
Ajeng yang baru saja sampai di mall, untuk nonton film di bioskop bersama teman temannya, lansung di buat kesal karena telpon dari Jek.
Semenjak kejadian malam itu, memang Ajeng dan Jek belum pernah bertemu, sudah bejalan selama satu bulan penuh, Ajeng memang tidak berniat bertemu dengan Jek lagi, dia membatalkan perjanjiannya dengan Jek, ada penyesalan yang di rasakan oleh ajeng, kenapa bisa dia terbuai bujuk rayu laki laki playboy tersebut, sehingga dengan mudahnya dia menyerahkan kesuciannya kepada Jek, gara gara niat jahatnya kepada saudaranya, bukanya untung Ajeng malah buntung.
"Jeng, telpon lu bunyi mulu, angkat napa, berisik tau." omel temannya.
"Malas gue, biarin aja." acuh Ajeng.
"Tapi berisik ihh..., silent aja, klau ngak blokir tuh nomer." ujar temannya.
Tanpa pikir panjang lagi, Ajeng lansung memblokir nomor Jek tersebut.
"Sudah, yuk... kita masuk." ajak Ajeng kepada kedua temannya.
Sementara itu jek uring uringan di buat oleh Ajeng, karena nomornya di blokir oleh Ajeng.
__ADS_1
"Aaagggkkkk.... Sialan awas kau gadis nakal, kau pikir bisa lari dari gue, ngak akan pernah itu terjadi, apa yang sudah menjadi milik gue, tidak akan pernah lepas dari gue, klau bukan gue sendiri yang melepaskannya...!" marah Jek, melempar hp nya ke kasur.
Semenjak berhubungan dengan Ajeng malam itu. Jek belum pernah sekalipun berhubungan dengan wanita lain, dengan para ja la ng yang biasa menemaninya, bukan mau Jek sebenarnya, namun burung perkututnya yang tidak mau bangun saat para ja la ng memainkannya, burung itu tiba tiba mati suri, membuat Jek kelimpungan.
Sementara di tempat berbeda dan suasana romantis, sepasang suami istri sedang menghabiskan liburan tipis tipis mereka, di sela sela kesibukan yang makin padat, usaha yang makin melejit, nama Rangga semakin di kenal di kalangan pecinta mobil.
"Kak, kok tiba tiba kakak, ngajak aku liburan di sini sih." ujar Rania kepada sang suami yang berada di belakangnya, mereka sedang berdiri di balkon kamar hotel, di tepi pantai melihat sunset. Rangga memeluk sang istri dengan mesra dari belakang.
"Sudah lama kakak ngak ngajak kamu liburan sayang, selama ini kita sibuk untuk membuat usaha kita maju, tapi lupa menikmati hasilnya." bisik Rangga di kuping sang istri.
"Kakak juga ingin seperti orang orang yang bisa pergi berduaan dengan pasangan mereka, liburan bersama seperti ini, sebelum kita punya anak, kita puas puasin dulu jalan jalan berdua." ujar Rangga.
"Tapi. Kakak juga ngak mau ngoyo kok punya anak, kita puasin dulu masa masa berdua seperti ini dulu sayang, karena dulu kakak hanya bisa ajak kamu ke taman kota, pasar malam dan makan di emperan toko, kini saat kita punya rezeki, kakak mau liburan bersama istri cantik kakak ini, apa lagi kuliah kamu sudah selesai, tinggal menunggu wisuda aja, jadi ada banyak waktu untuk kita." ucap Rangga.
Rania menurut saja apa yang permintaan sang suami, baginya jalan jalan atau pun tidak, tidak jadi masalah untuk dirinya, yang penting mereka selalu bersama, sudah cukup bagi Rania.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan membuat jadwal dua minggu atau satu bulan sekali kita akan jalan jalan kemana yang kakak mau." ujar Rania menyetujui permintaan sang suami.
"Kok, keinginan kakak doang sih, emang kamu ngak punya keinginan kemana gitu." gerutu Rangga tidak suka dengan ucapan sang istri, dia kan juga mau sang istrinya mengutarakan kedinginannya, ini seolah olah dia saja yang ingin berlibur, sementara istrinya tidak.
Rani terkekeh mendengar gerutuan suaminya itu.
"Nanti klau kita mau liburan aku kasih tau mau kemananya, ehh... klau aku mau liburan ke luar negeri gimana?" tantang Rania.
"Boleh, tapi ngak sering sering aja, kita bisa pergi, kan uang hasil penjualan lukisan kakak, belum pernah kita pakai." ucap Rangga, memang mereka memisahkan antara penjualan lukisan dan hasil hasil dari bengkel mereka, niatnya yang penjualan lukisan, ingin mereka gunakan untuk membeli lahan, membuat kos kosan di kawasan perkantoran dan kawasan kampus, namun belum sempat mereka mencari lahan, karena usaha mereka sedang padat padatnya.
"Dit, loe masih mengejar adik ipar loe itu, ucap sahabatnya, di saat mereka sedang nongkrong di sebuah kafe.
"Ngak, gue sadar sekarang, cinta tidak bisa di paksakan, apa lagi Rania tidak pernah sama sekali menggubris diri gue, malah semakin ingin menjauh, dari gue." ucap Radit menerawang cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Nah... Gitu dong. Loe ngak boleh egois, loe lihatkan bagaimana bahagianya adek loe bersama Rania, mungkin hanya Rania lah dia bisa masih bertahan, mengingat begitu tega keluarga loe sama dia, dan Tuhan mempertemukan dia dengan Rania yang sangat menyayanginya, tanpa melihat kekurangan adek loe, justru dia selalu mendukung apa saja hobi adek loe, dan tidak pernah merendahkan adek loe, dan loe dengan tega ingin merebut istrinya." ujar sahabatnya.
__ADS_1
Radit hanya mengangguk membenarkan ucapan sahabatnya itu, dia akan menghapus nama Rania dalam hatinya perlahan lahan, dia tidak ingin lagi mengganggu kebahagian sang adik.
Bersambung....