Bersamamu Aku Bahagia

Bersamamu Aku Bahagia
Bab 64


__ADS_3

Hari berlalu dengan cepat, kini tiba detik detik Rania untuk melahirkan, Rangga di buat panik melihat di kaki sang istri keluar air ketuban.


"Kak, sakit...." desis wanita berhijab itu, meremas tangan sang suami.


"Iya sayang, maafin mas ya," ujar Rangga ikut menangis melihat wajah sang istri yang penuh keringat itu.


Rangga melap keringat sang istri menggunakan tisu dengan begitu hati hati, dan mengelusi pinggang istrinya.


"Keluar lah baik baik nak, kasihan bunda." bisik Rangga di perut Rania.


"Permisi pak, kami cek dulu jalan lahirnya ya, sudah lengkap apa belum." ujar seorang bidan.


"Iya Bu," jawab Rangga.


Di tempat lain, leni juga sudah rapi akan ke rumah sakit untuk menemani sahabat mereka.


"Mas ayo buru, lelet amat sih." dengus Leni kesal menunggu suaminya terlalu lama.


"Sabar bumil, marah marah mulu nanti anak kita pemarah loh," kekeh Albi, semenjak hamil istrinya itu sangat sangat cerewet namun dia suka.


Mertua Leni hanya terkekeh mendengar Albi di omelin oleh menantunya itu.


Tidak ada marah sedikit pun melihat anaknya di omelin sang menantu, justru Albi selalu di nasehati oleh orang tuanya, sabar menghadapi ibu hamil, mood nya berubah rubah, kamu juga jangan ikutan baperan, membuat mood istri kamu semakin buruk, mengalah sama dia, klau kamu capek, pulang ke rumah mertua kamu, istirahat di sana sebentar, dan sebaliknya klau Leni ada di sana, kamu kesini, klau sudah hilang capeknya, baru temui istri kamu, agar kamu ngak emosian.


Di rumah sakit, Rangga benar benar tidak tega melihat sang istri yang berjuang melahirkan sang buah hati.


Eeggghhhh...


"Lagi bu, sedikit lagi ya... Ibunya semangat, jagoan udah mau keluar ini." ujar bidan yang menolong persalinan Rania.


"Sakit, Kak...." keluh Rania, meremas baju Rangga.

__ADS_1


"Iya sayang, ayo sekali lagi sayang, kamu yang kuat sayang," ujar Rangga gugup, dia tidak kalah berkeringat melihat penderitaan sang istri.


"Uggghhhkkk...."


Oekkkk....


Beberapa saat kemudian, terdengar suara tangisan bayi dengan lantangnya.


"Alhamdulillah... jagoannya sehat, lengkap semua, ngak ada yang kurang suatu apa pun." ujar Bidan tersebut dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Alhamdulillah... ujar Rangga, dia terpaku melihat bayi laki laki yang masih ada sedikit darah di tubuhnya, di bawa pergi oleh perawat untuk di bersihkan.


"Terimakasih sayang, terimakasih sudah mau mengandung, dan melahirkan anak kakak hiks... hiks..." pecah sudah tangis Rangga sambil mengecupi sang istri.


"Kita sudah jadi orang tua ya kak." ujar Rania ikut berkaca kaca, dengan suara lirih, karena kehabisan tenaga.


"Iya sayang," jawab Rangga yang tidak mampu berkata kata, dia menciumi pipi sang istri saking bahagianya.


"Pak Rangga, tolong di adzan kan anaknya." panggil perawat, dan mengajak Rangga ke brangkar bayi.


Rangga mengazankan anaknya dengan suara bergerar dan air mata tidak berhenti menetes.


"Jadi lah anak sholeh, jadi pelindung ibu mu suatu hari nanti nak, dia sudah bertarung nyawa untuk melahirkan kamu ke dua ini." bisik Rangga, dan mengecup bayi mungil itu.


Rania sedang di bersihkan oleh perawat.


Rania dan bayinya sudah di pindahkan, ke kamar pasien yang di pesan oleh Rangga, di sana sudah ada bu Ruly, Leni, dan Albi.


"Uuhhh... Lucu banget ya, di kasih namanya nak?" tanya Bu Ruly.


" Abizar putra Guitama" sahut Rania.

__ADS_1


"Nama yang bagus." ujar Bu Ruly.


"Selamat ya Nia, Rangga sudah menjadi orang tua baru." ucap tulus Albi.


"Makasih, bentar lagi kalian juga menyusul kok." kekeh Rangga.


Setelah orang orang itu pulang, tinggalah Rania, Rangga dan bayinya di kamar itu.


"Sayang, Aap masih sakit?" tanya Rangga mengusap pipi sang istri.


"Sudah agak mendingan kok Kak, apa lagi klau sudah melihat sholeh nya kita, rasa sakit itu jadi hilang." tutur Rania.


"Makasih ya Sayang, kamu sudah melahirkan anak kita, kakak tadi sangat takut melihat kamu kesakitan cukup satu saja anak kita ya, kakak ngak tega melihat kamu yang kesakitan begitu." lirih Rangga.


"Kak, memang sudah kodratnya seorang wanita seperti itu, jadi kakak ngak usah khawatir." ujar Rania.


"Bang, kata Rangga Rania sudah lahiran, gue mau ke sana, mau lihat keponakan gue." ujar Randi penuh semangat.


"Iya kah, klau gitu, abang juga ikut, tunggu sebentar, abang mau panggil kakak ipar mu dulu." semangat Radit dengan bahagia, mendengar keponakannya sudah lahir, maklum sang istri sampai sekarang belum juga hamil, jadi mendengar Rania sudah melahirkan membuat dia ikut senang, akhirnya ada juga keturunan dari keluarga itu, Randi sama sekali belum ingin menikah, setelah mengetahui perselingkuhan kekasihnya.


"Kalian mau kemana?" tanya sang mami saat melihat anak menantunya mau pergi.


"Mau ke rumah sakit, Rania sudah melahirkan." jawab Radit.


"Apa... Rania sudah melahirkan?" kaget sang mami.


"Sudah, tadi siang." sahut Randi.


"Mama mau ikut?" tanya sang menantu.


"Aahh... nanti aja deh." sahut Sang Mami. yang masih membentingkan ego, padahal di dalam hati kecilnya sangat meronta ronta ingin melihat cucu pertamanya yang baru lahir.

__ADS_1


"Oh... ya sudah, klau gitu kami berangkat dulu." cuek Randi, dia sangat tau, maminya itu ingin ikut, tapi karena ego tinggi makanya seperti itu, biar lah sang mami suatu saat menyadari kesalahannya, yang penting dia sudah tidak pernah lagi mengusik kehidupan dang adik.


Bersambung....


__ADS_2