
"Gimana? apa loe udah dapat apa yang gue suruh?" tanya Jek, kepada mantan anak buah Rangga dan Rania itu.
"Ngak ada bang, gue lansung di ketauan oleh Rania dan Rangga, dan sekarang gue sudah di pecat dari bengkel mereka." keluh Dika.
"Bodoh!! bisa bisanya kerja kaya gitu aja loe bisa ketahuan, ngak guna loe!" marah Jek karena apa yang dia inginkan tidak berhasil, alih alih mendapatkan yang dia mau, malah orang suruhannya di pecat.
Jek berdiri meninggalkan Dika yang masih duduk seorang diri di sana.
"Bang. Bang, mana komisi gue bang." ujar Dika mengejar Jek yang sudah berlalu dari depannya.
"Apa apaan loe, nanya nanya komisi, kerja saja loe ngak becus, ngak ada komisi komisian!" ketus Jek.
"Ngak bis gitu dong bang, gara gara loe gue di pecat tau ngak!" kesal Dika.
"Itu salah loe sendiri, ngapain mau, dan satu lagi kenapa loe begok, bisa sampai ke tahun, sudah minggir sana, jangan temui gue lagi!" ketus Jek menyenggol bahu Dika, dan Dika agak sedikit bergeser dari tempat dia berdiri.
"Sial, gue memang bodoh, gara gara duit ngak seberapa sekarang gue kehilangan pekerjaan, dan si Jek sialan itu ngak perduli lagi." frustasi Dika, dia kembali pusing memikirkan hidupnya.
Sementara itu sepupu durjana Rania, mendengarkan pembicaraan Jek dan mantan anak buah Rania, dia lansung mendekati Jek.
"Haii... loe lagi ada masalah ya sama Rangga?" tanya Ajeng dengan wajah sok cantik nya.
Jek menggerinyitkan dahinya, melihat perempuan di depannya itu.
"Kenalin Gue Ajeng, kakak sepupu Rania." ujar Ajeng mengulurkan tangannya ke hadapan Jek.
Jek yang pada dasarnya play boy, pemain yang suka gonta ganti pasangan, tentu saja tidak menyia nyiakan kesempatan ini.
"Gue Jek." ujar Jek sambil menyambut salam Ajeng dengan meremas nakal tangan Ajeng, dan tersenyum tampan kepada Ajeng, tentu saja perawan tua itu jadi bersemu.
"Waahh... gue dapat mainan baru" gumam Jek bersorak dalam hati.
"Loe ada masalah sama Rania dan Rangga?" tanya Ajeng tanpa basa basi.
"Ngak juga sih, cuma ya ada sedikit" ucap Jek, dia ingin bermain main dengan Ajeng yang terlihat **** di matanya.
"Apa tuh. Coba cerita, barang kali gue bisa bantu?" ujar Ajeng dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"Giman klau kita duduk dulu?" ajak Jek kepada Ajeng.
"Boleh" ujar Ajeng mengikuti Jek yang berjalan di depannya.
"Ada masalah apa, coba cerita?" ujar Ajeng ngak ingin basa basi.
"Jadi begini...." Jek lansung pada intinya dan membuat Ajeng manggut manggut.
"Gue bisa bantu loe, tapi...." Ajeng menggantungkan ucapannya.
"Tapi apa...!" tanya Jek. Tentu saja dia tau apa mau wanita di depannya itu, dan dia tidak akan mau rugi begitu saja.
"Asal ada bayarannya" ucap Ajeng dengan tegas, lumayan, dia ngak dapatin uang dari Rania, apa salahnya dapatin uang dari musuh Rania tersebut, dan dia akan mencarikan informasi untuk Jek, Ajeng pikir akan mudah membodohi Rania, padahal selama ini tidak ada satupun yang bisa dia lalukan kepada adik sepupunya itu, dia yang selalu kalah, namun demi uang apa pun akan dia lakukan.
"Ok, gue setuju!" jawab ajeng dengan mantab.
"Deal... kita kerjasama" ucap Jek berjabat tangan dengan Ajeng.
"Tapi mau uang muka dulu." ujar Ajeng.
"Berapa loe minta?" tanya Jek.
"Baiklah, lebih dari itu gue bisa kasih kok, asal." ujar Jek menaik turunkan alisnya.
"Asal apa?" tanya Ajeng yang memang belum mengerti.
Jek membisikan sesuatu ke telinga Ajeng dan sedikit men ji lat cuping telinga Ajeng, membuat perempuan itu merinding.
"Isss... "Desis Ajeng, karena Jek semakin gencar merayunya.
"Bagaimana?" tanya Jek menyeringai aneh.
Ajeng yang mulai kelimpungan dengan tangan lasak Jek itu, hanya bisa mengiyakan, dan Jek tersenyum puas dengan jawaban Ajeng itu, dia lansung menyeret Ajeng ke sebuah kamar yang ada di dalam cafe tersebut, yang memang sudah biasa Jek pakai untuk bergumul bersama wanita bayarannya.
"Hahaha... walau gue ngak dapat apa yang gue mau, setidaknya gue dapat yang murni, bakal jadi pemuas gue mulai sekarang." gumam licik Jek.
Dia tau saudara Rania itu masih suci, karena dia seorang laki laki pemain, tentu akan tau yang sudah biasa dan yang masih awam.
__ADS_1
Sementara itu. Dika sampai di tempat kekasihnya, lansung di todong dengan permintaan aneh aneh dari sang kekasih.
"Mana Dik. Tas yang aku mau, kok ngak di bawain!" omel pacar Dika tersebut.
"Aku ngak punya uang sayang, aku di pecat." keluh Dika.
"Dipecat... kok bisa, aaagg.... miskin lagi dong, gue ngak mau Dik!" omel pacar Dika.
"Haiii.... Gue di pecat juga gara gara nurutin permintaan loe, yang mau ini itu, dan akhirnya gue terjerumus dan sekarang loe marah marah!" bentak Dika yang dari tadi memang sudah emosi, di kala tadi di pecat ngak dapat pesangon, di tambah Jek ngak mau bayar dia, dan tidak perduli sama dia yang sudah pengangguran, dan sekarang pacar egiosnya itu ikut menyalahkan dirinya.
"Itu salah loe sendiri, kenapa loe mau berbuat curang sama boss loe, dan apa yang gue minta hal yang wajar kali, klau loe ngak mampu yang udah gue kan ngak maksa, gue bisa cari cowok yang bisa ngasih apa pun buat gue!" hina pacar Dika itu.
"Dasar perempuan sialan."
Plak...
Dika yang sudah tersulut emosi lansung memukul pipi pacarnya.
"Dasar laki laki bang sat, pergi loe dari sini!" bentak pacar Dika itu.
Dika semakin emosi di buat kekasihnya itu, ingin sekali dia mencekik perempuan tidak tau di untung itu, namun dia takut juga di penjara, dengan kekesalan yang memuncak, dia pulang ke kos kosannya.
Sementara Jek puas menggahi Ajeng di kamar tak seberapa besar itu, sampai sampai Ajeng di buat tidak berdaya, tanpa sadar ajeng sudah memberikan harta yang berharga baginya, yang selama ini dia jaga, hanya karena uang dan hanya niat jahatnya dia sendiri yang jadi korban.
Sementara di rumahnya, Rania dan Rangga juga habis berpetualang bersama pasangan halal mereka, dan kini mereka tidur dengan saling berpelukan.
"Sayang, kapan kapan kita ke makam ayah sama ibu yuk...." ajak Rangga, memang selama menikah baru sekali Rangga datang ke makam sang mertua.
Tiba tiba saja dia merasa rindu dengan mertuanya itu.
Rania yang tadinya sudah ingin menutup mata, lansung saja matanya terbuka lebar.
"Ada apa? kenapa kakak ingin ke makam Ayah sama Ibu?" tanya Rania.
"Ngak ada, tiba tiba kakak kangen sama mereka, kakak juga mau ngucapin Terimakasih, sudah mengirimkan bidadari di hidup kakak" ujar Rangga.
Rania tersenyum lembut kepada sang suami.
__ADS_1
"Baiklah, hari minggu kita ke makam Ibu dan Ayah." ujar Rania, memeluk sang suami, dia kembali menutup matanya, saat ini. Rania benar benar lelah, dan ingin tidur, karena habis di serang bekali kali oleh Rangga, sampai sampai dia kehilangan tenaganya.
Bersambung...