
Hari ini Rania dan Rangga datang menghadiri pesta pernikahan Radit dan sekretarisnya.
Tangan Rania tidak sekalipun lepas dari lengan sang suami, dia berjalan dengan anggun dengan memakai gamis modern dan Rangga memakai batik yang senada dengan sang istri, pasangan itu berhasil mencuri perhatian para tamu undangan, sebagian mereka sudah tau siapa Rania dan Rangga, mereka sudah tau sepak terjang Rangga dan Rania di dalam bisnis, mereka memulai karir benar benar dari nol dan kini dengan waktu yang singkat bisa berada di posisi yang tinggi, tidak banyak yang merasa kagum dan juga iri kepada mereka.
"Rangga..." panggil Randi sang abang, yang memang lebih dahulu meminta maaf kepada Rangga dan Rania dari pada Radit.
Rangga dan Rania berhenti dan melihat ke arah orang yang memanggil Rangga itu, Randi lansung menghampiri sang adik.
"Kalian sudah datang." ujar Randi dengan tersenyum senang.
"Sudah bang, baru sampai." sahut Rangga, dan Randi juga menatap kepada adik iparnya, dan tersenyum kepada Rania, Rania membalas senyum Randi tersebut.
"Kalian mau makan, atau mau salaman dulu?" tanya Randi, kepada sang adik dan adik iparnya itu.
"Mau ngucapin selamat dulu sama pengantin bang, baru deh makan." jawab Rangga.
Randi mengangguk tanda mengerti, dan membawa Rangga ke atas pelaminan, di sana ada juga orang tua mereka, menatap sinis kepada Rangga dan Rania, karena mereka belum juga bisa meminta bengkel Rangga itu.
Rangga dan Rania cuek aja, lagian mereka datang karena undangan dari Randit, bukan dari orang tuanya, Rangga memang sudah mematikan rasanya kepada orang tuanya itu, dia tidak perduli lagi dengan mereka, masa bodo mau ngomong apa, dia tidak mau ada urusan dengan orang tuanya itu.
"Cih... dasar tidak tau malu, kalian datang ke sini bawa kado apa? apa kalian menghadiahkan bengkel kalian untuk kado Radit?" tanya Mami Rangga itu dengan sinis.
"Mohon maaf Bu, kami datang ke sini hanya pergi ngucapin selamat kepada mempelai, dan tidak ada niat memberikan usaha yang kami rintis dari nol kepada kalian, kalau mau usaha sukses seperti kami, berusaha dan dirikan sendiri, masa anda tidak malu ingin merampas hak orang lain." ucap pedas Rania.
"Dasar menantu songong tidak tau diri, bisa bisanya kamu berkata kasar seperti itu sama saya, saya ini mertua kamu loh." kesal Mami Rangga itu.
__ADS_1
"Hahaha... menantu dari mana, emang saya nikah sama Randi atau Radit, kan saya nikah sama Rangga yang orang asing buat kalian, anak kalian kan cuma dua, dari mana saya jadi menantu anda." sindir Rania yang mengingatkan tentang Rangga yang tidak mereka akui sebagai anak.
Mami dan Papi Rangga itu di buat emosi tingkat dewa sama ibu hamil yang satu ini, ingin sekali mereka berteriak kepada Rania saat ini juga, namun mereka tidak mau merusak pesta anak mereka itu, dan juga harus menjaga wibawa mereka di hadapan tamu undangan dan juga kolega bisnis mereka.
Randi dan Radit hanya menatap tidak suka kepada orang tuanya itu, masih sempat sempatnya, di saat acara pernikahan Radit itu membahas hal yang bukan hak mereka.
"Ayo sayang, kita salaman dulu sama pengantin, habis itu cari tempat duduk kasian kaki kamu kecapekan berdiri lama lama." ajak Rangga, dia males menghadapi orang tuanya yang dablek itu.
"Hmmm baik lah, aku juga males berdiri di sini lama lama, gerah hawanya pengen makan orang." gerutu Rania.
Tentu saja ucapan Rania itu membuat amarah mereka kembali tersebut, belum sempat mereka membalas ucapan Rania tersebut, sudah ada temu penting yang naik ke atas panggung tersebut, jadi lah mereka menelan emosi mereka dan berganti senyum yang di buat semanis mungkin, walau mata merek selalu mematau gerak gerik Rangga dan Rania, yang selalu di datangi oleh pebisnis handal, membuat orang tua itu semakin kesal.
"Huu... dasar tidak tau di untung, bisa bisanya dia mendekati para bos bos besar itu." gerutu Mami Rangga yang tidak terima Rangga dan Rania di kelilingi pengusaha pengusaha sukses di pesta Radit tersebut, padahal bukan Rangga dan Rania yang menghampiri mereka, pengusaha tersebut lah menghampiri pasangan suami istri tersebut.
"Tau, Radit juga salah, ngapain coba ngundang mereka yang tidak tau malu itu." gerutu Pak Yudist.
"Sabar mas." ujar Pengantin wanita sambil mengelus bahu sang suami, yang terlihat kesal.
Radit melihat sang istri dan mengangguk, seketika marahnya hilang melihat wajah ayu sang istri, yang tidak kalah cantik dari Rania.
"Kekasih abang mana?" tanya Rania kepada Randi yang tengah duduk bersama mereka setelah selesai berbicara dengan beberapa orang pengusaha sukses tadi.
"Masih di luar negeri, menyelesaikan pekerjaannya, setelah pekerjaannya selesai, kamu juga akan segera menikah." ucap Randi.
Rania dan Rangga mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
"Semoga pekerjaan calon kakak ipar cepat selesai, dan kakak juga cepat menyusul kami." ujar Rangga mengelus perut buncit Rania.
"Haiisss.... kau ini membuat iri saja, kau paling kecil, tapi duluan punya anak." kekeh Randi dengan wajah kesalnya.
Rania dan Rangga terkekeh melihat wajah kesana Randi tersebut.
"Kami pulang dulu ya kak, kasian Rania, takut kecapean." ujar Rangga.
"Baiklah, kamu hati hati jaga keponakan abang." ujar Randi.
"Sudah pasti." kompak Rangga dan Rania
"Kalian mau menemui bang Radit ngak?" tanya Randi.
"Ngak usah deh kak, dari sini aja, abang juga lihat kita kok, males naik ke sana, nanti huru hara lagi." ujar Rangga.
"Baiklah klau gitu." ucap Randi yang mengerti tentang ke adaan
"Dasar anak songong, pulang ngak izin dulu sama orang tua." gerutu sang Mami, melihat Rangga dan Rania meninggalkan ruangan tersebut.
Radit hanya bisa menghela nafas berat, mendengar ocehan orang tuanya itu.
Bagaimana mungkin Rania dan Rangga akan minta izin kepada mereka, yang ada nanti tambah masalah lagi.
Radit hanya geleng geleng kepala saja melihat itu semua, dan terpaksa tersenyum manis, klau ada tamu undangan datang, walau hatinya sangat dongkol.
__ADS_1
Bersambung....