
Di pagi hari, Rania dan Rangga di buat terkaget dengan kedatangan dua mobil pik up membawa berbagai macam perabotan bayi.
"Loh, ini punya siapa mas, kami ngak pesan kok." kaget Rania melihat orang orang menurunkan perabotan itu.
"Tapi alamatnya benar kok." ujar karyawan itu.
"Haa.... Tapi kami ngak pesan, kami ngak mau bayar ya, lagian barang sebanyak ini buat apa coba, di kira kami mau buka toko." sewot Rania.
"Sudah di bayar bu." ujar karyawan itu dengan sopan.
"Haaa.... serius, atas nama siapa?" penasaran Rangga, yang ke bingungan melihat banyak barang yang di turunkan oleh beberapa orang dari mobil.
"Atas nama bapak Aksa." haaa... kok bisa.
Membuat sepasang suami istri itu melongo, seolah tidak percaya dengan ucapan orang itu
"Bu, Pak, ini mau di tarok dimana?" karyawan toko itu dengan sopan, karena suami istri malah sibuk melamun, bukan memberitahu barang barang belanjaan mau di tarok dimana, sementara mereka juga buru buru mau mengantar pesanan yang lain.
Tentu saja Rania dan Rangga tersadar dari mereka.
"Eehhh....." sentak Rania dan Rangga, suami istri itu saling pandang, mereka ragu untuk menerima barang tersebut, takutnya bukan untuk mereka, hanya salah alamat saja, dan yang mereka tau orang tua Rangga itu belum mengakui Rangga sebagai anaknya.
"Kenapa kalian diam saja, apa kami tidak boleh memberikan hadiah untuk cucu kami." sewot Mami Inge berkacak pinggang tidak jauh dari mobil pik up itu.
"Mami, Papi." kaget Rangga tidak percaya tiba tiba ada ke dua orang tuanya di depan mereka.
"Hmmm..." dengus Mami Inge menatap anaknya berkaca kaca, dan Papi Aksa seperti biasa dengan muka datarnya, tapi siapa tahu isi hatinya itu.
Rania bingung harus bersikap seperti apa, apa lagi mertuanya itu, selama ini selalu bersiteru dengan mereka.
"Eehhh... Ada tamu, masuk pak, bu..." ajak Bu Rt, yang melihat Rania dan Rangga yang masih bengong itu.
"Ahhh... Iya bu, terimakasih, kamu baik sekali, ngak seperti mereka, masa orang tua di suruh berdiri saja di luar, apa ngaka kasian ini kaki saya capek." sindir Mami Inge.
__ADS_1
"Eehhh... I-iya masuk Bu." canggung Rania salah tingkah.
"Mami panggil Mami." omel Mami Inge, ingin rasanya dia memeluk menantu dan anaknya, namun gengsinya terlalu tinggi, sehingga lidahnya kelu untuk meminta maaf, kepada anak menantunya itu.
"I-iya Mi." ujar Rania gugup, jujur dari pada seperti ini, dia lebih suka di ajak ribut oleh mertuanya itu, karena pas baik baik kaya gini, Rania justru salah tingkah.
Rangga masih menatap papinya yang juga menatap ke arah Rangga.
"Kak, ayo masuk, aja Papi." bisik Rania.
"Ehhh.... Iya sayang." kaget Rangga.
"Mari masuk Pi." ujar Rangga.
"Ada perlu apa Papi sama Mami datang ke sini?" tanya Rangga.
"Emang kami ngak boleh melihat cucu kami?" ujar sang Mami mendelik sebel, kenapa anaknya itu tidak peka sekali.
"Ohhh.... Eehhh... Emang di mana cucu mami, kok nyarinya kesini?" kaget Rangga, yang menganggap anaknya bukanlah cucu dari orang tuanya, berhubung dia sudah dikeluarkan dari kk orang tuanya.
"Anak kurang ajar, kau itu lahir dari perut siapa?" kesal sang Mami.
"Dari perut Mami." polos Rangga.
"Sudah tau kau anak kandungku, trus anak mu itu cucu siapa haa, cucu mbok Ijah" kesal sang Mami melotot ke arah Rangga.
" Cucu Mami lah..." jawab Rangga singkat.
"Nah, sudah tau anakmu itu cucu Mami, lalu kenapa kau masih nanya." ketus Mami Inge.
Glek.....
"Salah tanya rupanya." gumam Rangga, walau Maminya berkata ketus, tapi kini Rangga sadar, Maminya mulai membuka hati untuk dirinya, walau melewati sang anak, tentu saja hati Rangga menghangat mendengar penuturan sang Mami, karena anaknya di akui oleh Maminya.
__ADS_1
Bu Rully dan bu Rt hanya bisa tepuk jidat dengan kelakuan ibu dan anak itu.
"Haaiii.... Oma... Kenalin aku Abizar anak Bunda Rania sama Ayah Rangga, cucunya Oma sama Opa." ujar Bu Ruly membawa Abizar menemui sang Oma.
"Woaaa.... cucu Oma ganteng banget." pekik Mami Inge berkaca kaca melihat bayi mungil yang berada di gendongan Bu Ruly itu.
"Sini bu, kasih ke saya," ujar Pak Yudist melihat sang cucu pertamanya, walau cucu pertama dia dapat dari anak bontotnya, matanya lansung berbinar, ini yang dia tunggu tunggu dari dulu, menginginkan seorang cucu, untuk melepas lelahnya, tapi apalah daya, anak pertamanya belum bisa memberikan dia seorang cucu, anak ke dua malah belum mau menikah, masih trauma dengan sang mantan, kini dia dapat dari anak bontotnya, mungkin melalui sang cucu Tuhan menyuruh mereka berbaikan.
"Heh... Ngak ada Mami dulu ya." serobot Mami inge lansung mengambil Abizar dari tangan Bu Ruly, tidak rela rasanya klau suaminya tang duluan memeluk cucu pertamanya itu.
Pak Yudist hanya bisa mendengus sebel ke arah sang istri, karena tangannya hanya bisa memeluk angin, cucu tampannya sudah berada di tangan sang istri.
"Cucu Oma ganteng banget sayang, di kasih ASI ngak Nia," tanya Mami inge, walau mata masih tertuju kepada cucunya, tapi dia tetap bertanya kepada sang menantu.
"Full ASI Mi, Alhamdulillah... ASI aku banjir," ujar Rania.
"Syukur lah, kasih ASI sampai dua tahun ya, itu Mami beli vitamin pelancar ASI juga untuk kamu, biar si sholeh Mami ini semakin kuat dan cerdas." ujar Sang Mami, dengan berkaca kaca.
"I- Iya Mi, makasih." ujar Rania terharu, ternyata dengan kelahiran sang buah hati, mereka bisa bicara seperti ini, tidak seperti biasanya, klau bertemu selalu tarik urat, dan tidak menyangka lagi sang Mami juga memikirkan sedetail mungkin kebutuhan anaknya, Rania merasa terharu, rupanya sang anak bisa merasakan kasih sayang Oma dan Opanya, padahal Rania tidak bisa berharap banyak selama ini, namun apa ini, Tuhan maha membolak balikan hati manusia, dengan kelahiran cucu mereka, seketika ke egoisan Oma Opa itu lansung hilang entah kemana.
"Maafin Oma nak. hiks.... sudah jahat sama orang tua kalian, Oma mengaku salah, tidak seharusnya Oma membanding bandingkan Ayah kamu dengan Om Om kamu, dan Oma sangat jahat kepada orang tua kamu, jangan benci Oma hiks." isak Mami Inge menunduk menatap sang cucu, yang menyesali kesalahannya.
"Mi, jangan menangis, semua sudah berlalu, kami sudah memaafkan Mami kok, jangan menangis, nanti Abizar juga ikut menangis melihat Omanya menangis" ujar Rangga, sungguh hatinya sejuk mendengar ucapan sang Mami, namanya seorang anak, bagaimana pun perlakuan kasar orang tua, namun anak yang baik, tidak mungkin bisa membenci orang tuanya, mungkin ini jawaban di setiap do'a do'anya selama ini, yang menginginkan orang tuanya menerima dia sebagai anak, walau tau dia tidak sepintar ke dua abangnya, tapi bukan bearti dia bodoh, buktinya sekarang bengkel Rangga itu sangat berkembang pesat, bekerjasama dengan orang dalam maupun luar negeri, tidak hanya di bengkel, lukisan Rangga pun sangat di kenal di mancanegara, dia juga mempunyai kos kostan elit di kota itu, dia bisa bersaing dengan sang kakak, walaupun dia hanya tamatan SMA, tapi bisa di sejajarkan dengan mereka yang sudah S3.
"Maafin Papi juga Nak, Papi salah, Papi egois, Papi hanya memandang gengsi, sehingga Papi menyakiti kamu." ujar Pak Yudist.
"Tidak Apa Pi, ini semua pelajaran buat kita, jadi kita saling memaafkan, dan saling mengingatkan klau ada yang salah." ujar Rangga dia tidak ingin ke dua orang tuanya terus terusan meminta maaf kepadanya.
"Terimakasih... kamu memang anak baik." Pak Yudist memeluk putranya itu dengan hangat.
"Ooo... Jadi gitu, kalian datang ke sini, ngak ngajak ngajak kami."
Bersambung.....
__ADS_1