Berhak Sarjana

Berhak Sarjana
part 5


__ADS_3

Tak terasa kini ia sudah memasuki semester 4 , tugas demi tugas semakin banyak, baik itu tugas per orang maupun tugas kelompok . hal ini membuat Ara jarang sekali menemani Aulia di kios. Ara merasa tidak enak dengan Aulia , belum lagi ternyata Icut pun juga sibuk dengan kampusnya.


Akhirnya dengan sangat berat hati Ara , Icut dan Aulia memutuskan untuk tidak melanjutkan usaha itu lagi walaupun sebenarnya sangat disayangkan, bukan karena jualannya namun kebersamaannya lah yang terpenting bagi mereka.


Bakal tidak ada lagi main Uno di kios , hujan-hujanan saat pulang, dan banyak lagi yang akan tinggal kenangan nantinya.


Tanpa disadari air mata pun menetes dari mereka, tapi mereka juga tak mau egois, sibuknya mereka dengan aktivitas nya pasti membuat yang lainnya terganggu dan kecewa. mereka tak ingin hanya karena itu persahabatan mereka menjadi pecah.


"aku mau kita sering-sering ngumpul ya"


ucap Ara sambil memegang tangan Aulia dan Icut


"pasti, aku bakal rindu banget sama kebersamaan kita ini huuu"


lanjut Aulia sambil menghapus air matanya.


"hei apa yang kalian lakukan? sudahla jangan menangis"


ucap Icut .


*****


Mulai hari ini hari-harinya tak sama dengan hari-hari sebelumnya. Ara harus lebih berhemat lagi dengan sisa uang yang ia punya.


'aku kudu piye


Tampak dengan sangat jelas saat ia pulang, adiknya menghampirinya, Farhan tak tahu jika kakaknya sudah tidak punya penghasilan lagi.


"kakaaaaak.." sapa Farhan sambil memeluk kakaknya


"sudah , jangan berlebihan. ada yang ingin kakak bicarakan..


jawab Ara dengan nada datar..


"kenapa kak?"


tanya Farhan


"hmm begini, aku minta maaf karena mulai hari ini gak bisa ngasih lu duit


jawab Ara


'kenapa kak? apa kau marah karena aku selalu bergantung padamu?"


tanya Farhan


"hei, bukan begitu..mulai sekarang kakak udah gak jualan lagi, tolong dimengerti ya.."


jawab Ara sambil masuk kekamar.


"tapi...."


ucap Farhan , namun ia memberhentikan ucapannya ketika tau kakaknya sangat lelah saat itu...


Oma Ara pun langsung mendatangi Farhan dan menepuk pundak nya


"sudah lah nak, kakakmu capek kuliah sambil jualan, kau juga sudah besar, berpikirlah kedepan."


****


Keesokan harinya , seperti biasa Ara pergi ke kampus. namun ia tak seperti biasanya yang selalu membawa baju salinan di paper bag.


"pagi cuyung-cuyung"


sapa Ara


"pagi beyb. wahhh tumben nih, biasanya bawa paper bag ?


tanya Ghina .


"aku udah gak jualan lagi, kalian tau sendiri lah tugas kita banyak banget kan?


jawab Ara dengan bohong


"terus bagaimana kuliahmu ?"


tanya Ayu


"kenapa kalian jadi interogasi aku kaya gini sih? santai guys..."


jawab Ara sambil tertawa kecil


"ehemmm.."


Bian berdehem untuk mengalihkan pembicaraan..


"Ayu, lihatlah Bian memanggilmu"


goda Ara yang mengerti niat baik Bian .


'sialan, gue nolong dia eh malah dia jebak gue, awas lu Ara!!! (ucap Bian dalam hatinya)


"aku???"

__ADS_1


tanya Ayu dengan wajah polosnya


"coba aja kau lirik ke belakang"


sahut Amel sambil senyum


Bian yang di serang oleh para ladies wajahnya langsung memerah, entah apa yang akan dikatakannya karena ia emang tidak memanggil Ayu.


"emmh.. iya.. yu... emm nanti... emm... apa ya.." sambil menggaruk daun telinganya.


"gak pake salah tingkah juga kali Bi..."


goda Ara dan diikuti tawa oleh Ghina dan Amel..


Ayu yang jantungnya mulai tak karuan pergi keluar..


"aku ke toilet dulu ya..."


*di toilet


Ayu mencuci mukanya, setelah itu menutup mukanya sambil bilang "huh untung saja aku keluar". kemudian memakai bedak dan lipstick nya kembali. ia sengaja berlama-lama di dalam toilet, karena jika ia kembali entah apalagi yang akan terjadi .


* didalam kelas


Bian mengerutkan alisnya, ia seperti ngambek dengan Ara namun ia berusaha menutupinya.


Amel yang melihat tingkah Bian langsung menepuk tangan Bian


"Bi, lihatlah.. ia sangat menyukai mu.. apa kau tak merasakannya?"


Bian langsung menundukkan kepalanya, ia sangat malu diperlakukan seperti ini


'awas kamu Ra


belum sempat Bian menjawab, Ayu tiba-tiba masuk ke dalam, Bian langsung menyenggol tangan Amel , Amel pun mengerti maksud dari Bian , kemudian ia langsung diam .


***


selesai kuliah Ara mengambil ponselnya untuk menelpon ayahnya, tak bisa dipungkiri kalau ia masih butuh ayahnya walaupun ia kesal dengan beliau.


"assalamu'alaikum ayah"


ucap Ara dengan lembut


"waalaikumsalam nak"


jawab ayahnya


tanya Ara


"boleh nak, tapi cuma 200ribu . tak apa ya?"


jawab ayahnya


'apa? setelah berminggu-minggu tidak memberi uang dan sekarang hanya memberi segitu? keterlaluan ayah..


Ara tidak menjawab pertanyaan ayahnya


"halo? nak? apa kau masih disitu?"


lanjut ayahnya


sambil menarik napas Ara pun menjawabnya


"hmm iya ayah tak apa, uang Ara juga udah nipis yah.. baiklah antar ke kampus sekarang ya yah, Ara tunggu.. byee..."


'huh beruntunglah ayah, kau mendapatkan putri seperti aku, jika tidak aku tak tahu apa dia bisa sesabar dan sekuat aku atau tidak


Setelah beberap menit kemudian ayah Ara pun tiba di parkiran kampus Ara , dan Ara masuk ke dalam mobilnya.


"mana uangnya?"


ucap Ara sambil mengulurkan telapak tangannya


"ini sayang"


ucap ayah dengan lembut


"ayah sebaiknya lebih sering memberi Ara uang, karena Ara juga tidak tahu masih bisa sabar atau tidak kedepannya."


ucap Ara dengan mengancam ayahnya


"iya nak maafin ayah" sahut ayah pelan.


"tak masalah ayah, tapi pikirkan kembali ucapan Ara tadi."


ucap Ara sambil membuka pintu mobil .


Ara memang kesal dengan ayahnya , tapi ucapan tadi hanyalah sekedar untuk mengancam ayahnya, tapi walaupun begitu ia sangat menyayangi ayahnya juga menghormatinya.


setelah ayahnya pergi , Ara masih berdiri ditempat ia turun tadi sambil memandangi mobilnya pergi.


'maafkan aku ayah, tapi ini semua untuk kebaikanku... aku sayang ayah

__ADS_1


tak lama kemudian Bian dan yang lain mendatangi Ara


"Ara , apa semua baik-baik saja?"


ucap Bian sambil menepuk punggung Ara


Ara tersadar dalam diamnya


"eh emmm iya aku gak apa-apa"


"ya sudah jika kau tak ingin memberitahuku, tapi kau harus tahu bahwa aku selalu ada disaat kau butuh" sahut Bian


***


sesampai dirumah Ara langsung merebahkan badannya di atas kasur, ia benar-benar bingung bagaimana kedepannya jika ia cuma berharap pemberian dari ayahnya .


"Ara..... kau sudah pulang nak?"


ucap ibu Ara sambil mendatangi Ara


Ara pun menoleh dan duduk


"eh iya ibu, tadi jualan ibu ramai jadi Ara gak mau ganggu ibu.."


"tak apa, kenapa lesu gitu anak ibu?"


tanya ibu Ara sambil menepuk punggung Ara dengan lembut..


Ara pun langsung menaruh kepalanya diatas kaki Ibunya


"ibu..."


ucap Ara


"kenapa?"


jawab ibu Ara


"Ara pusing, apa Ara berhenti kuliah saja ya?"


ucap Ara


"hei, apa yang kau katakan?


tanya ibu sambil memeluk putrinya.


"ibu , bagaimana bisa aku tetap kuliah jika keuanganku saja tak selalu ada"


ucap Ara


Ibu nya pun langsung meneteskan air mata, ia merasa tak berguna karena tak dapat membantu Ara.


"maafkan ibu nak, kau minta sajalah pada ayahmu, jangan berhenti minta padanya, itu hakmu . "


"ibu, berhentilah untuk saling membenci"


jawab Ara


"ibu tak membencinya, tapi ibu tak rela yang dinafkahinya hanyalah anak mereka dan anak dari istrinya itu saja, sedangkan kalian? hei kalian itu darah dagingnya..."


nyerocos Ibu Ara dengan kesal


"baiklah, kalau begitu bagaimana dengan ibu?"


ucap Ara dengan ketus sambil duduk.


"maksudnya nak?"


jawab ibunya


"apa ibu pernah memberi aku uang? bahkan untuk makan kita aja itu dari Oma . ibu berjualan, namun untuk siapa uangnya ibu? jawab????"


tanya Ara kesal sambil melepas pelukan ibunya.


Seketika membuat suasana menjadi dingin ya karena ibu Ara sifatnya tergantung moodnya, kalau mood bagus maka sifatnya akan baik begitupun sebaliknya.


"bukan urusanmu Ara , sudahlah ganti saja pakaianmu.."


jawab Ibu nya ketus


"bahkan ibu sanggup memberikan hasil jualan ibu kepada lelaki yang tidak punya akal itu? kau berkeringat pagi sampai sore ibu tapi uangnya hilang begitu saja? seribu rupiah pun tak pernah aku mencicipinya ibu..."


ucap Ara sambil menangis


"jangan kau bilang dia lelaki yang tak punya akal ya Ara, jaga ucapanmu..


jawab Ibu nya dengan nada tinggi


"lelaki yang berakal adalah dia yang memberikan kebutuhan wanitanya, bukan kebalikannya seperti ini. kau telah dibodohinya ibu. ingat ya aku tak pernah merestui jika kalian ingin menikah!


jawab Ara sambil meninggalkan ibu nya.


"kau ini selalu melawan padaku ya huhhhhh!" teriak ibu Ara

__ADS_1


__ADS_2