
Sesampai di kampus Ara berlari menuju lantai paling atas dengan menaiki tangga sampai ke lantai lima.
Nafas Ara sudah tak beraturan, ia sangat lelah karena sedari tadi ia berlari seperti dikejar anjing padahal anjingnya tidak ada.
"hei Ara? kenapa kau berlari?" teriak Ghina yang melihat sahabatnya berlari sambil melambaikan tangan nya.
"haduh hah huh..." ucap Ara begitu sampai di depan Ghina sambil ngos-ngosan .
Ghina memberikan minuman yang ada di sebelahnya "ini minumlah"
Setelah Ara meminumnya ia langsung duduk di sebelah Ghina "huhhhh syukurlah aku tak telat" ucapnya
"gak telat gundulmu, apa kau tak lihat disana? banyak sekali yang mengantri"
lalu Ara kaget setelah melihat ke ruangan yang di tunjuk oleh Ghina "astaga , really? kenapa ramai sekali" ucap Ara sambil menepuk jidatnya.
"teruslah kau tepuk jidatmu itu yang tidak bersalah ckckckkc" ledek Ghina .
"ngomong-ngomong kemana yang lain?" tanya Ara sambil melihat ke kiri dan kanan
"Bian tadi pergi sama orang Doni, tapi kalau Amel dan Ayu aku juga ga tahu kemana" jawab jujur Ghina.
Tak lama kemudian, Mereka pun berhasil mendapatkan tanda tangan dari kepala prodi nya, tanpa menunggu lama mereka langsung saja menjadikan kertas itu seperti buku dan di rangkap menjadi 4 buah.
Akhirnya, setelah menunggu lama yang memakan waktu hampir setengah hari, skripsi tersebut sudah di bukukan..
Ara dan Ghina mengambil buku tersebut.
"huaahh lega aku" ucap Ara
__ADS_1
"sama dong, akhirnya ya Ra , lulus juga kita" ucap Ghina.
lalu mereka memutuskan untuk pergi ke kantin karena perut sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.
"Ara, Ghina" tiba-tiba seseorang memanggil mereka dengan melambaikan tangan nya.
Ara dan Ghina mencari sumber suara dan ternyata Bian sudah berada di kantin
"darimana kalian?" tanya Bian yang melihat Ara dan Ghina menghampiri nya.
"kamu gak lihat apa yang kami pegang ? Hem? ucap Ara ketus...
"widiiiiiihhhh keren euyyyyy, udah deluan ternyata" ucap Bian dengan polosnya
"what? kau belum buat ya bi? astaga jadi ngapain kau kekampus ini? " tanya Ghina heran.
"biasa , kau seperti tidak tahu Bian saja, tentunya dia disini untuk melirik cewek-cewek yang bening hahhaha" ledek Ara
"kau jangan meledekku lah Ara sayang, kau kan tahu hanya kau seorang yang kucinta" ucap Bian yang terkesan melucu tapi ia sedang jujur
"berhentilah bicara yang tidak penting Bian" ucap Ara ketus.
****
Saat mereka hendak menyerahkan buku tersebut tiba-tiba saja tampak dari arah yang berlawanan ada Ayu dan Amel yang baru saja datang namun sudah memegang skripsi yang sudah dibuku kan.
Ghina langsung mendekati Ara sambil berbicara pelan agar tak ada yang mendengar terlebih lagi Bian yang ada di sebelah Ara .
"lihatlah, bahkan mereka juga sudah memegang buku itu, padahal kita sudah menunggu nya sejak pagi"
Ara memberikan isyarat agar Ghina berhenti untuk bicara.
__ADS_1
"permisi bu, boleh minta tanda tangan?" tanya Ara sopan
ibu kepala prodi melihat lagi ke arah nama yang harus ia tanda tangani lalu ia melotot ke arah tulisan itu.
jleb...
jantung Ara berdegup kencang karena jika ia melakukan kesalahan lagi itu akan menjadi masalah buatnya karena untuk mencetak buku tersebut sangat mahal baginya.
"kamu tahu salah kamu dimana Farasya?" tanya ibu itu yang terkenal killer
Ara menggeleng kan kepalanya "tidak Bu"
"kamu lihat ini! kenapa nama saya panjang sekali?"
lah nih dosen ngapa ya!? dia yang punya nama kenapa dia yang sebel dengan namanya? gumam Ara
"Dr. Sabrina Dwi Puspita P. S.E.,M.Si" ucap Ara
"maaf Bu sebelumnya apa ada yang salah ya Bu?" lanjut Ara lagi dengan nada lembut.
"Farasya, tidak semua orang tergila-gila dengan gelarnya, saya belajar sampai S3 bukan untuk disanjung-sanjung dengan gelar saya, jadi saya minta kamu untuk nge revisi lagi nama saya, hapus saja S.E nya, mengerti??" ucap ibu tersebut.
seketika Ara lemas dengan perkataan
kepala prodi itu, ingin marah tapi lucu, ingin ketawa tapi juga kesal.
Ara memberikan senyum kecutnya kepada dosen tersebut "baiklah Bu, akan saya perbaiki, permisi.."
"hei tunggu...." ucap ibu dosen tersebut dan seketika Ara memberhentikan langkahnya.
"iya Bu?" jawab Ara dengan membalikkan badannya.
__ADS_1
"tak perlu di cetak lagi, cukup di hapus saja, sayang dong duit nya padahal yang dihapus hanya sedikit, pikirin ya maksud dari saya ini. ya sudah kamu boleh pergi sekarang" ucap dosen tersebut yang membuat Ara memutar otaknya untuk berfikir.
Lalu ia pun kembali keluar ruangan kepala prodinya dengan wajah yang masih mikir.