Bersamamu Aku Bahagia

Bersamamu Aku Bahagia
Bab 67


__ADS_3

Semenjak Orang Tua Rangga meminta maaf dan datang ke rumah Rania, kini setiap ada waktu, ke dua paruh baya itu selalu datang ke rumah Rania di sela sela kesibukan mereka, katanya rindu dengan cucu tercintanya, seperti saat ini.


"Hallo... cucu tayang Oma..." ujar Mami Inge menciumi pipi gembul Abizar, membuat bayi yang berumur tiga bulan itu terkekeh geli, dan menjambak rambut Omanya.


"Sayang Opa juga tau..." ujar Papi Yudist yang tidak mau ke tinggalan.


Sebenarnya mereka ingin mengajak keluarga kecil itu untuk tinggal di rumah mereka, namun mereka masih belum berani, karena takut Rania dan Rangga menolak dan tidak mengizinkan mereka datang untuk bermain dengan cucunya, padahal di umur segini, mereka hanya ingin menghabiskan waktu bersama cucu cucu mereka setiap waktu, namun apa lah daya, mereka hanya bisa menemui di sela sela ke sibukan mereka.


Andai Rania dan Rangga mau tinggal bersama mereka, ingin rasanya dua orang paruh baya itu berhenti dari kegiatan mereka, karena sudah capek dan ingin istirahat, bermain dengan cucu mereka, semua tugas di berikan kepada anak anaknya.


"Rania kemana Bu, tanya Mami Inge, dari tadi datang hanya yang di lihat pengasuh Abizar saja.


"Nak Rania ikut sama Nak Rangga Bu, lagi ada pertemuan sama perusahaan apa, saya kurang tau." ujar Bu Atin dengan sopan.


"Walah, kok dia ngak bilang, klau dia bilang kan saya bisa dari pagi di sini jagain jagoan saya ini." cibik Mami Inge.


"Ngak enak kali bu, takut mengganggu kerjaan ibu." ujar sang ibu pengasuh.


"Ngak enak gimana, saya akan meninggalkan semua pekerjaan saya demi cucu saya ini." masih saja mengomel.


"Iya, maafin Rangga, klau gitu, takut Mami ngak mau tadinya." ujar Rangga tiba tiba memeluk sang Ibu.


Puk....


"Kamu pikir Mami ini apa! Mami ini Omanya, masa Mami ngak mau jaga cucu Mami." kesal Mami Inge.

__ADS_1


"Ya sudah, karena kami salah, dan untuk menebus kesalahan kami, bagaimana mana klau sekarang kami nginap di rumah Mami selama seminggu." ujar Rania tiba tiba, dia tau mertuanya itu sangat ingin mereka tinggal di rumah mertuanya, namun tidak berani mengatakan keinginan mereka itu.


"Benarkah....!" pekik ke dua mertuanya kegirangan, apa yang mereka impikan menjadi kenyataan, walau belum sepenuhnya, namun tidak mengapa ini baru awal.


Oeeekkk.....


Abizar kaget mendengar suara Oma dan Opa nya yang melengking itu.


"Uuh... Maaf sayang, Oma ngagetin kamu ya." ujar sang Oma dengan rasa bersalahnya.


Seolah mengerti, anak kecil itu lansung mengangguk.


"Lucu banget sih kamu, ayo kita pulang kerumah Oma." ajak Mami Inge menggendong sang cucu.


"Eehhh... ntar dulu Mi, kamu belum siap siap, pakaian Abizar saja belum di siapin." ujar Rania, dia tidak habis pikir dengan mertuanya itu.


Tentu saja Rangga dan Rania terperangah.


"Tidak usah bengong gitu, ayo jalan." ujar Mami Inge menggendong sang cucu.


"Haa... Iya..." ujar Ke dua suami istri itu yang masih bingung.


Rumahnya cakep ya kak, besar banget." bisik Rania yang kagum melihat rumah mertuanya itu.


"Hmmm... Iya, kamu mau rumah kaya gini?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Ngak, aku sudah betah di rumah kita, ngapain rumah besar besar banget, mubazir, boros biaya perawatannya, rumah kita sekarang cukup untuk kita bertiga, mending uang yang ada buat nambah usaha baru kita, itu untuk masa depan dan pendidikan anak anak kita nantinya." jawab Rania spontan, dia memang tidak suka dengan kemewahan, rumah lamanya itu tempat ternyaman bagi dirinya, rumah kenang kenangan dari orang tuanya, walau kini rumah itu sudah di renovasi menjadi dua lantai.


Mami Papi Rangga tersenyum bangga kepada mendengar ucapan menantunya itu, dengan keadaan kondisi ekonomi Rangga yang sudah sangat bagus itu, sang menantu tetap ingin hidup sederhana, tidak seperti wanita wanita kebanyakan, bisa hidup berfoya foya menghabiskan hasil usaha sang suami, ikut arisan arisan sosialita, itu jauh dari ke dua menantunya, bangga tentu saja Mami Inge, sedih pun ada, karena kesalahan dia, kini dia ingin menyatukan anak menantunya di rumah besar itu, dia ingin anak menantunya tinggal bersama mereka di hari tuanya itu, apa lagi istri Radit pun sama sudah tidak mempunyai orang tua.


"Waahhhh.... abang, kakak ipar, kemari lah, lihat, siapa yang datang nih..." teriak Randi saat mau ke luar, dia juga ingin pergi kerumah Rania.


"Ada apa sih, bikin orang kaget saja." omel Radit, tapi dia tetap datang bersama sang istri.


"Kenzeee...." pekik Tanti, berlari mendekati Mami Inge.


Kenzee yang tau namanya dia panggil, tertawa tawa kecil di dalam gendongan sang Oma.


"Kalian datang, nginapkan?" berondong Randi, dia sangat rindu kepada keponakannya itu, sudah beberapa hari tidak bisa bertemu keponakannya itu, karena dia baru pulang dari luar kota.


"Menurut Abang?" tanya balik Rangga.


"Nginap..." pekik mereka bertiga.


"Kakak benar, kami nginap di sini selama seminggu." jujur Rania.


"Iya kah... Aaa... Senangnya, bisa main sama Abizar dengan puas, nanti malam kita bakar bakaran yuk..." entah mengapa Tanti ingin melakukan hal itu saat ini, biasanya mereka tidak pernah melakukan bakar bakaran di rumah lebih suka makan di luar saja, ribet klau melakukan di rumah.


"Ide yang bagus, Mami suruh bibi belanja dulu, catat apa yang mau di beli Mami tidak mengerti." ujar Mami Inge ikut bersemangat.


Bersambung...

__ADS_1


Haaaiii.... maaf ya, aku lagi bolong bolong up, biasa dunia nyata lagi sangat sangat sibuknya, dan bikin ngak bisa up, ini juga belum maksimal up nya, mohon bersabar ya sayang sayang ku😘😘😘


__ADS_2