
Hari hari berlalu dengan cepat, setahun pernikahan Rani dan Rangga, usahanya semakin maju, dan kos kosan mereka pun sudah ada di dua tempah, toko peninggalan orang tua Rania dan di tempat dia kerja dulu pun semakin maju, itu di kelola oleh teman Rania, Rania tidak sempat untuk mengelola toko tersebut karena kerjaan di bengkel Rangga semakin ramai saja, rumah Rania benar benar sudah di bangun lebih bagus lagi oleh Rangga, Rania tidak ingin pergi dari rumah orang tuanya, jadi Rangga merenovasi rumah itu, yang tadinya hanya satu lantai, kini menjada tiga lantai, kini Rania juga sudah mempekerjakan dua orang di rumahnya.
"Kak, maaf aku belum bisa memberikan kakak seorang anak pun,?" ucap Rania dengan sendu, setelah melakukan aktifitas panas mereka, dia sedih belum bisa memberikan anak untuk Rangga, entah apa sebabnya dia tidak tau.
"Sayang, hai..... apa kau lupa, kakak tidak pernah ingin buru buru mempunyai buah hati sayang, bukan itu yang utama bagi kakak, kamu yang terpenting selalu berada di sisi kakak, ada atau tidak ada anak tidak akan jadi masalah buat kakak sayang, jadi. jangan terlalu di fikirkan, ada. Alhamdulillah... kita di percaya sama Allah, tidak ada, bearti kita di suruh membesarkan anak anak di luar sana, yang tidak mempunyai orang tua, lagian kakak masih ingin berdua dengan kamu, sayang, apa lagi usaha kita, masih kita rintis, kamu dan kakak masih wara wiri kesana kemari, untuk urusan bengkel kita, klau tuhan kasih kita di kasih anak sekarang, yang ada kita kerepotan, ruang gerak kamu terbatas, benar ngak?" ucap Rangga panjang lebar, menenangkan sang istri.
Rania lansung tersenyum lebar dengan ucapan sang suami, dia takut suaminya sudah ingin mempunyai anak, dan dengan tidak sabarnya, dia selingkuh dengan wanita lain, dia tidak mau itu terjadi, Rania takut, apa lagi akhir akhir ini banyak gosip gosip perselingkuhan suami istri, padahal mereka sudah punya anak, dan ada juga karena tidak punya anak, Rania takut akan itu.
Rangga paling tau istrinya itu takut dia selingkuh, justru Rangga lah yang paling ketakutan kehilangan wanita cantik itu, wanita itu lah yang membuat Rangga berhasil sampai saat ini, klau bukan dukungan dari wanita cantik itu mana mungkin Rangga akan berhasil, bisa jadi saat ini, dia masih jadi bulan bulanan keluarganya, atau berakhir menjadi gembel.
__ADS_1
"Aku senang mendengar ucapan kakak, tapi suatu saat nanti, klau aku belum mampu memberikan keturunan untuk kakak, dan kakak menyukai seorang wanita, dan ingin mempunyai anak dari dia, tolong bilang sama aku, biar aku mundur secara perlahan, jujur aku tidak mau di madu, lebih baik kita berpisah saja, dari pada hatiku lebih terluka saat di madu." jujur Rania.
"Kakak tidak akan pernah melakukan itu, sayang. Justru kakak yang takut kamu menyukai laki laki lain, yang lebih pintar dan mapan, lebih bisa membuat kamu bahagia, tidak seperti kakak, kamu masih capek bekerja dengan kakak, jarang pergi ke mall untuk shopping, beli ini dan ini, sementara kakak baru bisa membahagiakan kamu hanya dengan hal hal sederhana seperti ini, dan di balik deh, seandainya kakak yang tidak bisa memberi kamu keturunan, apa kamu mau kita berpisah, apa kamu akan mencari laki laki lain juga.?" ujar Rangga, menatap dalam mata Rania.
Rania menggelengkan kepalanya, mana mungkin dia akan mengganti suami baik nya itu, jujur. Banyak laki laki mapan, tampan, punya perusahaan mendekatinya, walau mereka tau Rania bukan lah wanita single, tapi Rania tidak mau, bukan itu yang Rania mau, dia sangat mencintai suaminya itu, laki laki yang di anggap bodoh oleh orang tuanya, laki laki yang berjuang dari nol bersama dia, laki laki yang selalu mampu membuat hatinya bahagia, dengan hal hal kecil yang di lakukan sang suami, laki laki yang selalu mengerti akan dirinya. Ya. Hanya Rangga lah yang bisa melakukan hal itu. Rania bukan lah wanita matre, yang mempan di sogok dengan kekayaan, dia bukan wanita seperti itu, dia hanya ingin kenyamanan, dan mau berjuang bersama sama, itu hanya ada pada Rangga.
"Maka dari itu, jangan pernah membahas tentang anak lagi ya sayang, kita ikutin aja alur cerita yang di buat oleh Outhor ya, hanya dia yang tau kita akan seperti apa, kita ini hanya pemain di sini sayang.?" kekeh Rangga.
Rania hanya menganggukan kepalanya, dan tersenyum lega, karena tidak ada lagi beban di hatinya, ya. Klau kita sudah menikah, kunci kebahagian itu adalah ke jujuran dan saling mengerti satu sama lain.
__ADS_1
"Kita ulang lagi ya," bisik Rangga dengan cepat tangannya merayap di tubuh polos sang istri, Rania tidak menolak permintaan sang suami, dia sangat menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Rangga, Rangga tau di mana titik titik kelemahannya dan terjadilah hiya hiya sampai beberapa ronde kemudian.
"Yang. Kita mau pulang sekarang apa besok.?'" tanya Rangga saat Rania sudah keluar dari kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya, dia tidak mau mandi bareng dengan Rangga, walau Rangga sudah membujuknya, dia bersikeras menolaknya, karena dia sudah tau endingnya, suaminya itu tidak bisa melihat tubuh mulus Rania sedikit pun.
"Aku masih pengen jalan jalan kak," manja Rania.
"Baiklah, kalau gitu kita tambah liburannya dua hari lagi." ujar Rangga.
Rania hanya mengangguk menyetujui ucapan sang suami.
__ADS_1
Bersambung....