
"Kalian tau di kumpulin di sini!" tegas Rania yang hari ini dengan wajah dinginnya, tentu saja membuat para karyawannya yang berjumlah 10 orang itu menjadi bingung dan sedikit takut melihat perubahan wajah wanita cantik itu, yang biasanya sangat ceria dan ramah, namun kali ini sangat berbeda.
"Tidak...." sahut Karyawan Rania itu, karena memang mereka tidak tau, namun tidak dengan salah seorang dari mereka, yang merasa dirinya akan kena masalah saat ini.
"Mati gue, apa Rania sama Rangga tau, ahhh... ngak mungkinlah, mereka kan masih anak anak, lagian semarah apa pun dia tidak mungkin juga dia mecat gue" ujar salah seorang itu menenangkan hatinya.
"Yakin ngak mau ngaku yang merasa punya salah, lebih baik kalian mengaku dari pada aku yang menunjuk orangnya ke depan, dan terima akibatnya!" Dingin Rangga tidak kalah dengan sang istri.
"Ada apa sih ini? gue ngerasa ngak pernah bikin salah deh, masuk tepat waktu, malah lebih awal kaliasuknya" gumam Mang Didin, yang memang karyawan paling rajin di antara yang lain.
"Saya tadi telat sepuluh menit Kak." sahut Anjar dengan perasaan takut, memang dia tadi sedikit telat, pas berangkat dia mengantar sang ibu ke puskesmas dulu.
"Kemaren saya pulang cepat Nia, soalnya saya nganterin mertua keterminal, saya cari Nia sama Rangga ngak ada, saya izin sama mang Budi kok." ujar Anggung, ikut mengakui kesalahannya.
Sementara Rania manggut manggut tanda mengerti sambil berkeliling di antara anak buahnya yang sedang berdiri kaku itu.
"Astaga.... Nia nyeremin banget klau lagi mode marah gini."
"Ya ampun. Apa yang bikin perempuan cantik ini ngamuk sih"
"Ya Allah, bagaimana ini. Gue takut mengakui kesalahan gue, klau ngak ngaku takutnya Rania sudah tau, aaggg... bisa ngak sih waktu di putar." gumam Dika, dia merasa ketakutan sekarang.
"Apa ada lagi yang mengakui kesalahannya!" ucap Rania, menatap Dika, dia sudah hilang kesabaran melihat Dika yang hanya diam saja, tanpa mau mengakui kesalahannya. Akan tetapi Rania tau dia sedang ketakutan.
"Dika...." panggil Rangga dengan suara dingin.
Deg....
__ADS_1
Jantung Dika lansung berdetak dengan cepat, seperti orang yang habis lomba lari.
"I-iya... saya" jawab Dika gagap, otomatis semua orang melihat ke arah Dika, tentu saja Dika semakin takut, karena temannya melihat dia seperti ingin tau apa yang terjadi.
"Apa kamu ada salah?' tanya Rangga, dengan gaya santainya, namun itu mengerikan bagi Dika.
Dika hanya menundukan kepalanya semakin dalam, dia benar benar takut saat ini, lidahnya kelu untuk bicara, dia lebih baik memilih diam saat ini.
Rania yang sudah kesal, lansung saja mengambil remot, dan mekan tombol, agar televisi di ruangan itu menyala.
Semua orang menatap ke arah tv yang menyala itu, dan melihat setiap gerak gerik yang terjadi di dalam rekaman di tv itu.
"Astaga...." pekik teman temannya tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Dika, semua kelakuan Dika bisa di lihat dari tv tersebut.
"Ya ampun Dik. Tega banget lu sama orang yang sudah menarik lu dari jalanan, tapi lu nusuk dia dari belakang"
"Sekarang. Bisa kamu jelaskan, kenapa kamu tega melakukan ini sama kami?" tanya Rania dingin.
"Apa kurang, gaji yang kami kasih, sehingga kamu tega mengkhianati kami!" tekan Rangga.
Brukkk....
Dika lansung bersimpuh, minta ampun, dia memang salah, dia tergiur dengan uang yang di tawarkan oleh musuh Rangga tersebut, dan di tambah lagi, kekasihnya selalu meminta ini dan itu, membuat dia gelap mata.
"Maaf... Maafin saya" ujar Dika, dengan perasaan bersalah dan juga menyesal telah berlaku jahat kepada Rania dan Rangga.
Bug....
__ADS_1
Pak....
Bug...
pak...
Rania menyerang Dika tanpa ampun, dan Dika pun tidak ada niat untuk membalas sama sekali, dia tau semua yang dia lakukan memang kesalahannya, jadi wajar klau Rania marah kepadanya.
Sementara Karyawan lain bergidik ngeri melihat kemarahan Rania tersebut, mereka tidak menyangkan gadis pecicilan itu klau marah, sangat sadis. Dalam hati mereka berjanji tidak akan membuat kesalahan, takut sungguh takut melihat pemendanagn di depan mata itu.
"Saya, tidak menyangka kamu akan berbuat sekeji ini, saya pikir kamu orang baik, ternyata kamu sangat culas, sudah saya bantu, akan tetapi kamu orang yang tidak tau di untung!" marah Rania.
"Maaf..." ucap Dika lagi dan lagi hanya satu kata itu yang mampu dia ucapkan.
"Mulai sekarang, kamu saya pecat, dan saya tidak akan memberi kamu pesangon" ucap Rangga. Dika hanya bisa menerima semua yang di ucapkan oleh bosnya itu.
"Dan untuk kalian. Jadikan ini semua pelajaran, karena ini kali pertama terjadi di bengkel saya, saya anggap ini peringatan awal, klau kembali terulang untuk yang ke dua kalinya, saya tidak hanya akan menghukum kalian saja, tapi saya juga akan mempenjarakan kalian yang bersalah." ucap Rania tegas, dan di anggukin oleh Rangga.
Yang lain hanya mengangguk tanda setuju, lagian orang bodoh saja yang ingin berbuat salah sama bos baik mereka itu, di beri gaji lebih di atas UMR setempat, dapat makan gratis pula, dan juga dapat bonus klau target tercapai.
"Sekarang bubar dan kerjakan kerjaan kalian masing masing, dan kamu... pergilah." usir Rania kepada Dika, dan dia meninggalkan orang orang disana.
Dika hanya berjalan lesu, keluar dari bengkel R&R itu.
"Dik dik, sudah di kasih kerjaan bagus bagus, malah bikin kesalahan"
"Semoga orang yang menyuruh loe, mau ngasih loe kerjaan, secara loe sudah hilang pekerjaan karena dia" ujar Didin menepuk bahu Dika.
__ADS_1
Bersambung....