
"Bu, boleh Leni bicara?" tanya Leni hati hati kepada sang ibu.
"Bicaralah nak, sang ibu tau anaknya tidak baik baik saja, terlihat dari mata yang sembab habis menangis.
"Bu, boleh ngak Lebi ikut bude ke jakarta, ngak lama kok cuma tiga sampai empat bulanan." tanya Leni lagi.
"Kenapa begitu nak." kaget ibunya.
"Leni hanya ingin menenangkan hati bu di jakarta." ujar Leni dengan menundukan kepalanya, tidak tega rasanya dia melihat wajah sang ibu.
"Bicaralah nak klau kamu punya masalah, jangan di pendam sendiri." tutur sang ibu, adiknya yang ingin masuk ke dalam rumah, mengurungkan niatnya, dia mau mendengar pembicaraan dan kakak dan ibunya itu, dia semalam mendengar kakaknya menangis namun tidak berani mendekatinya.
"Bu, aku ingin menenangkan hati sejenak dan menjauh dari Albi bu, klau di sini terus aku ngak bisa melupakan Albi bu, yang ada hatiku semakin sakit melihat dia bersama wanita lain." tutur Leni sambil terisak.
"Kenapa kamu ngomong kaya gitu nak, bukan kah kamu sama Albi baik baik saja?" tanya sang ibu menjadi bingung.
"Tadinya memang baik baik aja bu, sampai kemaren aku melihat Albi bergandengan dengan perempuan lain, perempuannya sepertinya lebih kaya dan pantas buat Albi, apa lah aku bu wanita miskin, perempuan itu sangat manja sama Albi, kemaren Albi libur kerja, dan bilang ada urusan keluarga, tau taunya aku melihat dia malah bergandengan mesra dengan wanita lain hiks..."
__ADS_1
"Nak, maaf kan ibu, yang membuat kamu seperti ini, ibu sakit sakitan, adik kamu butuh biaya, dan menjadikan kamu tulang punggung" sesal Ibu Leni sambil menangis pilu, dia tau anaknya sangat mencintai Albi, namun saat Albi ingin mengajaknya menikah, tapi Leni selalu mengundur waktu sampai adiknya tamat sekolah, mungkin karena itu Albi memilih wanita lain, pikir ibunya Leni.
"Ibu jangan ngomong seperti itu, aku anak ibu, sudah sewajarnya aku melakukan itu kepada ibu, aku tidak masalah kok bu, adikku bisa tamat sekolah itu sudah kebahagian sendiri untuk ku bu, jadi jangan menyalahkan diri sendiri, mungkin dia bukan jodohku, makanya Tuhan memperlihatkan kelakuan Albi sebelum aku benar benar menjadi istrinya bu, jadi aku ikhlas bu, aku ke jakarta hanya ingin menenangkan pikiran, anggap saja itung itung liburan, kan sebentar lagi adik sudah tamat sekolah, biaya sekolahnya sudah aku lunasi, jadi tinggal untuk cari makan sehari hari saja sudah tenang kan bu," ujar Leni menenangkan hati sang ibu.
"Kak, maafkan aku, gara gara membiayai aku kakak jadi kehilangan orang yang kakak cintai, kakak juga kehilangan cita cita kakak." ujar Randi menatap kakaknya dengan hati yang sakit.
"Haiii... adik kakak, kakak tidak apa apa, sudah takdir kita seperti ini, jangan di sesali, yang penting kita masih bisa bersama hidup rukun, kakak bahagia, kita jalani saja semuanya, tidak usah di pikirkan yang membuat kita stres, kamu tetap kuliah cari kampus yang menerima beasiswa, kakak yakin kamu bisa, jangan pernah berhenti bermimpi, kakak rela tidak melanjutkan kuliah demi kamu, jadi kakak harap kamu bisa kuliah, dan mendapat pekerjaan yang layak, kakak tau suatu saat nanti kamu akan menjadi tulang punggung keluarga maka dari itu kakak ingin kamu lebih maju dari kakak." ujar Leni memeluk sang adik.
"Terimakasih kak, sudah mau membiayai aku selama ini kak, aku janji akan jadi orang yang berguna seperti yang kakak inginkan," janji Randi memeluk sang kakak.
"Nah, itu yang kakak mau." kekeh Leni dengan mata yang berair.
"Baiklah, klau itu mau kamu, yang penting kamu bahagia nak." putus ibu, walau hatinya berat untuk melepas sang anak, tapi klau itu yang membuat anaknya bahagia kenapa tidak."
"Aahhh... Ibu, ibu yang terbaik." kekeh Leni memeluk sang ibu.
"Ngomong ngomong kapan berangkatnya kak?" tanya Randi.
__ADS_1
"Lusa kata bude." ujar Leni santai.
"Baiklah, bersenang senang lah di sana, aku akan menggatinkan kakak di sini, aku cuma akan cari kuliah di kota kita, agar bisa selalu bersama ibu." ujar Randi.
Leni tersenyum dan mengangguk mengerti dengan keinginan adiknya itu.
"Kalau gitu aku akan kerumah Rania dulu, mau bilang mau mengundurkan diri." ujar Leni
"Jangan kak, biar aku yang lanjutin kerja kakak di sana, kakak bilang aja aku yang gantiin kakak, semoga aja kak Rania mau." sela Randi.
"Kamu yakin..Kerjanya berat loh?" tanya Leni.
"Yakin lah kak, ncek... aku laki laki kak, in syaa allah aku kuat kok, kakak yang badan kecil aja kuat, apa lagi aku yang badan dua kali lipat dari kakak, malu lah sama badan berotot aku ini." ujar Randi.
"Hahahaha... iya iya, kakak tau." kekeh Leni, ibunya ikut tertawa melihat tingkah ke dua anaknya itu.
"Ya udah, lebih baik sekarang kita kerumah kak Rania, takutnya dia sudah ke bengkel," ujar Randi.
__ADS_1
"Baiklah," ujar Leni dan minta izin kepada sang ibu, lalu berangkat ke rumah Rania, dengan mengendarai motor yang di beli Leni, walaupun motor seken, namun cukup berguna untuk mereka.
Bersambung....