
"Sayang, bangun yuk, sudah masuk waktu shubuh, nanti telat loh...." ujar Rangga dengan lembut membangunkan sang istri yang masing di buai mimpi indahnya.
"Eegghhh...." Rania menggeliat dan dan mengucek ngucek wajahnya. Rangga terkekeh melihat tingkah lucu sang istri apa lagi bibir istrinya itu mengerucut.
Dengan telaten Rangga membantu sang istri untuk duduk dan membenarkan rambut sang istri yang acak acakan karena bangun tidur.
"Mandi gih, mau sholat berjamaah atau mau sholat sendiri?" tanya Rangga memandang lembut sang istri, dia sendiri sudah selesai mandi.
"Mau sholat berjamaah saja, besok aja kakak ikut sholat di Mesjid, ujar Rania memeluk tubuh sang suami.
"Baiklah, sekarang ayo mandi." ujar Rangga.
"Gendong ya..." manja Rania.
"Baiklah. Tuan putri" ujar Rangga.
Rangga membopong tubuh istrinya seperti anak kecil.
"Kakak. Hari ini kerja?" tanya Rania di dalam gendongan sang suami.
"Ngak sayang, lusa aja kakak mulai kerja, barengan sama kamu kuliah. Kakak kerja juga sambil nunggu kamu libur kuliah, setelah itu. Baru kita pergi bulan madu." ujar Rangga, menurunkan sang istri di depan pintu kamar mandi yang tidak terlalu besar itu.
__ADS_1
"Kita ke Labuhan Bajo aja yuk. Kak?" tanya Rania manja.
"Baiklah yang bagus menurut istri kakak aja, kakak nurut aja, yang penting, kamu senang sayang." ujar Rangga mencolek dagu sang istri.
"Aaakkk.... Makin cinta deh, sama kakak." ujar Rania mengedipkan mata genit.
"Jangan mancing mancing sayang." ujar Rangga mencubit gemes dagu Rania.
Rania hanya nyengir kuda, dan masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan badannya.
"Saat masuk ke dalam kamarnya, Rania menatap sajadah dan mukenanya, sudah di sediakan oleh sang suami, dia begitu terharu melihat itu semua, sudah lama tidak ada menyediakan seperti ini, dulu Ayahnya yang selalu menyediakan alat sholatnya, dan sekarang suaminya, dua laki laki yang Rania cintai, namun yang satu sudah beda alam dengannya.
Mata Rania berkaca kaca melihat itu, dia teringat dengan sang Ayah, tugas Ayahnya kini di ambil alih oleh sang suami.
"Ngak apa apa, aku ke ingat Bapak aja, dulu. Setiap subuh Bapak menyediakan peralatan sholat aku, sekarang kakak yang melakukannya, aku jadi ingat Bapak" ujar Rania serak.
"Jangan sedih, sekarang sudah ada kakak, kakak yang akan gantiin tugas Bapak, mulai hari ini, ok" ujar Rangga ingin memeluk sang istri, namun dia sudah berwudu' takut batal.
"Makasih kak, aku memang ngak salah pilih suami." kekeh Rania.
Rangga pun ikut terkekeh.
__ADS_1
Mereka sholat berjama'ah di kamar yang tidak terlalu luas itu, namun kamar itu serasa sangat damai karena begitu bahagia menjalankan ibadah bersama, bukan hanya itu, Rania dan Rangga juga melakukan sambung ayat di kamar itu.
"Suara kamu merdu sekali, sayang." ujar Rangga.
"Kakak juga sama" ujar Rania jujur, dari dulu dia memang tertarik dengan suara merdu Rangga saat mengaji di musholah sekolah saat SMA dulu, mereka saling kenal di acara kajian tiap pulang sekolah di hari jum'at, Rania dan Rangga tergabung di dalam kajian itu, walau Rania belum berhijab, namun pakaian nya cukup sopan.
"Sayang?!" Panggil Rangga lembut, menepuk pahanya, agar sang istri naik ke pangkuannya.
Rania yang tau kode itu, lansung saja duduk paha sang suami, dan menyenderkan kepalanya di dada bidang Rangga itu.
"Apa kak?" jawab Rania, dia tau sang suami pasti ingin bicara sesuatu kepadanya.
"Rambut kamu indah sekali" puji Rangga.
"Ya iya lah, kan aku rawat, walau ngak ke salon" jujur Rania.
"Tapi kakak ngak ingin Rambut dan tubuh mu di nikmati orang lain, kakak cemburu." ujar Rangga.
"Maksud kakak, aku pakai jilbab gitu?" tanya Rania.
Rangga mengangguk pelan takut sang istri tersinggung, namun itu kewajiban dia menuntun sang istri, ke jalan yang lebih baik lagi.
__ADS_1
"Baik lah, aku akan pakai hijab, aku mau jadi istri yang patuh sama suami" ujar Rania semangat.
"Istri kakak yang terbaik..." ujar Rangga memeluk sayang sang istri.