Berhak Sarjana

Berhak Sarjana
Part 29


__ADS_3

"ah ya sudahlah, ayah ini sering sekali mengajakku berdebat."


"baiklah ceritakan apa yang ingin kau katakan nak "


"dengarkan baik-baik ya, dan diharapkan untuk fokus dan serius. mengerti?" tegas Ara.


Karena ayah Ara memiliki sifat yang humoris, tak peduli dengan keadaan karena sering sekali mencairkan suasana dengan tingkahnya.


"siap tuan putri, katakanlah"


"ayah, sebenarnya tadi Ara habis dari kampus untuk mengambil toga dan kawan-kawannya"


"lalu?"


"hmmm begini ayah, taukah ayah? ternyata kami diberikan 3 kartu undangan, namun 1 undangannya untuk peserta dan 2 lainnya adalah pendamping wisuda."


"terus?"


"Ara ingin sekali jika yang menjadi pendamping nya nanti adalah orangtua Ara. dimana yang nantinya datang adalah ayah dan ibu nya Ara. tapi Ara sadar kok kalau Ara gak boleh egois karena sekarang Ara memiliki dua Ibu.


jika ayah keberatan maka itu tak masalah, Ara akan meminta agar Oma lah yang akan menggantikan posisi ayah nanti. tenanglah, Ara tak masalah dengan itu." tambahnya.


dan jika nantinya malah ibu yang tidak setuju, ayah boleh membawa ibuk (ibu sambung) untuk menjadi pendamping Ara. ya, semuanya tak masalah bagi Ara" tegasnya.


"hei... kau ini berbicara seperti kereta api saja, tak ada rem nya. bisakah kau mengizinkan ayahmu ini bergantian untuk berbicara , sayang?" tanya ayahnya


"ya ya ya ya ya dan gak pake lama, mengerti?" sahut Ara


"ayah sudah berbicara dengan ibuk dari jauh hari dan ibuk gak masalah kalau ayah yang akan mendampingimu wisuda nanti bersama ibumu. sampai situ paham?"

__ADS_1


"Ara gak salah dengar?"


"kenapa harus salah?"


"ayah!!!! serius...."


"iya sayang"


Seketika air mata pun menetes membasahi pipinya. Ara tak menyangka jika Ayah nya akan bersedia menemaninya walau ia tau ini sangat sulit dan hampir tak mungkin.


"Ara apa kau masih disana?" tanya ayahnya yang bingung karena Ara tak bersuara sama sekali.


"i..i... iya ayah"


"kau menangis nak?"


"jangan bohong! sudahlah nak, apa kau berfikir ayahmu ini tega tak melihatmu wisuda?"


Ara, dengar... ayah memang tak berguna, selalu menyusahkan mu. bahkan ayah tak ada membantumu lagi untuk berjuang dalam pencapaianmu ini. Namun, ketahuilah... ayah sangat bersyukur memilikimu. " tambah nya.


Ara masih terdiam, dan kali ini tangisnya semakin pecah saat ia mendengar kalimat terakhir dari mulut ayahnya.


"nak, maafkan ayah.."


"iya ayah gak apa-apa. sampai jumpa nanti ya"


"apa kau ingin mengakhiri telepon ini?"


"memang nya kenapa yah?"

__ADS_1


"kau tak ingin bertanya dulu pada ibumu apa dia mau berdampingan dengan ayahmu ini saat kau wisuda?"


"oh kalau soal ibu biar Ara yang mikir, ya sudah ya yah, Ara lapar mau makan dulu hahhahah see you"


"jaga dirimu baik- baik ya nak, assalamu'alaikum"


"waalaikumsalam Ayah"


ayah sebenarnya kau sangat menyayangiku dan keluarga kecil yang sudah hancur ini, namun kenapa kau memilih untuk meninggalkan kami? ah sudah lah untuk apa aku memikirkan itu jika ayah saja tak memikirkan nya, huh dasar bodoh!


Ara langsung pergi ke meja makan karena memang perutnya sudah sangat berguncang.


Tapi langkahnya terhenti karena Oma yang juga ingin makan memanggil Ara


"nakkk"


"eh ada Oma, masak apa omaku sayang?" ucap Ara sambil menarik tangan Oma nya.


Oma langsung membuka lemari makan dan menghidangkan makanannya" kau lihatlah, oma masak makanan kesukaanmu, cumi bakar , sambal ulek dan lalapan daun kemangi"


Ara mengambil piring dan langsung mengambil nasi juga lauknya "bakal nambah berkali-kali nih" goda Ara.


"ya kau habiskan saja lah semua, toh juga ini memang untukmu"


"terimakasih omaku terhebat, untunglah ada Oma . jika tidak? aku mungkin tak akan pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. ya walaupun Oma bukan ibuku tapi Oma kan ibunya ibuku, iya gak???"


"bisa aja kau ini, ayo lekas habiskan... "


*****

__ADS_1


__ADS_2