
"Bu... Ajeng kemanasih kok belum pulang, ini sudah larut malam loh bu." ucap Pak Tri yang khawatir sama anak perempuannya.
"Mana Ibu tau, coba Bapak telpon aja dia." acuh Bu Lia, memang lah begitu bu Lia alih alih khawatirin anaknya malah asik nonton drama kesukaannya.
"Ibu ini gimana sih, sama anak sendiri ngak ada perdulinya!" kesal Pak Tri.
"Sudah gede ini pak, bisa jaga diri kok dia, biarin dia keluyuran, cari jodoh kali, masa sudah tu belum nikah nikah juga, kalah sama Rania." ketus Bu Lia.
"Main sih main bu, tapi tau waktu juga, ini sudah tengah malam, belum pulang juga, ibu ini kebiasaan ngak ada perhatian sama anak." kesal Pak Tri. Bu Lia hanya cuek dan masa bodo.
Sementara orang yang di khawatirin sedang menikmati indahnya pergumulan yang baru pertama kali dia rasakan.
Awalnya memang dia menangis sudah kehilangan kegadisan yang dia jaga selama ini, namun entah apa yang di ucapkan oleh Jek membuat dia kembali tenang, dan mau di hiya hiya in lagi dan lagi oleh laki laki play boy dan licik itu.
"Jek... Ahh... A ku, ma u pu la ng." ucap Ajeng di bawah gempuran Jek, dia tetap ingat sang bapak, pasti bakal khawatir klau dia belum pulang.
Namun laki laki play boy itu mana mau melepaskan Ajeng begitu saja, sudah banyak yang dia ajak tidur, namun tidak satupun yang seperti Ajeng, semua sudah longgar bak karet gelang, dan sekarang dia baru mendapatkan benar benar murni, mana lah bisa dia melepaskan wanita itu, malah dia mau lagi dan lagi menggagahi wanita yang di bawah kungkunganya itu, dia benar benar menikmati tubuh Ajeng, rasanya benar benar beda dengan para ****** yang biasa dia sewa.
"Be so k sa ja, sekarang nik mak tin ini dulu." ujar Jek yang tidak perduli dengan ke khawatiran Ajeng, dia terus memompa Ajeng dengan begitu dahsyatnya, membuat Ajeng selalu menjerit nik mat di bawah sana.
"Tapi Bap.... mmm.." Jek tak ingin Ajeng terus bicara yang tidak tidak, dia lansung membungkam mulut wanita itu, agar tidak menceracau lagi, dan tangannya asik memencet squishy yang masih sekal itu dengan gemas.
Jek merasa beruntung mendapatkan Ajeng, walau kelihatan gadis nakal, dengan memakai baju ****, namun perempuan itu masihlah bisa menjaga kehormatannya, Jek begitu senang dia lah laki laki pertama menjamah lobang belut Ajeng itu.
Dia tidak akan melepaskan Ajeng, dia akan terus membuat wanita itu terikat dengannya, dia tau wanita di bawah kungkungannya ini cewek mata duitan, dia akan selalu mengiming imingi duit untuk Ajeng, agar perempuan itu selalu menempel kepadanya, tanpa harus di ajak nikah, menikah itu bagi Jek sangat merepotkan.
Sementara Pak Tri semakin gelisah menunggu sang putri pulang.
"Sudah lah pak, ayo tidur, paling dia nginap di rumah temannya." tegur Bu Lia.
"Tapi dia ngak nelpon loh bu." keluh Bu Lia.
"Ya elah, paling hpnya mati, apa lagi sekarang sudah mau dini hari, sudah tidur dia kali." kesal Bu Lia.
__ADS_1
"Ayo tidur..." ajak Bu Lia, menarik tangan suaminya ke kamar, mau tidak mau Pak Tri mengikuti istrinya itu ke dalam kamar.
Pagi menjelang. Rania sedang asik memasak di dapurnya, dia membuat sarapan untuk sang suami dan juga untuk dirinya.
Sementara Rangga setelah habis shubuh tadi kembali tertidur, karena semalam dia bergadang menyelesaikan sebuah lukisan permintaan dari langganannya.
"Masak apa sayang..." tegur Rangga, memeluk sang istri dari belakang.
"Astaga Kakak..." omel Rania, dia kaget dengan ke dagangan Rangga yang tidak bersuara itu.
"Hehehe... Maaf sayang. Kakak ngagetin kamu." ujar Rangga dengan rasa bersalahnya, dan tidak lupa mengecup pipi sang istri.
"Kenapa sudah bangun?" tanya Rania membalikan tubuhnya, dia menghadap ke arang sang suami.
"Ngak ada guling hidup kakak, jadi ngak bisa tidur lagi." kekeh Rangga.
Rania hanya terkekeh dengan ucapan sang suami.
Namun di tahan oleh Rangga.
"Kakak mau sarapan yang lain dulu." bisik Rangga, dia tidak tahan melihat sang istri memakai baju tidur yang menerawang, mempertontonkan lekuk tubuhnya.
"Semalam sudah ihhh..." omel Rania.
"Semalam Kakak belum puas, karena ada kerjaan, sekarang minta nambah." ujar Rangga, dan lansung membopong tubuh istrinya ke dalam kamar.
Rania hanya pasrah, dengan kelakuan suaminya itu, di larang juga percuma, Rangga klau belum dapat, dia tidak akan berhenti untuk merayu Rania.
Sementara di tempat berbeda Ajeng bangun dari tidurnya.
"Astaga, badan gue, sakit semua." gumamnya."
"Haiii... Sudah bangun." tanya Jek, dia baru keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Hmmm..." jawab Ajeng dengan wajah merona, dia sangat malu dan juga menyesal, sudah melakukan dengan Jek, laki laki itu bukan suaminya, tapi Ajeng menyerahkan harta berharganya kepada Jek tanpa di nikahi, namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur dan dia juga menikmati itu semua.
"Kenapa hmmm... Malu ya, ngak usah malu, aku sudah melihat setiap inci dari tubuhmu. dan aku sudah keluar masuk di sana." ujar Jek menunjuk area sensitif Ajeng itu.
"Dasar mesum....!" pekik Ajeng, dia sungguh kesal dan malu dengan ucapan laki laki itu, dengan begitu entengnya membahas hal tabu itu.
Jek terkekeh dengan tingkah wanitanya itu, ya dia menganggap Ajeng adalah wanitanya seorang, yang akan setiap saat bisa dia ajak bergumul mesra, tanpa ikatan.
"Sudah mandi gih. kau tidak lapar?" tanya Jek.
"Hmmm... Ini mau mandi, tapi pakaian ku gimana?" ujar Ajeng, karena bajunya sudah tidak berbentuk lagi di buat oleh Jek.
"Tenang saja, aku sudah pesan pakaian untuk mu, sekarang mandi sana." ujar Jek.
Ajeng hanya menurut dan berjalan ke kamar mandi dengan tertatih, dia rasa pasti itunya sudah lecet dan membengkak.
Jek yang melihat cara jalan Ajeng itu, merasa tidak tega, dia berjalan dan membuka selimut di tubuh Ajeng secara cepat.
"Kyaaaa.... apa yang kau lakukan!" pekik Ajeng menutup daerah sensitif nya.
Aku akan membantu mu ke kamar mandi, aku ngak tega lihat jalan kamu yang seperti siput itu." kekeh Jek.
Ajeng hanya mendengus kesal kepada Jek. bagaimana tidak kaya siput dia berjalan, ini semua kan ulah laki laki itu.
"Mandi lah, aku akan membeli obat dulu, sekalian membeli makan." ujar Jek, namun sebelum itu dia sempat sempatnya, meremat pepaya bangkok yang sedang menjuntai tanpa pelapis itu.
"Ahhh... kau..." kesal Ajeng.
Jek hanya terkekeh mendengar omelan Ajeng tersebut, dia berlalu dari kamar mandi itu.
"Dasar laki mesum" kesal Ajeng memandang kepergiam Jek itu.
Bersambung...
__ADS_1