Bersamamu Aku Bahagia

Bersamamu Aku Bahagia
Bab 62


__ADS_3

"Yang, kamu udah dapetin uang Leni." ujar Aden sang suami saat di kamar mereka.


"Isss... Belum tau, ngeselin banget tuh ibu sama adek aku tuh, masa ngak mau bantu, udah gitu kamarnya selalu di jaga sama Randi, ngeselin banget tau.


"Kamu harus beraksi lah, lumayan kan bisa beli motor NMX, udah sempit nih, pakai motor mio terus, mana anak anak sudah mulai besar, ngak mungkin makai motor butut itu mulu." keluh Aden.


"Iya aku tau, kamu juga usaha dong, minta sama ibu kamu itu, masa kaya raya, tapi medit banget banget sama anak, dan cucu." kesal Lina.


"Ihhhsss.... kamu jangan gitu lah, kan mereka juga kasih kita tiap bulan tau, klau ngak dari mana coba kamu bisa shoping ke salon, sama arisan sana sini, gaji aku mana cukup buat menuhin itu semua." ujar Aden.


Memang dua tedekuk itu sama iyanya laki bini, boros dan gaya sok elit, ekonomi sulit, selalu minta sama keluarga ngak laki ngak bini sama saja, bukannya dia yang ngasih orang tua, malah mereka yang minta sama orang tua.


"Aku dengar tadi orang tua Albi nyewain mereka hotel untuk mereka hanimun tau." cibik Aden yang ikutan kesal.


"Haaa.... Serius, enak sekali hidup mereka, ngak bisa di biarin ini, aku kudu ngegasut ibu ini." omel Lina tidak terima, dia lansung pergi ke luar kamar mencari sang ibu.


"Bu, katanya Leni mau bulan madu di hotel ya?" tanya Lina.


"Hmmm... Iya." ujat sang ibu sekenanya, dia sudah sangat hafal dengan sifat anaknya itu.


"Isss.... Ibu, ngapain sih pakai nginap di hotel segala, di rumah juga bisa, itu buang buang duit aja tau, mending uangnya kasih ke aku saja bu, buat beli motor baru, ibu ngak kasian sama cucu cucu ibu, dempet dempetan naik motor butut itu." melas Lina.


"Ehhh... Lina, emang ibu yang kasih uang buat Leni nginap di hotel, semua di biayain sama mertuanya, lagian klau kamu ke sempitan naik motor sama anak kamu, beli motor sama mobil saja sana." dengus sang ibu.


"Itu masalahnya bu, aku ngak punya uang, makanya uang buat sewa hotel berbintang Leni selama seminggu itu kasih ke aku aja buat beli motor baru." ujar Lina tidak tau diri.


"Kamu klau mau beli motor kek, mobil kek, usaha sendiri, ngak usah nyusahin hidup orang mulu, kebiasaan banget kamu itu, makanya kerja yang giat, kamu bisa jualan on line kok kaya orang orang." ketus sang ibu.


"Isss... ibu ngak tau apa, susah tau ngak bu cari uang itu, makanya aku minta uang Leni aja." ujar Lina ngelunjak.

__ADS_1


"Tau kamu kan cari uang itu susah, kenapa kamu suka sekali jadi lintah sama orang lain hah, mulai sekarang ibu ngak perduli kamu mau apa apa, urus diri kamu sendiri, lihat Leni, bisa nyekolahin adik kamu, dan sekarang mau daftarin adikmu itu kuliah, dan kamu bisa bantu ibu apa, saat ibu sakit sakitan, kamu ngak mau urus ibu, dan ngak mau datang datang ke sini, Leni pontang panting cari uang dan ngurus ibu, kamu ngak pernah tau itu, dan sekarang melihat adik kamu bahagian kamu sirik, dan morotin dia, ibu orang pertama yang nantang kamu." kesal sang ibu, Lina hanya bisa mendengus kesal.


"Isss.... apa salahnya aku minta sih, kan aku juga kakaknya, ibu ngeselin banget sih, selalu bela Leni Leni mulu, ngak pernah bela aku, padahal aku ini anak pertamanya." gerutu Lina memandang kepergian sang ibu.


"Astaga, kenapa gue punya kakak kaya gini sih, apa kakak gue ketukar kali ya di rumah sakit, waktu bayi, soalnya sifat kita ngak ada yang sama, sama dia." gumam Randi yang menggeleng gelengkan kepala melihat Lina itu.


"Cieee.... nganten baru, maaf ya kita kita baru datang telat, maklum kan bengkel baru tutup, ini juga di suruh tutup cepat sama bos, biar bisa ke sini." kekeh Agung.


"Iya santai aja kali, gue tau kok." ujar Albi tersenyum, kepada teman temannya itu, mereka memang datang terlambat, bahkan tenda sudah mulai di bongkar karena sudah malam, namun Albi tau temannya mau datang, orang tua Albi dan orang tua Leni pun sudah memisahkan makanan untuk para tamu yang telat datang di dalam rumah Leni itu.


"Makan dulu gih, makan, pasti kalian pada lapar." ajak Albi.


"Tau aja kamu Bi, kami memang datang kesini numpang makan, klau bisa di bungkus juga boleh." kekeh mang Didin.


"Haiss... Mang Didin malu maluin aja, sudah makan minta di bungkus pula, klau gita aku juga ngak keberatan kalau juga di bungkusin." kelakar Anjar.


"Buahahaha.... tamu tak tau diri, sudah datang telat, minta bungkus pula." ujar Agung tertawa dan di ikuti yang lainnya.


"Ada di dalam, habis mandi, gerah banget, tadi lagi sholat magrib dianya, gue duluan ke luar, karena ada kalian." ujar Albi.


"Ooo..." ujar Budi.


"Bang Gilang mana, kok ngak kelihatan?" tanya Anjar juga mencari Gilang.


"Sudah pulang, anaknya tadi agak demam, jadi minta pulang duluan, kasian juga bayi montok itu ngak nyaman, pengen istirahat kali, di sini kan berisik bunyi musik," sahut Albi.


"Sini sayang." ajak Albi melihat sang istri sudah berada di sampingnya.


"Cieee.... Ayang." goda teman teman Albi, mereka juga sudah kenal dengan Leni, karena Leni juga suka datang ke bengkel menemani bos mereka siapa lagi klau bukan Rania.

__ADS_1


Wajah Leni bersemu mereka di goda oleh teman teman sang suami.


"Ngak usah di peduliin Yang, mereka iri sama kita." ujar Albi merangukul bahu Leni.


"Mas mau makan sekalian sam teman temannya?" tanya Leni.


"Boleh deh, kamu juga makan sekalian, dari tadi susah makan, gara gara melayani tamu." ucap Albi menatap lembut kearah sang istri.


Leni hanya mengangguk dan mengambilkan makan ke piring sang suami dan juga ke piring dia sendiri.


"Len, sini nak." panggil mama mertuanya.


"Iya mah," sahut Leni sopan.


"Nanti kalian mau tinggal dimana, mau di sini, apa di rumah mama, klau kalian ngontrak mama ngak mau izinin?" tanya mama mertuanya dengan lembut.


Leni sangat paham dengan permintaan mama mertuanya itu, karena Albi cuma anak satu satunya, dan sementara itu di sini ibunya juga sendiri, sebentar lagi Randi sang adik juga mau kuliah, belum tau keterima dimana, jadi dia bingung mau jawab apa."


"Gimana, kalau Leni sama mas, nginap nya, tiga hari di sini, dan tiga hari di rumah mama." ucap Leni agar mertuanya tidak merasa kecil hati.


"Begitu juga bagus, mama senang kalau gitu." ujar mertua Leni dengan wajah berbinar.


Ibu Leni pun ikut tersenyum mendengar jawaban sang anak, bukan bearti dia ingin menahan anaknya bersama dia, namun dia juga masih sakit sakitan belum sepenuhnya sehat, mengandalkan kakaknya Leni haa... itu hal mustahil terjadi. Yang ada nanti perabotan Leni yang berpindah rumah di bawa sama Lina.


Albi pun setuju dengan ide sang istri, tidak mungkin dia memilih antara mama dan mertuanya, mereka sama sama bearti di dalam hidup mereka berdua.


"Ini ada hadiah bulan madu buat kalian, selama satu minggu ke bali." ucap Mama mertuanya memberikan tiket bulan madu ke tangan Leni.


"Ihhh... Ma..."

__ADS_1


"Ngak ada penolakan, nanti pulang bulan madu kalian juga sibuk sama pekerjaan masing masing." tutur mertua Leni, mau tidak mau Leni menerima itu semua, ini kali pertama Leni naik pesawat dan juga pergi jalan jalan ke bali, membuat sang kakak melotot tidak percaya.


Bersambung...


__ADS_2