Bersamamu Aku Bahagia

Bersamamu Aku Bahagia
Bab 49


__ADS_3

Tut....


Tut....


Telepon Rania berdering, namun tidak tertera nama sang penelpon, namun karena penasaran Rania mengangkat telpon itu.


"Hallo...."


...


"Baik lah, nanti saya akan ke sana." sahut Rania, setelah itu dia mematikan telponnya.


"Dari siapa sayang?" tanya Rangga memeluk sang istri.


"Maminya Kakak." jujur Rania, membalikan badan menghadap sang suami, dan dia ikut memeluk suaminya itu, tidak kalah eratnya.


"Mau ngapain dia telpon kamu?" heran Rangga, dan dari mana pula Maminya dapat nomor sang istri.


"Ngak tau, tapi dia ngajak ketemuan di mall xx ." jawab Rania.


"Kamu mau datang?" ujar Rangga mulai tidak tenang, pasti Maminnya itu belum puas dengan jawaban dia kemaren.


"Ya datang lah, biar tau maunya apa, kakak ngak usah takut, aku Rania, tidak akan mudah di tindas oleh dia." ujar Rania, menenangkan sang suami.


"Kakak ikut klau gitu." putus Rangga.


"Baiklah," ucap Rania mengecup singkat bibir sang suami.


Namun Rangga mana mau berhenti hanya sampai di situ, dia langsung menerkam sang istri.


Setelah melakukan pergulatan panas itu, mereka siap siap untuk memenuhi permintaan Mami Rangga.

__ADS_1


"Hujan sayang, kita pakai mobil saja." ujar Rangga.


"Ok.." jawab Rania.


"Kak, lukisan yang di minta Tuan Rolexs sudah selesai?" tanya Rania.


"Sudah, cuma ada sedikit yang harus di benerin." ujar Rangga yang masih fokus menyetir mobil.


Rania mengangguk tanda mengerti, ya walau sibuk dengan urusan bengkel, yang semakin maju, namun tetap melayani permintaan lukisan dari para langganannya, baik di luar maupun dalam negeri, Rangga tidak mau mengecewakan para pelanggannya, sebalum dia sukses di perbengkelan ini, dengan penjualan lukisan lah dia bisa mengumpulkan pundi pundi keuangannya, untuk memulai usahanya, dan juga bantuan dari sang istri.


"Ketemu di sebelah mana Yang?" ujar Rangga saat mereka sudah sampai di mall xx itu.


"Di restoran sea food lantai tiga." jawab Rania menggandeng tangan sang suami.


"Lama kali kamu datangnya, kamu pikir saya hanya kerjaan menunggu kamu saja." ketus Mami Rangga itu.


"Maaf Nyonya, kami terlambat, dan kami juga tidak hanya ada janji sama Nyonya saja, ini kami sangat mengusahakan datang ke sini, pas Nyonya menelpon, biasanya siapa yang ingin bertemu dengan kami harus bikin janji dulu." ucap Rania santai, namun menyombongkan dirinya, karena kesal dengan manusia yang berstatus mertua itu.


"Bukan sok sibuk sih, nyatanya kami memang sangat sibuk, maklum akhir akhir ini bengkel kami semakin ramai peminat." ujar Rania.


Mami Rangga hanya mendengus kesal, karena setiap ucapannya selalu di bantah oleh Rania.


"Ada apa ya, nyonya menyuruh kami datang ke sini?" tanya Rania yang tidak mau berbasa basi.


"Saya hanya ingin bertemu kamu, bukan dengan dia." tunjuk Mami Rangga itu, kepada Rangga, dia tidak suka anaknya itu ikut hadir dengan mereka.


"Ohhh... tidak bisa nyonya, kami ini satu paket, di mana ada saya, pasti ada suami saya, begitupun sebaliknya." ucap Rania sambil memaksakan senyum nya.


"Terserah lah..." ketus Mami Inge.


"Karena kamu sudah ada di sini, dan saya juga tidak mau basa basi lagi, dan saya juga banyak urusan, sebenarnya saya sangat malas bertemu kalian." ketus Mami Inge itu.

__ADS_1


Rania ingin menjawab ucapan Mami Inge, namun tangan nya di pegang oleh sang suami, Rangga tidak ingin Rania menyahuti ucapan Maminya itu, itu akan semakin lama mereka di sini, dan biarkan saja Maminya bicara dulu, apa yang ingin dia sampaikan.


"Jadi saya ingin, kamu membujuk dia, untuk memberikan bengkel butut itu untuk saya, karena saya berhak atas bengkel itu." pinta Mami Inge dengan pongahnya.


Rania sampai terkekeh dengn kelakuan ibu mertuanya itu, ternyata masih masalah bengkel.


"Mohon maaf nyonya yang terhormat, dari segi mananya anda meresa klau bengkel yang anda bilang butut itu, hak anda, apa kah, anda ikut andil dalam penanaman modal di bengkel tersebut, dan apakah lahan itu, lahan anda." kekeh Rania dengan tenang, padahal mah, ingin sekali dia menggetok kepala wanita paruh baya di hadapannya itu dengan gelas di hadapannya itu, agar bisa bangun dari mimpinya.


"Saya memang tidak memberi modal, tapi anggap saja sebagai sewa rahim saya, yang telah melahirkan dia di dunia ini." ujar Mami Inge.


Deg....


Astagfirullah... Astagfirullah... Rania sampai beristiqfar mendengar penuturan wanita paruh baya itu, apa kan pantas di sebut ibu, entahlah, Rania merasa sangat geram dengannya.


Rangga mengepalkan tangannya kuat kuat, menahan sesak di dalam dadanya.


"Anda ingin minta sewa rahim nyonya, anda salah tempat, suami saya tidak pernah mau di lahirkan dari rahim anda, seharusnya anda meminta sewa kepada laki laki yang sudah menanam benih di rahim anda, bukan kepada suami saya." ucap Rania menggebu.


"Dan satu lagi, klau tidak ingin punya anak, jangan getol membuatnya, klau tidak ingin melahirkan dia, kenapa tidak anda angkat saja rahim anda, agar anda tidak mempunyai anak." pekik Rania.


"Haiii... Gadis sialan, jangan lancang kamu ya!" marah Mami Inge.


"Saya tidak kan pernah lancang, klau itu bukan anda yang mulai duluan, jangan pernah meminta apa yang bukan milik anda nyonya, klau anda masih mengusik kami, maka tunggulah apa yang terjadi di perusahaan, maupun di rumah tangga anda akan hancur." ujar Rania.


"Haiii... jangan pernah mengancam saya!" marah Mami Inge.


"Saya tidak mengancam, akan tetapi memperingati." ucap Rania.


"Saya rasa tidak ada lagi yang harus di bicarakan, karena itu saya undur diri, masih banyak kerjaan kami." ujar Rania, dan menarik tangan Rangga keluar dari ruangan itu


Bersambung..

__ADS_1


.


__ADS_2