
"Mana bos kalian!" tanya Mmai Inge mendatangi bengkel Rangga dengan gaya pongahnya.
"Ada di dalam Bu." ujar Karyawan Rangga dengan sopan, walau di dalam hati mereka sangat kesal dengan gaya angkuh perempuan itu.
"Hmmm..." sahut Mami Inge dengan angkuhnya masuk tanpa permisi.
Brak...
"Astaga..." kaget Rangga dan Rania, karena mereka sedang melakukan pekerjaan mereka masing masing.
"Mami? ada apa Mami datang ke sini?" tanya Rangga, karena selama ini Maminya mana mau perduli kepadanya, dan kini datang tiba tiba seperti ada hal yang akan dia bicarakan.
"Bagus ya kamu, mentang mentang sudah bisa mendirikan bengkel kecil ini, jadi sombong kamu ya, berani beraninya kamu mempermalukan suami saya, di mana otak kamu hah!" bentak sang Mami.
Rangga mengeram kesal dengan ucapan Mamanya itu, dari kapan dirinya membuat masalah dengan sang Papi, bukanya Papinya sendiri yang mempermalukan dirinya, sekarang malah menyalahkan dirinya.
"Siapa yang mempermalukan Papi? tidak ada kok, justru papi sendiri yang mempermalukan diri sendiri, bukannya aku ini bukan anak Mami, dan aku ini anak bodoh, apa kalian tidak malu mengakui aku di depan orang lain, jadi wajar klau aku menolak, saat papi memperkenalkan diri saya ini anaknya, katanya saya tidak pantas jadi anak kalian, karena saya hanya membawa sial buat kalian." ucap Rangga panjang lebar, dia sudah malas berhubungan dengan keluarganya itu.
Ucapan Rangga tersebut berhasil menohok hati sang mami, namun egonya lebih besar, dia tidak akan pernah merasa bersalah walau dia yang bersalah.
"Jadi. Ada perlu apa mami datang kamari, tempat ini tidak cocok untuk mami, di sini kotor loh mi, banyak debu dan oli, apa mami tidak jijik." ujar Rangga.
"Iya benar, tempat ini memang tidak cocok untuk saya, tapi saya ada sedikit urusan dengan kau." ujar Maminya sombong.
__ADS_1
"Urusan apa.?" walau dia tau apa yang akan di ucapkan oleh sang mami, namun dia tetap menunggu ucapan sang mami.
"Kau harus balas budi sama saya, saya sudah bertaruh nyawa melahirkan anak ngak guna seperti kamu ini."
Deg....
Hati Rangga dan Rania lansung merasa teriris, begitu kejamnya ucapan seorang ibu kandung kepada anaknya, Rania tidak habis pikir dengan wanita itu.
"Ya Tuhan, kenapa suamiku punya orang tua seperti ini." gumam Rania mengusap punggung sang suami.
"Saya tidak pernah minta di lahirkan dari seorang ibu seperti anda nyonya, dan saya sudah pergi dari kehidupan kalian, lalu. kenapa kalian masih mencari saya, dan mengganggu saya." ujar Rangga yang mulai hilang kesadaranya, sebenarnya dia tidak tega berkata kasar kepada orang tuanya, namun bagaimana lagi, dari pada dia terus di injak injak klau diam saja.
Mami Inge menatap malas ke arah Rangga, dan Rania juga menatap sinis ke arah Mami Inge.
"Saya mau bengkel tak guna ini, menyandang nama perusahaan saya, dan berikan bengkel kumuh ini sama Radit, biar dia yang kelola, kau tidak pantas mengelola bengkel ini, kau cukup berada di bawah kendali Radit." ujar Mami Inge.
Rania terbahak mendengar ucapan mama mertuanya itu, kok ada orang kaya gini, bisa bisanya dia meminta hak, yang sama sekali tidak ada bantuan darinya itu.
"Anda waras nyonya." kekeh Rania.
"Maksud kamu?" tanya Mami Inge.
"Bagaimana bisa anda meminta hak orang, sama sekali anda tidak ikut andil dalam memberi modal dan dukungan, sekarang bengkel kumuh dan jelek ini, ingin anda kuasai, situ sehat nyonya." ujar Rania.
__ADS_1
"Pokoknya saya tidak mau tau, bengkel ini harus jatuh ke tangan Radit!" ujar Mami Inge, dengan sombongnya.
"Apa kah Radit bisa bekerja di bengkel ini, dan apa kah dia mengerti tentang mesin, apa kah Radit bisa mencuci mobil, dan bisa memperbaiki mobil mobil di luar sana?" ujar Rania, mengejek.
Ucapan Rania tersebut berhasil membungkam mulut Mami Inge tersebut, mana mungkin Radit bisa memperbaiki mobil, dan mencuci mobil, pekerjaan kasar seperti itu mana mungkin Radit mengerjakannya.
"Maksud saya, pengelolaan bengkel ini, biar di tangani oleh Radit, dan di lapangan tetap di kerjaan oleh Rangga." ujar sang Mami dengan sangat yakin,
"Dasar sinting, bagaimana dia paham, dan bagaimana dia bisa menjelaskan kepada klaen klau radit sendiri tidak mengerti tentang mesin, yang ada klaen akan kabur." cibir Rania.
"Dasar kau.... Aaakkk..." kesal Mami Inge, benar kata papi, wanita ini mulutnya sangat sadis." gumam Mami Inge menatap Rania dengan tajam.
"Pergi lah nyonya, ngak usah ikut campur dengan bengkel kami, kami juga tidak akan pernah mau memberikan bengkel yang sudah kami rintis dari awal, dan kini mau di nikmati oleh orang yang tidak bertanggug jawab." Rangga.
"Awas kau!" marah Mami inget karena di usir oleh Rangga, dia pergi dengan muka kesal, misinya kali ini gagal, dia akan datang lagi nantinya, sampai dia bisa menguasai bengkel tersebut, dia tidak suka klau Rangga berhasil, secara Rangga itu bodoh, dan dia tidak sudi anak kesayangannya kalah oleh Rangga, mana wanita yang di cintai oleh Radit, sudah di miliki oleh Rangga, sekarang Rangga kembali di sorot, karena bengkel itu di kenal banyak orang, tentu saja dia tidak suka.
"Ya ampun... gitu banget orang tua kamu Kak, bagaimana bisa kakak bertahan hidup dengan mereka selama ini." ujar Rania memeluk sang suami.
"Ya ngak gimana gimana sayang, jalanin saja, dan kakak percaya Tuhan pasti sudah mempersiapkan yang terbaik untuk kakak, dan itu terbukti dengan ke hadiran kamu sayang." ujar Rangga membalas pelukan sang istri.
Mereka larut dengan pikiran masing masing, sambil berpelukan, memikirkan banyak hal, terutama Rangga dia yakin Maminya itu tidak akan berhenti mengganggu dirinya, dan Rania berfikir, bagaimana bisa Rangga mempunyai orang tua tidak punya akhlak seperti mereka.
Bersambung....
__ADS_1