
"Bu..." panggil Lina kepada sang ibu yang sedang makan bersama Randi.
"Hmmm... kamu sudah datang Lin, sini makan, mana anam sama suami kamu?" tanya si Ibu.
"Ada, tuh di depan, kalian enak banget bisa makan enak, ngak mikirin kami yang makan seadanya di kontrakan." cerocos Lina, ingin sekali menyumpal mulut kakaknya itu, sudah lah tidak pernah membantu ibunya dan selalu membuat ibunya susah, dan suka membawa apa aja yang ada di rumah ibunya ke kontrakan, membuat Leni suka meradang dengan kelakuan sang kakak.
"Kak, klau lu mau makan ya tinggal makan, ngak usah mendrama mulu hidup lu, emang lu pikir gue ngak tau, tadi lu habis makan di angkringan yang lagi viral itu, ngak jangan kan lu bawain buat kami, ibu saja ngak lu ingat, dasar anak durjana lu, sekalinya ibu di kasihakan enak sam kak Leni, lu kek orang apaan tau." sinis Randi, kesal melihat kakak pertamanya itu, memang lah Randi tidak pernah horamat kepada kakaknya itu, dia lebih hormat kepada Leni, dan hanya patuh kepada sang ibu dan kakak ke duanya itu.
"Heh... bocah, ngak ada sopan sopannya sih lu sama gue, ingat ya, gue ini kakak pertama lu, kenapa lu ngak ada sopanya sama gue." kesal Lina.
"Lu mikir aja sendiri." sinis Randi, dan mengambil nasi ke dalam piring beserta lauk pauk nya, dan membawa ke dalam kakaknya Leni, dia sendiri sudah makan, namun dia takut kakaknya belumakan, dan juga takut lauknya akan di habisin oleh Lina si kakak durjana.
"Ncek, segala di manja tuh anak, ngak usah di ambilin juga kali nasinya, klau ngak mau makan biarin aja." ujar Lina yang cemburu dengan perhatian Randi kepada Leni.
Randi malas mendengar ocehan Leni itu, dia persija dari meja makan, dan masuk ke kamar sang kakak.
"Kak, makan dulu." ujar Randi mengguncang kaki Leni.
"Ehhhh..." lenguh Leni yang benar benar tertidur, setelah bepergian dengan calon mertuanya itu, capek sekali badan wanita tangguh itu.
"Apa dek." ujar Leni megusap matanya.
"Makan dulu," suruh Randi sambil duduk di dipan single milik sang kakak.
"Kalian sudah makan, kakak nanti aja, kenapa sampai di bawa ke kamar sih." ujar Leni, namun tanganya tetap mengambil piring itu dari tangan sang adik.
"Klau ngak ada kucing garong sih ngak masalah, ini ada dia, yang ada kakak ngak ke bagian." gerutu Randi.
"Hus... kamu ngak boleh gitu, dia itu juga kakak kamu loh..." ujar Leni.
"Iya, kakak yang selalu bikin kuping keluar asap." dengus Randi dengan wajah cemberut, membuat Leni terkekeh.
__ADS_1
"Kamu masih mau, nih makan, kakak sudah kenyang." ujar Leni menyodorkan piring ke arah sang adik, dia tau adiknya itu masih pengen kelihatan banget dari yang menjulang di dalam piring, yang bukan porsi makan Leni, dan juga cara tatapan mata sang adik.
"Hehe... tau aja kakak, aku malas makan di luar, bikin selera makan hilang aja, mana makanan enak banget lagi, kan jarang jarang kita makan kaya gini, ehhh... si kaleng rombeng pakai datang lebih awal." gerutu Randi sambil menyuap makanan ke dalam mulut nya, Leni hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan sang adik, dia hanya pindah makan ke kamar Leni, karena ada yang membuat acara makannya terganggu.
Sementara di luar Lina sedang merengek kepada ibunya.
"Bu, Leni kan nikah ngak pakai uang dia sendiri tuh, tolongin akulah pinjamin uang sama dia, ngak banyak kok 10 jt aja cukup." ujar Lina santai.
"Astaga Lina, kamu ini kapan sih ngak nyusahin adik kamu dan ibu, apa tadi uang 10jt, kamu pikir adik kamu itu punya pohon duit, belum lagi uangnya untuk biaya berobat ibu dan menyekolahkan Randi dan belum untuk makan sehari hari, mikir atuh Lina, kamu jadi kakak pikirannya dimana sih," kesal sang ibu.
"Ibu kan ngak tau gimana biaya hidup kami, mana kami ngontrak pula, sedangkan kalian di sini ngak ngontrak, pasti ada lah uang Leni itu," ujar Lina yang belum mau menyerah.
"Salah kamu sendiri, kamu sudah di kasih bagian kamu, kenapa harus ngontrak, gaya gayaan ngontrak di rumah mewah segala." kesal si Ibu.
"Ihhh... lagian rumah jatah aku jelek, ngak kaya teman teman aku rumahnya pada bagus bagus semua, ya malu lah bu." ujar Lina tak tau diri.
"Terserah kamu, bukan urusan ibu, ibu bingung kamu ini turunan siapa sih, kenapa sifat kamu ini jauh banget dari sifat kami di rumah ini," kesal si ibu, pergi meninggalkan Lina di meja makan itu, males sudah dia sama anaknya yanh satu itu, membuat naik darah saja, untung cuma satu yang seperti itu, si Ibu lansung pergi ke kamar Leni menyisul ke dua anaknya.
"Iya bu." tanya Leni menggeser duduknya, agar sang ibu ikut duduk.
"Kamu klau ada uang, atau barang berharga simpan dengan baik, namanya kita bakal banyak orang di rumah, takut nanti hilang, dan satu lagi, jangan sampai kakak mu tau, dia sudah merengek mintak ibu minjam duit sama kamu 10 jt," ujarnya.
Uhuk... uhuk....
"Apa apaan, jangan mau kak," kesal Randi.
"Ya ngak lah, mending uangnya buat kuliah kamu lah, dia ke gedean gengsi ya gitu, duit juga buat foya foya, ngapain kakak ngasih." kesal Leni juga.
"Tuh, orang laki bini ngak berubah ubahnya, gengsi gede, isi dompet ngak ada." dengus Randi kesal.
"Ya sudah ibu keluar dulu, nanti dia drama lagi, pusing ibu, mana banyak orang." ujar si ibu lalu beranjak keluar kamar.
__ADS_1
"Len," panggil bude dari luar kamar.
"Ya bude."
"Itu, ada yang nganter perabotan di depan.
"Maksudnya bude?" bingung Leni yang tidak merasa memesan apa pun.
"Di depan ada orang suruhan mertua kamu, bawa tempat tidur, lemari dan macam macam, keluar sana." ujar Bude.
"Haaa..." kaget Leni lansung ke luar menemui orang suruhan mertuanya itu.
"Sore mbak, ini kami di suruh bapak nganter ini, trus di suruh masang sekalian." ujar orang itu.
"Aahh... tunggu ya mas, aku telpon dulu." ujar Leni, lansung berlari dan menelpon calon suaminya.
"Ya sudah mas, minta tolong di pasang di kamar sana, tapi maaf ya, tolong bongkar juga isi kamarnya, soalnya saya ngak tau klau bakal ada kiriman, saya belum membongkar isi kamar." ujar Leni tidak enak hati.
"Baik mbak, maaf ya kami masuk." izin beberapa orang suruh calon mertua Leni itu.
"Enak banget lu ya, bisa morotin keluarga Albi." cibir Lina, dia sirik melihat perabotan sang adik yang model terbaru, membuat rasa iri dalam hatinya meronta ronta.
Leni yang waras, hanya mengedikan bahu, dan membantu orang orang membongkar kamarnya, dan beruntungnya isi kamar Leni tersebut tidak banyak, dan tempat tidur single milik Leni itu di pasang di ruangan yang berada di samping rumah mereka, tempat biasanya Randi berkumpul sama teman temanya.
"Makasih ya mas, ini buat beli rokok." ujar Leni menyelipkan beberapa lembar uang berwarna biru ketangan suruhan calon mertuanya itu.
"Makasih mbak kami pulang dulu." izin orang tersebut, setelah ke pergian pengantar perabot, datang lagi tukang tenda, yang mau memasang tenda di halaman rumah Leni.
"Iihbh... aku dulu nikahnya ngak gini gini amat, kok dia bisa pesta sih." kesal Lina, tapi sayang tidak ada yang menyahuti ucapannya.m, semua orang tau banget dengan sifat iri Lina tersebut.
Bersambung....
__ADS_1