
"Kamu istirahat dulu sayang, besok mama jemput jam 9 nan, masuk sana." titah bu Ranti kepada calon menantunya itu.
"Baik Ma, mama ngak mampir dulu?" tanya Leni.
"Ngak usah, mama juga mau istirahat, dan takut yang di rumah belum pada makan, salam saja sama ibu kamu." ujar Bu Ranti. tersenyum lembut sama Leni.
"Iya, Ma, nanti aku bilangin sama Ibu, mama hati hati ya." ujar Leni.
Setelah kepergian mama Albi itu, Leni baru masuk ke dalam rumah sederhana, yang tidak terlalu besar, dengan satu ruang tamu, tiga kamar tidur dan dapur yang menyatu dengan ruanh makan, dan kamar mandi, di dekat dapur, namun di setiap kamar ada kamar mandinya, ya dulu sebelum meninggal Ayah Leni sudah membangun rumah idaman untuk anak istrinya, yang tidak mewah namun cukup bagus untuk ukuran orang di kampung, bapak Leni tidak ingin pas saat anak atau istrinya habis mandi ada tamu, dan di lihat oleh tamu hanya memakai handuk, dia tidak mau itu.
"Kamu sudah pulang Len, mana mama Album, kok ngak di ajak mampir?" tanya ibunya.
"Baru nyampe bu, mama ngak mampir takut yang di rumah belum pada makan, jadi dia buru buru, tadi titip salam buat ibu." tidur Leni.
"Wa'alaikum salam..." jawab sang ibu.
"Kakak bawa apa?" tanya Randi melihat ada kantong di tangan sang kakak.
"Ohhh... ini tadi kami mampir makan di warung renda, dan ini di bungkusin sama mama Ranti untuk ibu sama kamu." sahut Leni, memberikan kantong di tangannya kepada sang adik.
"Waahhh.... di warung itu masakannya enak enak tau kak," ujar Randi dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Ya sudah klau gitu makan sana." titah Rani kepada sang adik.
"Baiklah, kalau kakak memaksa." ucap Randi terkekeh, tanpa di suruh kakaknya pasti lah dia akan makan, masalahnya ini makanan favorit nya, walau tidak sering makan di sana, tapi dia menyukai masakan di warung tenda tersebut.
Leni hanya memutar mata malas, mendengar jawaban sang adik.
"Len, kamu benar benar ya, cuma kasih bude harapan palsu, dan sekaligus bikin kaget bude, katanya mau ikut bude ke jakarta, tau taunya malah nikah, ngeselin kamu itu, mana bude sudah bilang klau sudah dapat pengganti pula sama bos bude, sekarang malah ngak jadi ikut, untung si Sari mau ikut bude, klau ngak matilah bude Len." cerocos bude yang panjang bak kereta api, karena kesal sama sang ponakan.
"Maaf bude, aku juga ngak tau, itu aku aja sudah beberes baju kok mau ikut bude, klau bude ngak percaya." ujar Leni tidak enak hati.
"Iya, ngak pa apa, bude senang kok kamu nikah, apa lagi nikah sama Albi, keluarganya pada baik kok, orang terpandang pula, malah milih kerja sama teman kamu itu, dari pada kerja ke kota, saking ngak mau pisah sama kamu, tapi Alhamdulillah... kerja sama teman kamu itu, dia makin sukses ya, sudah ada rumah sendiri pula." ujar Bude, dia tau yang kerja sudah lama dengan Rania dan Rangga, mendapat satu unit rumah, atau boleh mengajukan permintaan masing masing, dan akan di penuhi sang bos, walau cicilan ke kantor, tapi tidak sampai mencekek karyawannya, orang kampung sana sudah tau sepak terjang Rania dan Rangga, mereka mengangumi dua anak manusia itu.
"Iya bude, do'ain acara kami lancar ya, dan do'ain juga rumah tangga aku sama Albi langgeng ya bude." ujar Rania.
"Iti sudah kewajiban aku bude, dan mereka ngak tinggal dirumah saja aku sudah senang, kasian ibu mereka ribut mulu, ngak sama anak, sama suami, bukan aku ngak suka mereka di rumah, tapi ya gimana ya, kan mereka juga sudah berumah tangga, sudah sewajarnya hidup terpisah, apa lagi di sini ngak mau bantu bantu, aku risih ada kakak ipar laki laki di rumah bude." keluh Leni.
"Iya kamu benar, apa mereka mau datang pas kami nikah nanti?" tanya bude.
"Ngak tau bude, yang penting aku sama ibu sudah kasih tau, mau semarah apa pun mereka masih keluarga aku, kakak kandung ku." ujar Leni.
"Iya benar, yang penting kamu jangan cari masalah duluan dari dia, tau kok wataknya emang beda dari kalian berdua." ujar Bude.
__ADS_1
"Iya bude." sahut Leni.
"Ya udah istirahat sana, jangan kecapean, besok mau di ajak pergi lagi sama calon mertua." ujar Bude.
Baru juga mau istirahat, kakak Leni pun datang dengan wajah kesalnya, bersama anak dan suaminya.
"Bagus kamu ya, nikah ngak bilang bilang, sudah mau tiga hari pernikahan baru ngasih tau, kenapa ngak mau ngasih tau, takut duitnya di pinjam." sewot sang kakak.
"Astaga kak, mana ada kaya gitu, semalam orang tua Albi datang, dan niat hati mau lamaran duluan, tapi Albi minta lansung nikah, malam itu juga, aku ngak mau, jadi keputunsannya tiga dari malam itu kami nikah, mau ngak mau aku nerima aja." ujar Leni kepada sang kakak Lina.
"Kenapa buru buru sekali, apa kamu sudah bunting duluan?" sinis sang kakak.
"Astagfirullah... kakak. Jahat banget sih, mana ada aku hamil duluan, pacaran aja kami cuma sebatas pegangan tangan, ya kali cuma pegangan tangan bisa tek dung." sewot
"Kamu ini apaan sih Lina, bisa bisanya mikir kaya gitu, tega kamu sam adik kamu." kesal Bude.
"Sudahlah bude, biarin aja, emang begitulah sifat kakak, ngak usah di dengerin." lerai Leni.
"Heran bude sama sifat dia, siapa yang di ikuti sama dia, padahal ayah ibu kalian orang baik.
"Ihsss... si bude, kok bela dia sih." sewot Lina.
__ADS_1
Bude yang malas melihat tingkah Lina itu hanya memutar mata malas, dia menyuruh Leni untuk istirahat, agar tidak kecapean, dan ngak stres sama kakaknya itu.
Bersambung....