Bersamamu Aku Bahagia

Bersamamu Aku Bahagia
Bab 61


__ADS_3

"Sayang... apa kamu mau mengadakan pesta seperti teman kamu itu, waktu itu kan kita hanya nikah di KUA saja?" tanya Rangga saat mereka sudah di dalam perjalanan pulang, kini Rangga membawa sang istri memakai mobil, dia tidak mau istri cantiknya itu kenapa napa.


"Tidak usah kak, buat apa? sudah mau punya anak juga." kekeh Rania melirik sang suami.


"Kakak takutnya kamu mau pesta seperti itu, maaf ya waktu kita menikah, kakak ngak bisa membuat pesta, bukan tidak ada uang, cuma uangnya kakak ingin buka usaha dulu," ujar Rangga dengan mata menatap sendu sang istri, dia tau seorang wanita pasti ingin merayakan pesta pernikahan dengan mewah dan meriah, namun dia waktu itu tidak melakukannya.


"Aku tidak butuh pesta mewah kakak, yang penting sakral, dan untuk apa pesta mewah, ujung ujungnya kita akan pusing membayar hutang, atau menghabiskan tabungan yang sudah lama kita tabung, hanya untuk sehari, lebih baik uang yang ada kita gunakan untuk membuka usaha, dan berguna untuk masa depan kita dan anak anak kita nanti," ujar Rania, memberi pengertian kepada Rangga agar suaminya tidak merasa bersalah juga.


"Ahhh... sungguh bersyukurnya kakak memiliki kamu sayang, tidak pernah menuntut ini itu, padahal sekarang perekonomian kita boleh di bilang naik, tapi kamu tetap lah Rania yang dari awal kakak kenal." ujar Rangga menggenggam erat tangan Rania dengan sebelah tangan, karena tangan satunya dia pergunakan untuk memenggang setir mobil.


"Memangnya aku harus berubah gitu." kekeh Rania, sambil melirik suami gantengnya.


"Kak berenti." ujar Rania.


"Kenapa sayang?" tanya Rangga menepikan mobilnya.


"Mau beli itu dulu." tunjuk Rania kepada pedagang rujak tumbuk.


"Baiklah, kamu tunggu di sini ya, biar kakak sendiri yang membeli." ujar Rangga, lalu dia turun dari mobil menuju pedagang rujak tumbuk yang sedang mangkal itu.


"Pak, rujaknya, satu." ujar Rangga.


"Ya nak." ujar pedang yang sudah tua itu.


Rangga tidak hanya membeli rujak namun membeli berbagai makanan di sana, dia tau istrinya menyukai makanan yang ada di sana, makanan anak anak sd, telur gulung, pisang coklat, keju aroma, es cincau tidak lupa juga membeli air mineral.


"Ahhh... kakak tau aja klau aku mau ini." kekeh Rania, menunjuk telur gulung di dalam kantong, saat Rangga sudah masuk ke dalam mobil.


"Apa sih, yang kakak ngak tau tentang kamu sayang." kekeh Rangga, sambil mengelus perut buncit sang istri.


"Tumbuh dengan sehat di dalam sana ya nak, sebentar lagi kita akan ketemu, mama sama papa sayang sama kamu sayang." ucap Rangga mengelus sayang perut Rania.

__ADS_1


Dug...


"Hehehe... anak pintar, lansung di jawab papanya nanya." kekeh Rangga.


Rania hanya tersenyum melihat sang suami yang bermain main dengan anak mereka, walau sedikit tidak nyaman bagi Rania, karena tendangan si kecil di dalam perutnya.


Di tempat yang berbeda, Leni sudah masuk ke dalam kamarnya, sedang membuka pernak pernik di kepalanya, dan di bantu oleh sang suami.


"Sakit ngak yang." tanya Albi membuka tusuk konde di kepala sang istri.


"Ngak mas." ujar Leni yang masih membersihkan wajahnya dengan pembersih wajah, dia tidak betah dengan make up yang tebal, rasanya kulit wajahnya berasa gatal gatal.


"Selesai...." ujar Albi, dan dia lansung membuka kancing baju Leni yang berada di belakang tubuh sang istri.


"Mas mau ngapain?" kaget Leni merasakan bajunya di buka oleh suaminya, membuat dia gugup setengah mati.


"Mau bantuin buka ini, emang mau ngapain, mau malam pertama, belum saatnya sayang, ini masih sore, nanggung, dan masih banyak orang, emang mau klau mereka mendengar suara merdu kita." bisik Albi di kuping sang istri, membuat Leni jadi merinding sendiri, walau mereka sudah sering bermain bibir dan sekitar dada ke atas, tetap saja Leni deg degan klau memikirka pembobolan gawang, kata orang itu sakit.


Albi terkekeh melihat wajah malu sang istri, tangannya menelusup masuk ke gunung kembar yang masih terbungkus itu.


"Mas, katanya mau bantu buka kancing doang ahh... lirih suara Leni men de sah, karena Albi mengelus elus, dan memilin milin tombol yanh ada di atas gunung kembar itu.


"Enak ya..." bisik Albi sambil menji lat cuping telinga sang istri, dia dari tadi sudah tergoda dengan leher jenjang sang istri, ingin dia lahap habis, namun apa daya, mama dan papanya sungguh keterlaluan, mengundang banyak tamu, padahal janjinya cuma sedikit, nyatanya sampai 1500 orang, sungguh Albi dan Leni di tipu oleh mamanya itu, sang mama dan papa hanya tersenyum tanpa dosa melihat anaknya cemberut.


"Aduh... yang, kenapa mas jadi ngak tahan sendiri sih," ujar Albi merapatkan tubuhnya ke punggung sang istri, dan Leni bisa merasakan belut Albi sudah bangun, sampai dia bergidik sendiri.


"Hiii... mas sih ada ada saja," omel Albi.


"Tuntasin pake ini yuk yang, ngak tahan ini." ujar Albi dengan mata sendunya, meminta istrinya melukakan dengan cara lain.


Mau tak mau Leni pun melakukan permintaan sang suami, walau di sendiri jadi malu sendiri.

__ADS_1


"Ahhh.... Albi mengerang, merasakan sesuatu yang keluar dari mulut belutnya.


"Makasih sayang, kamu pintar, nanti belajar yang lain lagi ya." kekeh Albi yang suka iseng itu.


"Ncek... mukutku kebas tau, tangan pegel." keluh Leni.


"Hehehe... maaf, abis klau masuk kandang kan ngak bakal cukup sekali, kan ngak enak sama saudara yang ada di luar." kekeh Albi.


"Lagian mancing mancing, sendirinya yang kepancing." cibik Leni.


"Jangan marah dong, nanti mas puasin sepuas puasnya, ehh... gimana klau kita ke hotel aja, klau di rumah kan ngak enak, klau keluar lama dari kamar, nanti kakak mu yang luar biasa aduhai itu nyinyir lagi." saran Albi.


"Terserah mas aja, aku mah nurut apa kata mas aja." ujar Leni, yang membenarkan ucapan sang suami.


"Ya sudah mas mandi duluan, apa kamu." tanya Albi.


"Aku duluan deg, nih muncrat ke sini." tunjuk Leni ke lehernya.


"Ya udah, sana mandi." kekeh Albi melihat wajah kesal sang istri.


Leni berhenti di depan pintu kamar mandi, dan dengan sengaja membuka selurah pakainya di sana, membuat Albi meradang kesal ulah sang istri, dimana dia belum pernah melihat sang istri sampai sepolos itu, membuat belut listrik kembali meronta ronta.


"Leni awas kau ya..." pekik Albi yang ingin mengejar sang istri, namun sayang, pintu. kamar mandi sudah di kunci dari dalam sana.


Leni cekikikan di dalam kamar mandi, mendengar suaminya merepet di luar sana.


"Emang enak, lagian mancing mancing, sekarang aku yang mancing, Syukurin.tegang tegang sendiri sana," kekeh Leni, dan dia langsung mengguyur tubuhnya dengan air, segar. Itu yang di rasakan oleh Leni saat ini, badannya sudah lengket dari tadi, namun di kerjain sama suaminya, untuk mengemut lolipop duluan.


"Awas kau sayang, habis kau nanti, sekalian ngak bisa jalan dua hari, bikin si otong ngamuk aja." gerutu Albi, sambil melihat si otong yang sudah berdiri dengan gagahnya.


"Ahhh... tidur dulu kau tong, nanti kita habisin dia, biar tau rasa gadis nakal itu." ucap Albi kepada si otong.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2