
"Gimana maksud loe tadi Bi?" tanya Rania, yang tadi belu fokus dengan ucapan Albi saat selesai menyerang preman tadi.
"Gini. Ran, kan. Loe tau selama ini gue kerja di tempat Bang Jek. Gue pikir tadinya dia orang baik, ternyata dia orangnya licik, dia menghalalkan segala cara, untuk menghasilkan uang, termasuk memata matai kalian." jujur Albi.
"Haaa... Serius?" pekik Rania kaget, dia baru tau tentang fakta itu.
"Hmmm... Gue yakin Rangga sudah tau?" ujar Albi dan Rania reflek melihat ke arah sang suami.
Rangga yang di lihat, hanya tersenyum dan memegang lembut tangan sang istri.
"Kakak beneran sudah tau?" tanya Rania penasaran.
"Tau sih ngak, cuma ada orang kita yang gerak geriknya mencurigakan, kakak lagi menyelidikinya, semoga aja itu ngak benar." ucap Rangga tenang.
"Kak, aku mau menerapkan pada mereka, siapa yang salah, lansung di hukum di depan teman temanmu, biar tau, klau kita ini tidak gampang di tindas, aku takut klau kita diam dan memaafkan mereka, itu akan menjadi contoh sama yang lainnya, dan lama lama kita di makan anak buah kita kak, kita harus tegas." ujar Rania mulai garang kembali.
"Benar kata Rania Ngga, baik boleh, lemah jangan, perlihatkan klau loe bukan boss yang mudah di tindas, biar anak buah juga sungkan sama loe, sekarang yang mereka tau, loe baik, dan setiap ke salahin mereka akan mudah loe beri maaf, loe ngak mungkin loe bisa berbuat kasar, pasti itu yang ada di otaknya saat ini, dia tambah dapat hasutan dan uang tambahan dari luar." ujar Albi memberi nasehat juga.
__ADS_1
"Iya. Gue tau, gue juga ngak akan mau usaha yang sudah susah payah gue bangun dari nol di hancurkan oleh orang lain, cuma gue kan lom tau, apa yang sedang mereka perbuat, jadi gue masih menyelidikinya" ujar Rangga, dia juga tidak ingin usaha yang di bangun bersama sang istri hancur begitu saja.
"Kita pasang CCTV di setiap sudut, yang mungkin anak anak tidak tau, cukup kita aja yang tau, kita bisa mengontrol dari jauh." ujar Rania.
"Ide bagus...." ujar Albi ukur semangat.
"Baiklah klau gitu, adek tau yang jual cctv.?" tanya Rangga.
"Tenang saja, di rumah sudah aku sediakan, cuma belum ada waktu untuk memasangnya, aku kan lagi sibuk ngurus tugas ku" cengir Rania.
"Ok, malam ini lansung kita kerjakan, gue takutnya. si Jek itu tidaka akan tinggal diam" ujar Albi.
"Panggil bang gilang juga, cukup kita berempat yang tau" ucap Rania, Gilang sudah seperti kakak bagi Rangga dan Rania, dia lah yang mendidik Rangga dari nol, yang pada akhirnya Rangga lah yang lebih beruntung dari Gilang, namun Gilang tidak pernah iri kepada Rangga, justru dia bangga Rangga berhasil, kini pun Gilang ikut bekerja dengan Rangga, karena bengkelnya yang memang tidak banyak modal, walau masih di jalankan oleh anak buahnya, Gilang cukup senang, bekerja dengan Rangga dia bisa mendapat upah 3x lipat dari bekerja di bengkel sendiri.
"Iya, nanti malam gue datang bareng bang Gilang" ucap Albi, mereka berpisah dinparkiran restoran itu, menuju rumah masing masing.
"Dek. Adek benar sudah menyediakan cctv?" tanya Rangga saat di rumah, dia tidak menyangka, sang istri sudah bergerak cepat.
__ADS_1
"Sudah kakak sayang, aku sudah memikirkan itu semua, karena usaha kita mulai maju, tidak mungkin tidak ada orang yang iri dan berniat jahat sama kita, aku juga membuat program di komputer agar tidak mudah di hek orang." ujar Rania tersenyum manis, dan memeluk suaminya itu dengan sayang.
"Ahhh... istri kakak ini sudah merencanakan semuanya ya" bangga Rangga.
"Iya. Tapi, aku ngak kerja sendirian, di bantu sama bang Robi." cengir Rania.
"Bagus itu, kakak setuju kok, lagian kita memang harus belajar sama yang lebih berpengalaman." ujar Rangga.
Rangga juga tau. keluarga Roby, sangat lah menyayangi Rania, dan terbukti warisan Rania saja bisa untung berkali kali lipat di tangan mereka, sehingga mereka bisa membuka bengkel dan membeli peralatan dengan harga yang cukup menguras kantong, tanpa berhutang ke sana kemari.
"Oh, ya kak, kita kayanya, harus membentuk orang orang, untuk menjaga keamanan deh, aku ngak mau usaha yang sudah kita rintis ini di hancurkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab" ujar Rania serius, ternyata otak bengis almarhum sang Ayah mulai menurun kepada Rania.
"Kakak setuju saja, asal itu baik untuk kita, dan membuat orang tidak memandang kita sebelah mata" ucap Rangga.
"Baiklah. Kakak bisa panggil teman teman kakak juga, aku tau kakak punya teman yang kemampuannya du atas rata rata, kekeh Rania"
"Iya iya, heran deh, kamu ini selalu tau apa pun, heran deh kakak" ujar Rangga.
__ADS_1
"Iya dong, Rania...." sombong wanita itu.
Bersambung....