
Tak terasa mereka sudah semester 6 kini Ara memutuskan untuk fokus kuliah karena di semester ini mulai ada sidang sempro yang ingin diikutinya agar di semester selanjutnya sudah fokus ke skripsi .
Lidahnya sangat kaku ketika berjumpa dengan Pak Ali pemilik toko, ia tak mampu mengutarakan nya karena bagi Ara pak Ali sangatlah baik sebagai bos, tak semua bos memperbolehkan karyawannya untuk kuliah sambil bekerja di tempat nya..
Akhirnya di sore hari ia memberanikan diri untuk bicara dengan pak Ali yang sibuk menghitung pendapatan.
"pak lagi sibuk ya?"
ucap Ara yang menghampiri pak Ali
"tidak terlalu, ada apa?"
tanya pak Ali menatap Ara sekilas
Ara mendudukkan kepalanya
"ada yang mau saya omongin pak.."
"silahkan.."
ucap pak Ali sambil memberhentikan kegiatannya
"sebelumnya saya minta maaf pak, saya mau berhenti.. karena ingin fokus kuliah di semester atas ini pak.."
ucap Ara lirih yang membuat pak Ali tersenyum iba
"baiklah tak apa, semoga cepat lulus dengan nilai yang memuaskan ya.." ucap pak Ali
"aamiin.. terimakasih banyak pak.."
ucap Ara
"iya sama-sama.."
jelas pak Ali
Setelah ini Ara akan kembali menjadi mahasiswa seutuhnya karena ia tak lagi membagi waktunya dengan bekerja . Sangat disayangkan memang jika ia tak meneruskan pekerjaannya karena pasti akan banyak biaya yang harus Ara keluarkan nanti sampai ia tamat apalagi ia akan membuat skripsi yang entah berapa ribu kalinya ia harus revisi .
Setelah itu Ara kembali ke rumah dan ia langsung duduk dan termenung. tentu saja itu membuat sekitarnya menjadi bingung karena yang mereka tahu Ara si periang yang selalu tersenyum .
"Ara sayang, ada apa nak?"
tanya Oma dengan menghampiri Ara
Ara langsung menoleh ke sumber suara dan ia langsung tersenyum sambil memeluk Omanya
"Omaaaa" lirihnya.
"ada apa? cerita sama Oma.." sahut Oma
"tak apa Oma, Ara hanya kelelahan saja .."
ucapnya yang tak ingin membuat Oma nya kepikiran
"benarkah? tapi Oma kok merasa ada bau-bau kebohongan ya.. " goda Omanya sambil tersenyum
"hmm baiklah.. Ara baru saja resign Oma karena sebentar lagi mau sidang sempro dan bakal disusun dengan sidang-sidang lainnya.."
jelas Ara
"bagus dong kalau gitu, trus apa yang kamu pikirkan lagi?"
tanya Oma nya yang masih belum paham
"Oma akankah Ara lulus dengan keuangan Ara yang seadanya?"
tanya Ara dengan lirih membuat Omanya langsung terdiam .
__ADS_1
Ara melepas pelukan Oma nya dan meyakinkannya
"tapi tenang aja Oma, Ara bisa atur nanti.."
lanjut Ara.
"nak, bicaralah dengan ayahmu. kau tak boleh membiarkan ia lupa dengan tanggung jawabnya."
jelas Oma nya.
"tapi Ara bingung Oma.. " ucap Ara
"apa yang kau bingungkan?"
tanya Oma nya yang sifat bingung Ara malah menjadi nular.
"orangtua Ara masih lengkap, tapi kenapa tak ada yang peduli dengan Ara satu pun?"
tanya Ara yang berhasil membuat air mata Omanya menetes
"hei, kenapa Oma menangis?"
tanya Ara sambil menghapus air mata Omanya .
"kau anak yang hebat sayang, Allah SWT tak akan menguji hambanya di luar dari kemampuannya. Allah tau kalau kau pasti mampu dan kaulah orang yang tepat ."
jelas Oma nya yang membuat Ara mengangguk
"yaudah kau istirahat lah sayang, Oma tinggal dulu ya..."
ucap Omanya yang berusaha pergi..
"omaaa..."
jerit Ara yang melihat punggung Omanya mulai menjauh
"sarangheeee"
ucap Ara sambil senyum dengan membuat bentuk love di jarinya.
"gadis nakal"
balas Oma nya dengan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya Ara terlalu gegabah dengan keputusannya karena ia memutuskan untuk berhenti kerja tanpa memikirkan batu loncatan selanjutnya untuk menghidupkannya sampai ia sidang skripsi nanti .
Jelas aja itu yang membuatnya menjadi orang bodoh yang hanya diam di kamarnya .
Ara memutuskan untuk menelpon ayahnya setelah beberapa bulan ia tak pernah meminta uang pada
📱📲
"ayah, apa kau sibuk?"
"tidak, ada apa?"
"ayah sebenarnya Ara sudah tidak kerja lagi"
"kenapa nak?"
"berhentilah bertanya, karena bukan itu sekarang masalahnya"
Jelas aja pernyataan Ara membuat ayahnya menjadi bingung
"lalu?"
"apa ayah tidak memikirkan nasib Ara sekarang? ayah, Ara tidak punya uang untuk melanjutkan kuliah Ara ."
__ADS_1
"tapi nak untuk sekarang ini ayah juga tidak punya banyak uang.."
"bisakah sedikit saja ayah memikirkan ku?"
"bukan begitu maksudnya nak tapi uang Ara kan banyak"
"bisa-bisanya ayah bicara seperti itu sementara ayah tak memberikan Ara uang"
"jangan bohong, ayah tau Ara sering menyimpan uang. tolonglah nak"
"harusnya Ara yang minta tolong ayah.. uang yang Ara tabung sudah habis karena pengeluaran Ara sangatlah banyak sementara pemasukan nya nihil dan itu gak balance sama sekali."
"tapi ayah sedang tidak punya uang nak"
"ya sudahlah ayah urus saja keluarga ayah sendiri, anggap aja Ara tak pernah lahir."
Ara langsung mematikan teleponnya dengan tangisan yang masih tersedu-sedu ia sangat kecewa dengan ayahnya yang berani sekali menyakiti hati nya.
sekarang aku harus bagaimana Tuhan
ucap Ara sambil menangis .
Melihat anaknya menangis ibu Ara langsung menghampirinya "hei kamu kenapa nak?"
Ara tak menjawabnya sama sekali karena ia tau bahwa ibunya tak akan mungkin membantu nya.
"sayang jawablah nak ". ucap ibunya kembali berhasil membuat Ara melirik nya.
"Ibu, Ara sudah memutuskan untuk berhenti kerja"
"kenapa nak?"
"karena ini sangat sulit ibu, Ara tak mungkin bisa fokus belajar disemester ini jika Ara tetap kerja ."
"lalu, apa yang membuatmu menjadi menangis seperti ini?"
"Ara bingung kedepannya bagaimana ibu"
"apa maksudmu? kau punya ayah nak"
"dan aku juga punya ibu"
"tapi kan kau tahu kondisi ibu mu ini "
"dan ayah tak memperdulikan aku.."
"berani sekali dia, cobalah kau telpon terus setiap hari. jangan biarkan dia tidur nyenyak"
Ara kembali kesal mendengar ucapan ibunya, ia pun menutup telinga nya.
"kenapa kau menutup telingamu? apa kau tidak mau mendengar ibu? " tanya ibunya yang membuat Ara menggelengkan kepala nya
"lelaki breng*ek itu harus memikirkan mu, enak sekali dia bisa hidup nyaman dengan menelantarkanmu seperti itu. Ara kau harus meminta hak mu..." sambung ibu Ara lagi.
Ara kembali diam ia hanya tak ingin ribut dengan ibunya
"Ara kau jangan diam saja nak"
sepertinya amarah Ara tak dapat ditahan lagi
"stoppppp!!! berhentilah memaki ayah bu"
ibunya melotot ke arah Ara "sial, apa kau bilang?"
"janganlah ibu sibuk dengan kesalahan ayah.. coba ibu merenung, apa ibu ada sedikitpun memikirkan aku?" apa ada sepeserpun uang yang ibu dapat itu ibu berikan padaku? tidak ibu! jadi berhentilah membuat kepalaku seperti ingin pecah."
Ara meninggalkan ibunya tentu dengan tangisan dan perasaan yang semakin kacau . tapi mau gimana lagi karena apa yang dikatakan Ara itu sangatlah benar adanya.
__ADS_1