
Ceklek...
Setelah Rania menyusui sang anak, pintu ruang rawatnya terbuka dari luar.
"Assalamualaikum... haiii, ponakan Om, kami datang." ujar Randi dengan wajah bahagianya, melihat keponakannya yang berada di tangan Rangga.
"Cuci tangan dulu bang, baru colek colek, jagoan aku." ujar Rangga mulai posesif terhadap sang anak, dari tadi setiap tamu yang datang lansung di suruh cuci tangan, Rania malu sendiri melihat kelakuan suaminya itu.
"Ncek... iya iya, bapak posesif." cibik Randi namun tetap pergi mencuci tangan ke westafel, di sana sudah di sediakan sabun pencuci tangan oleh Rangga.
Ke dua orang yang ikut dengan Randi itu pun mengikuti Randi dari belakang, dari pada di tegur lagi oleh laki laki yang baru naik pangkat itu.
"Kak, kamu ini. Jadi ngak enak tau sama abang dan kakak ipar." omel Rania.
"Ngak pa apa sayang, jaga jaga, namanya dari luar pasti banyak kuman, anak kita masih kecil, tubuhnya masih sensitif, bukan di rumah sakit saja mas terapkan itu, di rumah mas lagi suruh orang bikin westafel dekat pintu masuk," cengir Rangga.
Rania sampai melotot, mendengar ucapan sang suami yang kelewat posesif itu.
"Astaga, itu adek Lu bang." kekeh Randi.
"Ntah lah, abang juga bingung." kekeh Radit.
"Ini. Sudah bersih tangan sama muka abang, apa sekarang sudah boleh lihat jagoan?" tanya Randi.
"Sudah, sekarang sudah boleh kok." cengir Rangga, memberikan sang anak kepada abangnya.
"Ihhh... Lucu banget." ujar Tanti sang kakak ipar, menatap sendu si jagoan kecil di tangan Randi itu, dia juga ingin punya anak, namun sampai sekarang Tuhan belum memberikan dia kepercayaan.
"Sebentar lagi kakak juga punya kok." hibur Rania, dia tau kakak ipar suaminya itu sedih karena juga berharap bisa hamil dan melahirkan.
__ADS_1
"Aamiin..." serempak mereka memgamini ucapan Rania.
"Siapa ini namanya dek?" tanya Radit.
"Abizar Putra Guitama." ujar Rangga.
"Aagghhh... nama yang bagus" puji mereka.
"Dek, Ini tadi kakak beli makanan, kalian pasti belum makan kan, makan lah, ada kami yang jaga Abizar." suruh Tanti.
"Ahhkkk... kakak benar benar pengertian, dari tadi aku mau keluar, tapi takut meninggalkan mereka berdua di sini," sahut Rangga mengambil sebungkus nasi dan menyuapi sang istri, dia pun ikut makan dengan sendok yang sama.
Dua hari di rumah sakit, kini Rania sudah di izinkan untuk pulang, dan sekarang mereka sudah berada di rumah, dan di tunggu oleh para tetangga di sana.
"Bu Rully dan Bu Rt yang sudah menganggap Rania dan Rangga anak sendiri, sudah menyiapkan syukuran kecil kecilan untuk Abizar.
"Selamat datang Abizar..." ucap mereka.
"Sama sama sayang, dia juga cucu kami loh." ujar Bu Rully.
"Ya sudah kamu istirahat lah dulu, bawa Abizar ke dalam, di sini makin ramai, tidak bagus untuk bayi." perintah Bu Rt.
"Baik Bu." ujar Rania, dan anaknya di gendong oleh Bu Ruly ke dalam kamar, sengaja memang lagi banyak virus, jadi mereka tidak mau banyak tangan mencolek boleh Abizar, setiap ada yang tanya, pasti di bilang oleh Bu Rully dan Bu Rt, klau Abizar lagi menyusu, lagi tidur, lagi istirahat Ranianya.
"Ini Nak, makan dulu, ibu sudah bikin sayur katuk campur jagung, biar ASI kamu lancar, makan jangan di tahan tahan, lapar lansung makan, biar ASI kamu bagus terus." ujar Bu Rully.
"Iya bu, makasih." ujar Rania, mengambil nampan dari tangan Bu Rully.
"Ini siapa yang mandiinnya ini?" tanya Bu Rt.
__ADS_1
"Nia belum bisa bu, gimana ya, masih serem, takut jatuh, apa lagi ngelihat tali pusarnya yang belum copot, ngeri bu." ujar Rania bergidik ngeri.
Bu Rully dan bu Rt terkekeh mendengar curhatan Rania itu.
"Ya sudah biar nanti kami yang gantian mndiinya." ujar Bu Rully.
Sementara di tempat lain, Lina mencak mencak minjam uang kepada Leni.
"Len, kamu itu jangan pelit pelit sama sodara, punya suami kerja mapan, sekarang kamu juga punya usaha sendiri, masa ngak bisa bantu sodara sih, pelit amat kamu ini, tega melihat sodara susah, padahal banyak uang, tapi ngak ada perduli perdulinya sama sodara." sewot Lina.
"Gue capek bantu lu mulu mbak, terserah lu mau ngomong apa, gue ngak perduli, dan ngak akan pinjamin uang buat lu, sudah cukup gue bantu lu selama ini, gue juga punya kehidupan sendiri, dan juga bantu biaya ibu, kuliah Randi, klau lu mau uang, kerja mbak," ketus Leni, dia kesal sama Lina.
"Pelit banget sih lu, gue cuma minta sepuluh juta doang, tapi lu perhitungan banget sama gue!" kesal Lina.
"Lu pikir nyari duit sepuluh juga itu gampang mbak, jangankan sepuluh juta, sepuluh ribu aja gue ngak bakal kasih sama lu, klau mau minjam uang gue, lu balikin dulu uang gue yang selama ini lu pinjam, janjinya ganti besok besok mulu, sekarang balikin." pinta Leni.
"Ihsss.... klau ada uangnya mah sudah gue pulangin, karena ngak ada makanya gue ke sini." ketus Lina.
"Ya udah gue juga ngak ada," acuh Leni.
"Sialan lu, adik macam apa lu ini, ngak ada perduli nya sama sodara." kesal Lina meninggalkan Leni di tokonya sendiri, kini Leni sudah mempunyai toko sendiri, toko itu di beli mertuanya kepada Rania, karena dia tau Leni sang menantu sudah nyaman di toko itu, karena Rania juga tidak bisa mengontrol tokonya, jadi Rania melepas toko itu kepada mertuanya Leni, dia tau itu untuk Leni, dari pada di kasih ke orang lain, lebih baik kepada sahabatnya saja.
"Huuufff..." Leni membuang nafas melihat tingkah sang kakak.
"Itu orang dari dulu ngak berubah berubah, selalu aja minjam uang, heran deh padahal rumah udah ngak ngontrak, suami punya gaji, dan anak di kasih uang sama mertuanya, tapi ke kurangan uang mulu." oceh karyawan Leni itu.
"Huuh, kasian sama mbak Leni, yang selalu di pepet terus, mana ngak sopan lagi, gaya minjam, ujung ujung ngak bayar, gitu aja terus, untuk mbak Leni punya mertua dan suami baik, ngak pernah mempermasalahkan itu."
"Iya kasian mbak leni, tapi gue salut sama mbak Leni sekarang, yang sudah bisa tegas sama kakaknya itu, sudah bisa bilang ngak, sama dia si gaya elit, ekonomi syulit itu." kekeh karyawan Leni.
__ADS_1
Bersambung...