
"Ruly.... Keluar kamu!" teriak Bu Lia, di depan rumah bu Ruly, bersam sang suami.
"Ada apa kalian, ribut ribut di rumah saya?" tanya Bu Ruly, padahal dia tau apa yang di ingin kan oleh orang licik picik itu rasa rasanya ingin di cekik cekik saja itu orang.
"Mana harta kakak ku, yang kau rampas, balikin itu ngak ada hak mu!" ketus Pak Tri dengan wajah garangnya.
Bu Ruly terkekeh mendengar ucapan paman laknat Rania itu.
"Ada hak apa, kamu meminta uang Ratih, pada kami!" ejek Bu Ruly, berkacak pinggang di depan pintu rumahnya.
"Tentu saja ada hak saya di situ, dia kan kakak ku!" ujar Pak Tri tidak tau mau.
"Hak dari mana sontoloyo, coba jelas kan!" tantang Bu Ruly. Bu Ruly sangat tau rahasia tentang keluarga sahabatnya itu, termasuk siapa Pak Tri, mana berani Pak Tri sama Bu Ruly
__ADS_1
Tentu saja Pak Tri gelagapan dan ke bingungan.
"Ehhh... Ada Pak Tri. Mari masuk pak, saya juga ada perlu sama bapak, itu toko dan rumah yang bapak tempat kenapa bisa, bapak jaminkan sama rentenir, itu kan bukan hak, bapak?" tuntut suami Bu Ruly.
"B-bagaimana bapak tau?" ujar Pak Tri gagap. Kerena memang dia meminta uang kepada rentenir dan menjaminkan rumah dan toko milik orang tua Rania, dia mencuri surat rumah dan surat toko itu di rumah rania.
"Tantu saja saya tau Pak, bahkan tabungan Rania yang kalian kuras pun saya tau, satu lagi, surat rumah dan surat toko yang kalian rampas dari Rania itu bukan yang asli, itu hanya kopian sebelum di pindah tangankan atas nama Rania" ujar Pak Togar.
Duar....
"Ngak.... Ngak mungkin itu!" pekik Bu Lia tidak terima dengan semua itu, selama ini mereka sudah merasa jadi nyonya di rumah yang di pinjamkan oleh orang tua Rania itu, dan bahagia sudah mendapatkan toko hasil rampasan.
"Ngak mungkin gimana? klau ngak percaya panggil saja, pak RW dan PR, mereka yang menjadi saksi waktu itu" ujar santai suami Bu Ruly.
__ADS_1
"Aagggkkk... Aku ngak mau miskin....!!" pekik Bu Lia mulai stres.
"Makanya Bu, kerja yang benar, bukan merampas yang bukan hak kalian" ujar Bu Ruly ketus, yang sudah geram melihat tingkah ke dua makhluk tidak tau terimakasih itu.
"Pulang lah pak, pikirkan cara kamu membayar utang kamu, karena mulai besok toko Rania akan kami sita, selesaikan hutang hutang kalian sama rentenir itu, dan satu lagi, jangan pernah usik kehidupan Rania lagi, karena Rania dalam perlindungan kami!" tegas suami Bu Ruly.
"Ingat Pak, klau bapak tidak bisa melunsi hutang hutang bapak, tunggu saja polisi datang menjemput kalian!" ujar Anak Bu Ruly.
"Ayo bu. Kita pulang" ujar Pak Tri tidak kalah frustasi, memikirkan cara membayar hutang hutang dia di rentenir, dia sudah berniat tidak akan membayar hutang hutang nya, klau pun toko dan rumah di ambil, biarkan saja toko dan rumah nya di ambil oleh rentenir itu juga bukan hak dia ini, dia ingin memaksa Rania membiarkan mereka tinggal satu rumah dengan Rania, dan menjadikan Rania babu gratis di rumah Rania sendiri, namun apes, belum juga terlaksana niatnya, tapi semua sudah gagal total.
"Aaggg.... Bagaimana ini pak, ibu ngak mau di penjara" ujar Bu Lia.
"Ibu pikir. Bapak mau di penjara, ini semua gara gara ibu yang suka foya foya, jadi ginian!" kesal Pak Tri.
__ADS_1
Bersambung....