
"Huuff.... dasar sinting!" kesal Rania menggerutu menjauh dari pintu dengan jalan sedikit mengengkang karena perih di bagian intinya.
Rangga terkekeh mendengar gerituan sang istri dan juga melihat gaya berjalan Rania, sampai sampai di bangga telah bisa membobol gawang sang istri orang pertama pula yang mendapatkannya sungguh Rangga tidak sia sia menunggu lama sang pujaan hati.
"Jangan ketawa kak" ketus Rania.
Happp....
"Auu..." kaget Rania karena sudah berada dalam pangkuan sang suami.
"Sakit ya?" tanya Rangga membawa sang istri ke kamar mand yang bersebelahan dengan dapur, memang rumah Rania tidak besar, hanya memiliki dua kamar tidur, ruang tengah yang tidak terlalu luas, dapur yang menyatu dengan ruang makan, dan di samping dapur ada kamar mandi dan tempat mencuci pakaian, di belakang ada taman yang tidak terlalu luas, terlihat tidak terus karena selama ini Rania, kerja nyambi kuliah, pulang pulang sudah capek dan kadang kadang ada anak anak yang minta di ajari buat pr.
"Perih tepatnya" ujar Rania yang mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Mudah mudah sehabis mandi ngak perih lagi ya sayang, maaf Kakak terlalu bersemangat, kan ini pertama kali buat mas" kekeh Rangga.
Pukkk...
Rania melayangkan pukulan di dada sang suami.
"Aduhh... kok mas di pukul sih" keluh Rangga di buat buat.
"Kakak pikir kakak doang yang baru pertama aku juga tau" kesal Rania.
"Heheheh.... Iya iya maaf kakak lupa" kekeh Rangga dan mengecup bibir yang mengerucut itu.
"Dasar soang, mau sosor mulu" cibir Malika.
"Tapi ngak nolak kan, apa lagi di ajak *** ***, pasti nagih" ujar Rangga menggoda sang istri.
"Kakak....." pekik Rania.
"Apa sayang" ujar Rangga tanpa dosa.
__ADS_1
"Kenapa jadi mesum gini sih" kesal Rania.
"Soalnya mesum itu enak ternyata, klau tau seenak ini, dari dulu aja kakak paksa kamu nikah" kekeh Rangga.
Rania sudah malas menimpali ucapan Rangga tersebut, semakin di jawab semakin aneh aja ucapannya.
"Kok Diam?" tanya Rangga karena sang istri tidak ada suara lagi.
"Males ngomong sama Kakak" oceh Rania.
Rangga terkekeh melihat wajah di tekuk sang istri.
"Ya sudah, mandi sana, mau mau bikin makan malam buat kita" ujar Rangga, Rangga memang sudah biasa memasak, dia sering membuatkan sang istri masakan sejak mereka masih pacaran, walau masakannya tidak yang aneh aneh dan ke kinian tapi cukup untuk mereka nikmati berdua.
"Masak apa kak?" tanya Rania yang sudah berada di dekat Rangga yang sedang mengulek cabe.
"Biasa telor ceplok, sambal terasi sama lalapan" ujar Rangga terkekeh.
"Nia bantu apa nih?" tanya Rania.
"Bikin es teh gih sayang, hawanya haus mulu" ujar Rangga.
"Teh Leci ya kak?" ujar Rania.
"Enak tuh, tapi emang ada sirup nya?" tanya Rangga karena dia belum sempat membeli kebutuhan dapur sang istri, selama ini dia yang memenuhi kebutuhan dapur sang istri, karena istrinya tidak mau menerima uang darinya, klau sudah berupa benda mana mungkin Rania tega menolaknya.
"Ada kok, kemaren Nia beli kebutuhan dapur" ujar Rania.
Rangga hanya mengangguk tanda mengerti.
"Yang, mau bulan madu kemana? kan kamu sudah selesai ujian kan?" ujar Refandi.
"Emang masih perlu ya kaka, bukan kita sudah melakukannya tadi" jujur Rania.
__ADS_1
"Harus dong, kan kita pengen kaya orang orang di luar sana" ujar Rangga.
Ranian hanya bisa menggelengkan kepalanya karena ulah sang suami.
"Ngak sebaiknya uangnya di tabung buat modal buka usaha kak?" tanya Rania lagi.
"Sesekali kita menghabiskan waktu berdua sayang, masa nabung terus, kakak sudah menyiapkan duit untuk di tabung, mana untuk makan hari hari, dan mana buat jalan jalan kita, kakak sudah atur semua kok, kamu ngak usah kawatir, lagian kakak kemarena juga dan hadiah menang lomba, dan minggu depan kaka mau modif orang kota sebelah, ngak cuma satu loh sayang, ada tiga apa empat kata Bang Gilang" tutur Rangga.
"Trus lukisan kakak gimana?" tanya Rania.
"Masih dong sayang, itu sudah bakat kakak, kakak ngak bisa ninggalin itu" ujar Rangga.
Rania mengangguk tanda mengerti, dia tidak memaksa sang suami untuk memilih apa pun selama itu baik untuk nya dan suami dia mah senang senang aja.
"Itu kontrakan kan mau habis, apa ngak sebaiknya pindahin ke sini aja kaka, itu taman belakang masih kosong, malah ngak ke urus lagi" ujar Rania.
"Ngak sayang, Kakak malah di tawarin beli sama yang punyanya, tapi kakak belum jawab apa apa, kan kita masih sibuk, dan kakak kan harus izin sama kamu dulu" ujar Rangga panjang lebar.
"Emang kakak suka banget tempat itu?" tanya Rania lagi.
"Sangat, suasana di sana tuh tenang, Kakak bisa konsentrasi klau melukis di sana sayang, jadi gimana?" ujar Rangga balik bertanya, padahal sendirinya sudah tegas pengen tempat itu.
"Kalau ada uangnya ambil aja" putus Rania.
"Serius boleh?" tanya Rangga meyakinkan.
"Iya... dua rius malah" ujar Zahra.
"Aaagggh... makasih sayang" pekik Rangga memeluk sang istri, Rania pun ikut memeluk suaminya dengan tersenyum lembut di bibirnya.
"Ya sudah makan dulu yukk... nanti baru lanjut ngobrol lagi" ajak Rangga.
Bersambung....
__ADS_1