
Hari demi hari usaha Rania dan Rangga semakin maju, itu juga tak lepas dari sokongan dari Doni dan kawan kawan, Rangga dan Rania tidak mau merubah Bengkel mereka menjadi PT atas saran teman temannya, biarlah tetap bernama Bengkel R&R karena dengan nama itu lah mereka mengawalinya dan sampai berkembang pesat sampai sekarang.
Kini Rania pun sedang hamil 5 bln, kehamilannya itu tidak mengganggu pekerjaan Rania sedikit pun, dia masih aktif untuk meeting, walaupun tidak untuk keluar kota.
Keluarga pamannya pun sudah angkat kaki dari rumah Rania, karena ketahuan, bekerjasama dengan musuh Rangga dan rania, dan Rania tidak lagi memberi toleransi kepada mereka, mereka juga di ketahuan telah mencelakai orang tua Rania, dan tanpa ampun Rania mengusir mereka dari rumah peninggalan orang tua Rania itu.
"Sayang...." Rangga membangunkan istri cantiknya itu, karena semenjak hamil, bawaan Rania tidur melulu, membuat sang suami suka gemes sendiri, di manapun berasa nyaman, Rania akan selalu *****, nempel molor,
"Uummmm..." lenguh Rania dan mengganti posisi tidurnya.
"Haiii... bangun sayang, makan dulu, nanti baru tidur lagi." ujar Rangga mengusap usap pipi Rania yang terlihat semakin berisi itu.
"Makan pake apa Kak?" tanya Rani dengan mata yang masih tertutup.
"Kakak tadi pesan ikan gurame bakar sama udang saos manis, trus capcai." sahut Rangga mencium gemes pipi Rania tersebut.
"Sruuupp.... enak kayanya kak, tapi aku ngantuk, suapin aja ya." pinta Rania sampai meneteskan liurnya, namun apa daya perut lapar, mata susah untuk di buka.
__ADS_1
Rangga terkekeh melihat tingkah istrinya itu, tanpa ba bi bu, Rangga menggendong istri cantiknya itu ke kamar mandi, yang berada di rumah mereka, kini rumah Rania sudah di renovasi oleh Rangga, karena memang rumah orang tua Rania sudah tua, dan juga Rangga membutuhkan tempat untuk melukis, walau sibuk, dia tetap mengusahakan permintaan lukisan dari konsumennya.
"Ganti pakaian dulu sayang," ucap Rangga penuh perhatian, dia memberikan daster rumahan kepada sang istri, karena berada di rumah dan hanya mereka berdua, jadi Rangga memang suka melihat sang istri tampil ****, apa lagi dengan kehamilan istrinya itu, membuat bagian bagian tertentu Rania menjadi berisi, Rangga sangat menyukai itu.
"Gantiin," pinta Rania manja.
"Baiklah Tuan putri, tapi ada imbalannya ya." ucap Rangga sambil memainkan benda kembar di dada sang istri.
"Huu... selalu begitu, pasti minta imbalan, ngak ikhlas banget nolong istri, cibik Rania, tentu saja gerutuan sang istri membuat Rangga terkekeh.
"Tapi suka kan, dan minta nambah, dan bilang cepetan kak, ahh... kak di situ enak, kak lagi kak." ledek Rangga.
"Yuk... makan dulu," ajak Rangga membimbing sang istri keluar kamar dan menuju meja makan.
Rangga melayani Rania dengan sangat telaten, dia senang melakukan hal itu.
"Sayang, kata bu Rully toko yang dekat kampus itu kan kita keteteran buat mengelolanya, apa lagi Bu Rully sudah sibuk mengurus cucunya, bagaimana klau toko itu di bikin kos kosan, atau di kontrakin aja?" tanya Rangga.
__ADS_1
"Trus karyawannya gimana? kasian loh mereka sudah lama kerja di sana, masak di lepas kaya gitu aja, mana cari kerjaan sangat susah sekarang." ucap Rania memikirkan karyawan tokonya.
"Nanti yang laki laki bisa masuk ke bengkel, dan yang perempuan, suruh ngurus kos kosan itu aja klau kamu setuju." ucap Rangga.
"Ya udah deh, atur aja sama kakak, aku males mikir sekarang, dan toko ayah mah, biarin aja di kelola sama Leni, Albi mau ngelamar dia, cuma dia bingung, soalnya Leni masih membiayai satu adiknya yang masih sekolah, kakak kan tau sendiri ibu Leni sakit sakitan, ngak bisa membiayai adiknya itu." ujar Rania.
"Ok lah, Albi juga bilang gitu sama kakak, Leni masih mikirin adik dan Ibunya, di takut keluarga Albi tidak mau menerima dia dan keluarganya, padahal mah orang tua Albi sudah setuju kok, lagian Albi orang tuanya punya usaha sendiri, dan sudah tau ke adaan keluarga Leni, namun Leni masih ragu, makanya Albi frustasi, dia sudah kebelet kawin." kekeh Rangga.
"Iya makanya itu kak, terserah dia mau itung itungan bagaimana aja soal penghasilan toko itu, aku sudah menganggap Leni saudara ku sendiri, saat aku susah, cuma dia dan keluarganya yang mau nerima aku, apa lagi bapaknya sayang banget sama aku, terlepas dari Bu Rully, bu Tanti dan Bu Sri." ucap Rania.
"Baik lah klau gitu, kamu bujuk juga Leni, agar mau menerima lamaran Albi." ujar Rangga du sela sela menyuapi sang istri.
"Hmm... besok aku temui dia." ucap Rania.
"Ohh... Iya kemaren Bang Radit ngasih undangan sama kakak, dia mau nikah sama sekretarisnya." ujar Rangga.
"Ohh... Bagus lah, nanti kita datang aja ke pesta mereka kak." jawab Rania santai, memang Radit sudah minta maaf kepada mereka, dan juga tidak pernah mengganggu hidup mereka lagi, namun hati Rangga sudah membeku untuk keluarganya itu, dia hanya sekedar saja melayani mereka, dan Rangga pun belum pernah menginjakan kakinya di rumah orang tuanya itu, karena Mami dan Papinya itu belum juga sadar sadarnya, masih saja berusaha mendapatkan Bengkel Rangga tersebut.
__ADS_1
"Baiklah..." ucap Rangga sambil membersihkan meja makan, rania menunggu suaminya itu sampai selesai beres beres di dapur itu, walau sekarang mereka sudah memakai pembantu, yang datang hanya di siang hari saja, Rangga dan Rania tetap saja suka membersihkan apa yang telah mereka kotori, agar pekerjaan pembantu mereka sedikit berkurang.