Bersamamu Aku Bahagia

Bersamamu Aku Bahagia
Bab 59


__ADS_3

"Itu si Leni kemana lagi sih sama calon mertuanya, sudah jelas besok mau menikah, sekarang masih aja keluyuran." oceh Lina tidak suka dengan Leni yang di ajak naik mobil mewah oleh calon mertuanya.


"Kepo banget sih kamu Lin, mau kemana kek urusan dia lah sama calon mertuanya ini." cibir Bude, yang gedek melihat kelakuan Lina itu, orang dari semalam sudah krasak Krusuk bekerja di rumahnya, namun Lina santai santai kaya nyonya, tanpa mau membantu orang bekerja, ada makanan yang di suguhkan untuk orang orang yang membatu di rumah itu, dia yang duluan memakannya.


"Kata kakak mau ke salon di ajak sam mertuanya biar besok penampilan kakak fresh." ujar Randi memanasi sang kakak, biar tau rasa si nenek lampir itu, sinis Randi dalam hati.


"Aappaaa.... Ke salon? wah, keterlaluan sekali masa aku ngak di ajak sih, mana ibu ikut lagi, kesal Lina tidak terima, dia di tinggal sendirian, yang lain pada ke salon, membuat dia meradang, padahal tadinya si ibu ngak mau ikut, tapi di bujuk oleh Rangga dan Lina, dari pada di rumah mendengarkan celotehan Lina yang membuat sang ibu sakit kepala, Randi mengusulakan ke kakaknya agar membawa sang ibu, alhasil ibunya mau ikut, semua di tangani oleh Randi dan Bude.


"Keterlaluan bagaimana?, orang yang mau jadi pengantin kan Leni, yang akan mendampingi ibu kamu ya wajar dia ikut perawatan, biar kelihatan segar." ujar bude santai, padahal asli dalam hatimu ngakak melihat wajah kesal Lina itu, entah kenapa dari dulu bude tidak menyukai keponakannya itu, lebih sayang kepada Leni yang baik hati, dan bertanggung jawab kepada ibu dan adiknya, dari pada kepada Lina.


"Huuhh... aku ka. juga ingin kelihatan segar kali bude, aku juga ingin perawatan, masa Leni sama Ibu saja sih." dumel Lina.


"Ya sudah perawatan saja sana, pakai uang sendiri, itu aja kok repot." ujar Bude.


"Ogah ngeluarin duit sendiri, klau ikut mereka kan aku bisa gratis, dan bisa minta perawatan apa saja," ujar Lina tidak tau diri.


"Mau cantik keluarin biaya, klau ngak mau keluar biaya, ngak usah banyak gaya, klau ngak dapat mertua baik kaya Leni sudah kaya, baik hati, sayang menantu pula." kompor bude.


"Isss... Bude, klau kaya mertuaku juga kaya, tapi medit ngak mau kasih uang sama aku, boro boro juga dia mau sayang sama aku." keluh Lina.


"Itu bukan dia yang medit dan ngak sayang sama kamu, kamunya aja yang ngak bisa bawa diri sama mertua, main ke rumah mertua ngak mau bantu bantu dia kerja, ngak bisa ngambil hati mertua kamu, dan jangan sesekali jelek jelekin mertua kamu, bukannya tiap bulan mertua kamu ngasih uang untuk kalian," ucap Bude, bude sangat tau dengan mertua Lina itu, rumah mereka sebelahan dan mertuanya Lina memang kaya, setiap jum'at suka berbagi sama orang yang kurang mampu, tiap bulan juga ngasih uang untuk cucu cucunya, dasar Luna saja yang tidak tau bersyukur, di kasih mertua sedikit minta banyak, mana lah ada begitu.


Lina memutar mata malas dan masuk ke dalam rumah, niat hati ingin masuk ke kamar sang adik, mau tidur tiduran di kasur mahal Leni itu, namun sayang seribu sayang, kamar itu sudah di kunci oleh Randi, mana mau dia kamar pengantin kakaknya yang sudah di hias orang berantakan lagi ulang kakak pertamanya itu.


"ihsss.... kok di kunci sih, gue kan pengen tidur juga di sana." kesal Lina menendang pintu kamar Leni.

__ADS_1


"Ngapain lu." tegur Randi.


"Mana kuncinya, gue mau tidur di dalam." pinta Lina dengan tidak tau diri.


"Tidur di kamar lu, lu pikir kar itu milik lu, jangan suka sama barang orang, punya sodara sendiri aja lu iri mulu," ketus Randi.


"Adek siapa lu." kesal Lina pergi ke kamarnya, dia lihat anak dan suaminya lagi tidur di ranjang mereka dengan pulas, padahal di luar orang lagi sibuk bekerja, memang sama aja laki bini, membuat sana sini kesal.


"Mana dia Ran?" tanya bude.


"Masuk kamar, tadi mau masuk kamar kakak, untungnya aku sudah kunci duluan," ujar Randi.


"Astaga, anak itu, gimana orang mau sayang sama mereka, bikin jengkel melulu, orang lagi sibuk, mereka malah enak enakan tidur, giliran makan aja cepat." keluh Bude tidak habis pikir.


"Sudah ngak aneh bude, makanya, aku bilang kakak, klau beli apa apa, ngam usah di stok di rumah, kira kira habis sekali makan atau pakai saja, kasian kakak sudah capek capek kerja dan stok untuk seminggu, yang ada dia berangkat kerja, semua yang dia beli raib di bawa no si curut." ujar Randi.


"Iya, kakak, kakak yang nyebelin, kurang perasaan." gerutu Randi, dia keluar rumah melihat orang masang tenda dan pelaminan, yang di hiasi bunga hidup, dan sangat wangi, sungguh Randi terpukai melihat dekorasi itu, belum selesai saja sudah cantik, apa lagi klau sudah selesai, mangkin bagus, yang di bilang pesta sederhana untuk mertua kakaknya itu, bagi Randi itu pesta mewah dalam hidupnya, di rumahnya sendiri, bahkan di kampung mereka.


Sementara bude, membantu ibu ibu di sana membuat makanan rumahan, walau sudah di bilang ngak usah repot repot namun tetap saja Leni minta tolong membuat, agar, bolu, kue pukis dan beberapa kue tradisional lainnya.


"Si Leni, katanya pesta sederhana, namun buktinya, pesta dia yang pelaminan paling mewah di kampung kita," celetuk ibu ibu di sana.


"Iya, bahkan anak Pak Lurah saja kalah sama Leni." sahut yang lainnya.


"Ini kan sederhana versi mertuanya Leni bu ibu." ujar Bude terkekeh, dia sendiri juga sangat kagum melihat dekorasi pelaminan ponakannya itu.

__ADS_1


Sementara di salon sana Leni, ibunya dan Calon ibu mertuanya, sedang melakukan luluran, crembat, dan masker wajah, tentu saja Leni lebih banyak melakukan perawatan, karena dia lah yang akan jadi ratu sehari.


"Haduhhh... bu serasa jadi muda lagi saya, sudah lama saya ngak pernah ke salon, sekarang masuk lagi melakukan perawatan, jadi canggung saya." celoteh ibu Leni.


"Nanti klau ada waktu senggang kita ke salon lagi bu bareng bareng." ujar calon besan si ibu.


"Hiii... ngak usah lah bu, pemborosan lah." tolak ibu.


"Sesekali ngak pa apa bu, menikmati hidup." Mama Albi itu terkekeh melihat wajah panik calon besanya itu.


"Itu Lina kenapa ngak di ajak saja tadi sekalian bu?"


"Ha... ngak usah bu, nanti ngelunjak dianya. saya jadi malu." tutur Ibu.


"Bu, ma." panggil Leni yang sudah selesai melakukan perawatan dan sedikit memotong rambutnya, dan dia kelihatan lebih cantik dan lebih segar.


"Wahhh... mantu mama mannglingin banget." pekik calon mertua Leni itu, melihat sang calon menantu yang sudah terlihat cantik.


"Ma syaa allah nak, kamu cantik banget." puji sang Ibu, melihat anak gadisnya sangat cantik.


"Aahhh.. ibu mama, aku kan jadi malu." ujar Leni bersemu merah, karena dapat pujian dari ke dua wanita paruh baya tersebut.


"Sudah ayo kita pulang, sebelumnya kita makan dulu, kamu abis itu istirahat, ngak usah ngapa ngapain, besok pasti capek seharian." titah camernya itu.


"Iya, ma." patuh Leni.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2