicinta ulam pun tiba, kau lihat ini Farhan, setelah ibumu membuatku kesal, kini giliran ayahmu sekarang, astaga ga ada habisnya ya huh!!" umpat kesal Ara sementara Farhan tertawa melihat kakaknya itu..
"sabar kak, surga untukmu hahahhaha" ledek Farhan.
"kau!!!" teriak Ara
"sudah, sebaiknya kau angkat saja telpon ayahmu, dan kau Farhan berhentilah meledeknya" teriak Oma sambil memegang memegang telinganya..
"halo ayah, apa carik?" ucap Ara ngasal
"hahaha kenapa nak? tampaknya kau kesal sekali" sahut ayah dari telpon
"langsung aja to the point, Ara lagi capek"
"hmm baiklah, apakah persiapanmu sudah 100%?"
"epekeh persepenme sedeh seretes persen?" ejek Ara lagi.
tiba-tiba Farhan berguling-guling didepan kakaknya sambil tertawa "pffffttttt hahahahahhahah kau lucu sekali kak hahaha "
"diamlah Farhan atau kau ku bunuh hidup-hidup, mau?"
"aaaa tidak takutttt, ehhh salah, takuuut" sambil berlari ke kamarnya.
__ADS_1
lalu Ara melanjutkan telepon nya bersama ayahnya
" halo ayah! apa kau masih disana?"
"iya nak",
"oke, Ara ngerti maksud pembicaraan ayah apa, tadi Ara sudah belikan ayah baju, tapi tidak dengan sepatu ya... kalau ayah tidak punya sepatu silahkan pakai swallow saja, dan jika tak punya juga ya sudah nyeker juga gapapa"
"ya gak pake ngegas juga kali nak hahahha"
"habisnya aku punya orangtua yang tanggungjawabnya hilang ditelan angin, dah ah aku cape mau bobo, bye ayah.. sampai jumpa besok."
tuuuuuuttt...
Ara langsung mematikan ponselnya tanpa salam, begitu kesalnya ia dengan ayahnya itu.
"nak, kau tak boleh begitu" tegur Oma yang berada disebelah Ara.
"maaf Oma tapi Ara lelah dengan drama ini" jawab Ara lesu.
"ya sudah kau beristirahatlah..." pinta Oma nya
Ara langsung menuju ke kamarnya, ia melemparkan tubuhnya ke kasur sambil mengucapkan "good night" dengan dirinya sendiri.
tak lama kemudian ia tertidur dengan pulas.
**hai hai kakaa kakaaaa,
author mohon maaf ya update nya cuma sedikit, karena berhubung author sebagai ibu rumah tangga yang mana sang anak lagi aktif-aktifnya.
jadi author susah sekali untuk update.
ohiya, author juga lagi nulis kisah cinta ibu dan ayahnya Ara sebelum bercerai bagaimana sampai dengan akhirnya memilih jalannya masing-masing .
Judul karya nya adalah "kau mendua"
mampir juga ya hehehe karena perjuangan Ara menuju wisuda tinggal satu episode lagi, dan setelahnya end.
__ADS_1
terimakasih semua, salam damai dari author @yuthikasrh (Ig**)