Bersamamu Aku Bahagia

Bersamamu Aku Bahagia
Bab 63


__ADS_3

Albi dan Leni menikmati bulan madunya di pulau bali tanpa perlu mengeluarkan uang untuk sewa hotel dan tiket pesawat pp.


"Yang, di sini indah banget ya, aku senang bisa liburan ke sini." ucap Leni begitu bahagia, saat mereka sudah berada di penginapan, yang sudah di booking oleh mertuanya.


"Hmmm... Iya kita bisa menghabiskan hari di kasur selam satu minggu." kekeh Albi.


"Ngapain jauh jauh ke bali, klau hanya di dalam kamar, mending di rumah deh." ketus Leni, mendengar jawaban sang suami.


"Lah kan katanya bulan madu, klau bulan madu emang ngapain lagi, klau ngak di kamar, emang mau kita cetak anak di pantai, di lihat sama banyak orang." kekeh Albi dengan santainya.


Pukkk...


"Ngeselin...." kesal Leni melempar bantal sofa ke arah Albi.


"Hahahah.. jangan ngambek sayang, kita bakal pergi wisata kok, tapi untuk 1 hari ini kita di kamar saja ya," bujuk Albi mendekat ke arah sang istri yang sedang merajuk itu.


Membuat Leni merona dan deg degan, karena merasakan nafas Albi dekat dengan telinganya, dan tangan sang suami sudah merayap dengan nakalnya menelusuri tubuh Leni di dalam baju yang di pakai Leni.


"Ahh.... Mas.." de sah Leni.


Albi tersenyum puas melihat raut gai rah di wajah sang istri, Albi terus memancing gai rah sang istri, dan terjadi lah apa yang harus terjadi dengan pengantin baru itu.


"Apa yang lu lakuin di kamar Kak Leni kak!" bentak Randi saat melihat sang kakak memeriksa kamar Leni tersebut, beruntungnya, Randi sudah menyuruh sang kakak, mengamankan barang barang berharganya, termasuk seserahan sang kakak, karena Randi sangat tau kelakuan kakak pertamanya itu.


"Ee enggak ngapa ngapain kok," gugup Lina, karena terpergok dengan Randi yang sedang merusuh di kamar sang kakak yang sedang pergi berbupan madu.


"Keluar lu...!!" bentak Randi dengan wajah memerah, sungguh Randi tidak habis pikir dengan wanita satu itu, yang sangat suka menjarah punya kakaknya itu.

__ADS_1


"Iya iya." dengus kesal Lina meninggalkan kamar Leni.


"Tinggalin barang yang di tangan lu!!" bentak Randi, melihat Lina membawa beberapa kado milik Leni yang belum sempat di bukan.


"Ihhh... minta ini doang ngak boleh," gerutu Lina, sambil menarok kado yang ada di tangannya dengan kesal.


"Lu bukan minta, tapi nyuri." Bentak Randi, setelah Lina keluar Randi lansung memeriksa kamar sang kakak, takut ada yang hilang, dan memeriksa lemari, ternyata masih aman.


"Ada apa marah marah Ran?" tanya sang ibu dengan pelan, dia tau pasti si Lina anak sulungnya pasti sudah membuat masalah lagi.


"Itu, si Lina mau nyuri di kamar kak Leni." kesal Randi.


"Astaga anak itu benar benar ke terlaluan deh, sudah tau itu kamar sekarang bukan hanya milik Leni, masih aja ngak ada sopan sabtu." keluh sang ibu.


"Makanya itu bu, aku marah sama dia, mana sempat sempatnya mau ngambil kado kakak, padahal aku masih berdiri dekat dia." kesal Randi.


"Sudah bu, aku ngak mau ke colongan lagi, biar di kunci aja sampai kakak pulang." ucap Randi.


"Ya sudah, cari aman saja, ngak enak kita, takut barang Albi ada yang hilang." tutur sang ibu.


"Iya bu..." sahut Albi.


"Sial... sial.... kenapa anak sialan itu bisa ada di rumah sih, bukannya dia sudah pergi tadi." kesal Lina.


"Kenapa sih Yang, marah marah aja." tegur sang suami yang adatnya 11 12 sama sang istri.


"Kesal aku Yang, kenapa tiba tiba bocah sialan itu pulang sih, dan sekarang aku gagal dapatin yang aku mau." keluh Lina.

__ADS_1


"Ya udah sih, ntar pasti bisa ngambilnya, sekarang santai aja dulu, ngomong ngomong aku lapar Yang, ambilin nasi gih." pinta sang suami.


"Baiklah, aku ambil dulu ke dapur." ujar Lina berlalu ke dapur untuk mengambil makanan, namun sayang seribu sayang, ternyata meja makan kosong, tidak ada makanan apa pun di meja situ.


"Hiiiss... kenapa ngak ada makanan sih," keluh Lina.


"Nyari apa lu." omel Randi yang sedang minum di dapur, tapi Lina tidak melihat sang adik.


"Ehhh... itu, kok ngak ada makanan sih?" tanya Lina.


"Lu sama laki lu lapar?" tanya Randi.


"Iya" jawab polos Lina.


"Masak sendiri, ngak usah kaya ratu yang apa apa serba di layanin." ketus Randi.


"Ihhsss... emang ibu ngak masak, apa kalian ngak makan?" tanya Lina.


"Ibu ngak masak, kami sudah makan, beli sarapan di luar, klau lu mau makan, masak sendiri, jangan ngerepotin ibu, klau mau nginap di sini, jangan bikin rusuh, ingat rumah ini bukan jatah lu, tapi jarang gue sama kak Leni. Lu cuma numpang di sini, karena lu sendiri yang pengen rumah yang lu kontrakan, jadi lu ngak ada hak di sini untuk macam macam" ketus Randi meninggalkan Lina yang sedang mengepalkan tangan kuat kuat, mendengar ucapan sang adik yang terkesan mengusir dirinya, dan terkesan dia hanya tamu di rumah itu.


"Dasar adik kurang ajar lu." kesal Lina berbalik ke dalam kamar.


"Loh mana nasinya, aku lapar loh Yang." ujar Aden.


"Ngak ada, mereka sudah makan di luar, di dapur ngak ada apa apa." oceh Lina.


"Ya udah deh, kita pulang aja, males mas di sini, mereka sama aja semuanya." ketus sang suami.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2