Bersamamu Aku Bahagia

Bersamamu Aku Bahagia
Bab 44


__ADS_3

Malam ini Rania dan Rangga menghadiri sebuah acara ulang tahun, sebuah perusahaan mobil terkenal, dan kini bekerjasama dengan Rangga itu.


Dia datang dengan gagahnya memakai jas berwarna hitam, dan senada dengan gaun sang istri, baru kali ini mereka di undang oleh perusahaan besar ke sebuah pesta, tentu saja. Rangga sedikit grogi, namun Rania sang istri selalu menenangkan Rangga.


"Kakak grogi sayang." bisik Rangga.


"Jangan grogi, ada aku bersama kakak, aku tidak akan meninggalkan kakak seorang diri, jadi. Tenang lah." ujar Rania, sambil berjalan di karpet merah itu, dan banyak para wartawan mengambil foto foto mereka.


"Selamat datang nak Rangga, nak Rania." sambut Tuan rumah dengan ramah kepada sepasang suami istri itu.


"Selamat ya pak, atas suksenya usaha bapak. semoga kedepannya akan lebih berkembang lagi." ucap Rania dengan sopan, dan di anggukin oleh Rangga.


"Terimakasih... atas do'a kalian, in sya allah pasti berkembang, apa lagi kami sudah bekerjasama dengan bengkel R&R." puji Tuan rumah.


"Ah... Bapak bisa aja, klau gitu kami ke sana dulu pak." ujar Rania dengan sopan, karena di belakang mereka masih panjang antrian.


"Ahhh... Iya, silahkan mencicipi menunya." ucap si Tuan Rumah.


Ternyata di acara tersebut bukan hanya yang punya acara saja yang Rania dan Rangga kenal, ternyata banyak juga para customer mereka ada di sana.


"Waahhh... Kalian ada di sini juga." ucap salah satu orang yang mengenal Rangga dan Rania.


"Iya pak, kami dapat undangan juga." ucap Rania dengan senyum terbaiknya.

__ADS_1


"Siapa bro.?" ujar salah satu dari mereka.


"Ohhh.... Iya, kenalkan, mereka pemilik bengkel R&R yang gue ceritain." ujar Doni.


"Waahh... ternyata masih muda banget ya, kalah loh kita kita sama mereka." puji teman Doni.


"Benar banget, saat kita mewarisi perusahaan milik keluarga kita, mereka malah merintis dari nol, dalam satu tahun sudah di kenal sampai keluar kota." puji Doni.


"Ahhh... si abang bisa aja." kekeh Rangga tidak enak hati.


"Ehhh... ngomong ngomong, kamu dulu kuliah di mana, kok bisa dengan cepat membuat usaha kalian maju?" tanya Salah satu teman Doni.


"Saya tidak kuliah bang." jujur Rangga.


"Apa...." kaget mereka tidak percaya.


"Saya hanya otodidak bang. Kerja paruh waktu di bengkel bos saya dulunya, setelah menikah saya buka bengkel sendiri." ujar Rangga yang tidak mau menutupi apapun dari orang banyak, dan memang itu kenyataannya.


"Waahhh... kami benar benar salut sama kamu Nga, saya penasaran, ingin lihat cara kerja kamu secara lansung." ucap Teman Doni.


"Silahkan Kak, datang saja ke bengkel kami, kami dengan senang hati menerima kalian." ucap Rangga sumringah.


"Baiklah, nanti kami ke sana ya, ini nomor saya, semoga setelah saya melihat cara kerja dan melihat bengkel kamu, kita bisa menjalin kerjasama juga." ucap tenam Doni dengan semangat.

__ADS_1


"Kamu dari keluarga mana sih Ngga, saya yakin kamu bukan lah orang sembarangan, pasti ada bakat dari keluarga mu?" tanya Doni.


"Saya bukan dari keluarga mana pun bang." ucap Rangga namun di sela oleh seseorang dari belakang.


"Bohong, dia adalah anak bontot saya, yang tidak pernah mau di perkenalkan ke orang banyak." ujar Papi Rangga dengan menyahut tiba tiba.


"Astaga, orang ini. Pintar sekali memutarkan fakta, awas kau. ku buka kedok kalian di sini, jangan salahkan aku klau berbuat jahat, itu karena kalian sendiri," gumam Rania sambil tersenyum sinis ke arah Papi Rangga itu.


Doni dan kawan kawannya, lansung menatap tidak percaya kepada Papi Rangga itu, karena setau mereka selama ini Tuan Yudist hanya memperkenalkan anak mereka hanya dua di halayak ramai, mengapa tiba tiba mengaku sebagai orang tua Rangga.


Rangga hanya menatap malas kepada papinya itu, kanapa dia seolah olah bangga sama Rangga bukankah selama ini, papinya tidak pernah menyukai dirinya, apa karena dia sekarang bisa mampu bersaing dengan perusahaan perusahaan ternama, jadi baru dia mengakui Rangga sebagai anak, oh... tidak semudah itu, dan di tambah, hatinya sudah terlanjur marah, kepada papinya itu, apa lagi saat pertemuan terakhir mereka, beberapa bulan lalu, yang menyuruh dia melepaskan sang istri, dan meminta usahanya di kelola oleh sang abang, Rangga cukup berada di belakang layar, dan kakaknya lah yang pantas menjadi terkenal bukan Rangga, sungguh mengingat itu semua, hati Rangga kembali sakit.


"Siapa yang Tuan akui anak bungsu Tuan? bukan kah, anak bungsu Tuan itu Randi ya, setau saya anak Tuan hanya dua orang, masa ada anak lain selain Radit dan Rangga." ujar Rania dengan menatap mata mertuanya dengan dalam, tanpa ada takut takutnya.


Deg....


Pak Yudist lupa klau ada pawang Rangga di sebelah Rangga, pasti bakal runyam urusannya, namun dia sudah terlanjur mengatakan Rangga anaknya, tidak mungkin juga dia akan berbohong, pasti semua orang akan langsung mencari fakta itu.


"Rangga anak bungsu saya, anak saya ada tiga orang, Radit, Randi dan Rangga, namun Rangga jarang mau mengikuti acara keluar, dan memilih di rumah." ucap Pak Yudits.


"Yakin. Begitu ceritanya?" cibir Rania.


"Astaga kenapa anak ini, tidak bisa di ajak kompromi." gerutu Pak Yudist.

__ADS_1


Sementara orang orang di sana, hanya menjadi penonton dengan drama yang di mulai oleh Pak Yudist itu, mereka juga ingin kepo dengan urusan pribadi Pak Yudits orang terpandang di kota itu, mempunyai anak anak yang pintar, selama ini keluarga pak Yudist selalu sempurna di mata orang orang, dan mereka tidak tau klau ada salah satu anak yang tidak di kenal oleh orang banyak, terkesan di sembunyi kan, ada apa ini, membuat orang orang semakin penasaran.


Bersambung....


__ADS_2