
"Sayang... mumpung kita lagi libur, gimana klau hari ini kita beli pakaian bayi?" tanya Rangga.
"Baik lah, tapi kita ajak Bu Rully ya kak." ujar Rania.
"Iya kita harus ajak ibu, kita kan ngak ngerti mau beli apa aja." tutur Rangga setuju dengan ucapan sang suami.
Memang kehamilan Rania sudah masuk 8 bulan, jalannya juga sudah mulai susah, karena berat badan yang naik drastis, namun Rangga sangat suka dengan badan sang istri yang sekarang, katanya gemoy, enak di peluk.
Sementara di rumah orang tua Rangga terjadi keributan, apa lagi klau bukan ulah sang mami.
"Mi, sudah lah, ngak usah lagi ganggu mereka, mereka sudah bahagia sama hidup mereka, Mami ini kaya orang yang kekurangan uang saja, segala ingin merebut yang bukan hak mami." kesal Radit.
"Haiii.... siapa bilang itu bukan hak Mami, mami berhak atas itu." kesal sang Mami.
"Emang mami kasih mereka modal saat memulai usaha, ngak kan, lagian apa yang mami harapkan, semua yang Rangga punya itu milik istrinya, tanah tempat mereka membuat usaha adalah tanah peninggalan orang tua Rania."
"Modal usaha juga dari hasil tabungan Rania dan Rangga termasuk warisan orang tua Rania, jadi apa yang Mami harapkan, itu ngak ada satupun punya Rangga." ujar Radit.
"Tau ah... punya anak benar benar bodoh, masa semua di atas namakan, nama istrinya, apa ngak ingat punya Mami, kenapa ngak atas nama Mami aja." kesal Mami Rangga itu.
"Apa Mami selama ini ingat punya anak tiga, yang mami ingatkan cuma dua doang mam, dan bukanya mami yang bilang tidak ingin Rangga itu jadi anak Mami, jadi kenapa sekarang Mami yang kesal karena Rangga tidak menganggap Mami orang tuanya." ujar Randi.
"Kalau kalian masih menganggu kebahagian Rangga, aku akan keluar dari rumah ini, aku sudah muak." ujar Radit.
"Aku juga, ngapain punya orang tua, tidak bisa melihat kesalahan sendir, dan bisanya memprofokasi kami saja, sampai kami pun ikut andil membuat adik kami tersakiti, kini dia sudah berhasil, mami dan papi malah berusaha merampas hak mereka, di mana hati nurani kalian." marah Radit, dia berlalu dari ruangan itu.
"Mas, itu ngak terlalu kasar ngomong sama orang kaya gitu?" tegur Nana istri Radit yang sedang hamil muda itu.
"Ngak pa apa sayang, biar mereka ngerti dengan kesalahan mereka." ujar Radit memeluk sang istri dan membawanya ke dalam kamar tidur mereka.
Sementara orang yang sedang mereka ributin sedang berbahagia mencari perlengkapan bayi di sebuah mall bersama Bu Rully.
"Ya ampun... kalian mau jualan, masa semu di ambil." gerutu Bu Ruly.
Rangga dan Rania hanya nyengir tanpa dosa.
"Habis semua lucu lucu bu." ujar Rania.
__ADS_1
"Ambil aja satu satu jangan selusin gitu, itu mubazir, bayi mah cepat besar, nanti ngak bisa kepake lama." ujar Bu Ruly, dan alhasil Rania dan Rangga mengembalikan beberapa barang yang mereka borong ke tempatnya.
"Yuk... Kita cari ranjang bayi, stroler dan beberapa yang kalian butuhkan buat si dedek." ajak Bu Rung juga penuh semangat.
"Kita makan siang dulu lah bu, sudah lapar ini, sama kaki Nia sudah capek." ujar Rania.
"Baiklah..." ujar Bu Ruly.
"Mau makan dimana?" tanya Rangga.
"Mau ayam bakar aja deh, ibu mau makan apa?" tanya Rania.
"Samain aja, tapi ibu mau minum jus mangga." ujar Bu Ruly.
"Rania, lagi apa?" tanya Leni, yang kebetulan juga berada di mall tersebut.
"Lagi nonton, ya makan lah, apa lagi, kau ini kadang kadang pertanyaannya suka aneh deh." dengus Rania.
Leni terkekeh mendengar omelan sahabat rasa saudara itu.
"Kau sama siapa Len?" tanya Rania.
"Albi mana?" tanya Rangga.
"Lagi ada perlu katany ta....." ucapan Leni tak jadi dia lanjutkan karena melihat Albi sedang bergandeng mesra dengan seorang perempuan cantik.
"Katanya apa?" tanya Rania penasaran.
"Ngak jadi, itu lagi pacaran." ujar Leni, dengan menahan dada yang sesak, ternyata cuma sampai di sini perjuangan laki laki itu, karena dia belum juga memberi jawaban kepada Albi, kini Albi menyerah dan memilih wanita lain, tadi minta izin ada acara keluarga ternyata ini acara keluarganya, Leni hanya tersenyum miris melihat pemandangan di sana.
Rania, Rangga dan Bu Ruly ikut melihat ke arah yang di tunjuk Leni itu.
"Kamu pasti kuat." ujar Rania, ikut sedih dengan sahabat rasa saudara itu.
"Tidak masalah, lagian dia bebas kok milih siapa pun, kita ngak terikat apa pun, wajar dia mencari yang lebih baik dari gue." ujar Leni menatap sendu ke arah Albi itu.
"Bi...." Panggil Rangga.
__ADS_1
Albi melihat ke arah suara yang memanggilnya, dia juga kaget melihat di sana ada Rania, Rangga dan juga kekasihnya, dia berusaha menjauh dari wanita di sampingnya, namun wanita tersebut tidak mau melepaskan tangannya, terus saja dia memeluk manja tangan Albi.
Leni membuang muka sedihnya, agar tidak terlihat oleh Albi, sesak sungguh sesak dadanya saat ini, namun balik lagi, itu bukan salah Albi, dia yang salah mengulur ulur waktu, Albi sudah dari lama ingin mereka menikahi dirinya, namun Leni masih memikirkan adiknya yang sedang membutuhkan biaya sekolah, klau sekarang Albi menyerah itu bukan salah Albi, mungkin Albi sudah lelah dengan semua sikapnya.
"Gue balik dulu ya, takut ibu nyariin gue." ujar Leni, tanpa mau menatap Albi.
"Len, di sini aja." bujuk Rania, dia takut Leni kenapa napa.
"Gue buru buru." ujar Leni pergi dengan cepat dari sana, dia tidak tahan melihat Albi dengan pacar barunya.
"Len... sayang.." panggil Albi, namun Leni menulikan telinga nya, yang dia fikir saat ini hanya cepat cepat pergi dari tempat itu.
"Aiisss... sial..." marah Albi, dia melepas kasar tangan wanita yang selalu merangkulnya itu.
"Sialan ini gara gara loe, tau ngak!" kesal Albi.
perempuan itu hanya nyengir tanpa dosa, biarin aja lah bang, kan masih ada aku," ujar perempuan itu, namun Albi tidak menggubris ucapan perempuan itu.
"Len, kamu kenapa nak?" tanya sang ibu melihat wajah sembab Leni itu.
"Ngak kenapa napa kok bu," ujar Leni dengan senyum paksanya.
"Leni masuk dulu ya." ujar Leni menghindari sang ibu.
Di dalam kamarnya, Leni membanting tubuhnya ke kasur, dan kembali terisak pilu, membayangkan oran terkasihnya bergandengan mesra dengan perempuan lain, hati siapa yang tidak sakit melihat itu.
Tok..
Tok...
Tok...
"Len, kamu kenapa nak, ibu boleh masuk?" tanya Ibunya Leni.
"Leni mau sendiri dulu bu," ujar Leni dengan suara seraknya.
Ibunya hanya menghembuskan nafas dalam, klau sudah begini anaknya pasti ada masalah.
__ADS_1
Bersambung....