
Pak Yudist lansung pergi dari acara tersebut, karena malu, banyak orang yang melirik Pak Yudist dengan tatapan tak percaya, di luar seolah olah dia orang baik, dan menyantuni anak anak terlantar, memberi bea siswa kepada siswa tidak mampu, lah ternyata di dalam rumahnya sendiri, dengan teganya dia tidak membiayai anak kandungnya, benar benar pencitraan yang sangat baik.
"Kamu beneran anak pak Yudist, Ngga.?" tanya Doni yang masih tidak percaya dengan semua yang dia lihat hari ini.
"Hmmm... Iya, tapi itu dulu, sebelum saya keluar dari rumah, karena saya sudah di coret dari kk mereka." ujar Rangga tersenyum masam.
"Tidak apa apa, kan sekarang kita sudah punya kk sendiri, jadi. ngak butuh lagi kk mereka," ujar Rania mengusap bahu sang suami.
Rangga menatap sang istri penuh haru.
"Makasih sayang." ujar Rangga berkaca kaca.
Rania hanya tersenyum dan memeluk lengan sang suami.
"Waahhh... kamu sungguh beruntung mempunyai istri seperti Rania, Ngga." ujar teman Doni, yang salut melihat Rania, saat membela suaminya itu.
__ADS_1
"Bener bang, klau tanpa dia, entah lah hidup saya akan seperti apa, dia yang selama ini mendukung setiap hobi saya." ujar Rangga, memeluk pinggang sang istri penuh cinta.
"Kalian kenal sudah lama...?" tanya Doni.
"Dari saya SMP bang, dan dia juga yang nemenin saya di saat saat sulit saya, sampai maju sampai sekarang ini." ujar Rangga.
"Waahhh... kalian hebat, terutama sama Rania, masih kecil sudah mampu memberi semangat kepada Rangga, istrimu jaga selalu Ngga, pasti banyak kembang yang beterbangan di sekeliling dia, lengah sedikit bisa di bawa kabur dia." kekeh Doni.
"Bukan lagi Bang, banyak yang mendekati istri aku ini, tapi ngak satu pun yang di gubris sama dia, saya sangat beruntung punya dia, baik, sholeha, pendamping setia bagi saya, tidak perduli saya ini miskin dan katanya anak bodoh ini, namun dia tidak pernah pergi dari sisi saya bang." ucap Rangga menatap dalam ke arah sang istri.
"Bersyukurlah kamu, di beri pasangan yang seperti Rania ini, tidak di anggap oleh keluarga sendiri, namun begitu di sayang oleh pasanganmu, semoga hubungan kalian langgeng sampai nenek kakek," do'a Doni dan teman temannya.
Brak.....
"Sial... sial...." marah pak Yudist, sesampai di rumah dia membanting pintu rumahnya, karena kesal dan merasa di permalukan oleh Rania tadi.
__ADS_1
"Apa apaan sih pi, pulang pulang bikin kaget aja!" gerutu sang istri.
"Papi kesal Mi, Malu juga." adu Pak Yudist. memang dia lansung pulang ke rumah, setelah mendapat siraman rohani dari Rania tadi, mana sanggup dia melihat wajah wajah orang di pesta itu, yang menatap dia dengan tatapan yang sinis.
"Ada apa, coba cerita.?" ujar sang istri, dia kepo tentang apa yang membuat suaminya jadi seperti ini, pulang pulang malah banting pintu dan marah marah.
"Tadi Papi ketemu sama Rangga di pesta...." mengalir lah cerita Pak Yudit tentang pertemuannya denga sang anak dan pada akhirnya dia di semprot habis habisan oleh Rania, terus saja itu sangat memalukan untuk pak Yudist.
"Waahhhh.... Kurang ajar sekali mereka, mentang menatang sudah sukses jadi ngak ada hormat hormat nya sama orang tua, awas saja Mami akan buat perhitungan dengan mereka." marah Mami Rangga tersebut.
"Sudah lah Mi, ngak usah cari masalah lagi sama mereka, lagian mereka memang benar kok, emang ada selama ini Mami sama Papi memperhatikan Rangga, apa pernah membiayai hidup Rangga, dan sekarang dia sukses wajar dia ngak mau Papi anggap anak, lah Kalian sendirikan yang sudah mengeluarkannya dari kk kita, trus kenapa sekarang malah ingin dia mengakui jadi anak Papi." ucap Radit menohok hati Papi dan Maminya.
Namun dasar orang egois mana perduli tentang itu, dia tetap ingin menguasai harta Rangga, walau mereka tidak ikut andil dalam usaha itu, karena merasa, Rangga anak yang dia lahirkan, jadi Maminya, merasa usaha Rangga juga ada haknya dia.
"Ngak bisa gitu, dia kan Mami yang lahirkan, dan dia makan di rumah ini, wajar dia harus berbakti kepada kami, enak saja mau maju sendiri, pokoknya bengkel itu harus da nama perusahaan kita." sungut sang Mami dengan gaya angkuhnya.
__ADS_1
"Terserah Mami, nanti klau di hina lagi sama mereka, jangan marah, semua salah kalian." ujar Randit, percuma juga menaseti orang tuanya, karena mereka berpendirian sendiri.
Bersambung....