Bersamamu Aku Bahagia

Bersamamu Aku Bahagia
Bab 48


__ADS_3

"Kurang ajar sekali anak itu, tidak tau di untung, tidak tau balas budi." marah Mama Inge saat sampai di rumah, karena apa yang dia inginkan tidak tercapai, malah anaknya melawan kepadanya.


"Ada apa sih Mi, pulang pulang kok marah marah?" tanya Randi, di sana juga ada Radit dan juga pak Yudist.


"Mami tadi ke tempat anak sialan itu, berani beraninya dia melawan Mami, dan tidak mau memberikan bengkelnya sama kita, dan ngak mau bengkel busuk itu berada di bawah naungan kita" kesal Mami Inge membanting tubuhnya di sofa empuk di ruang tamu itu.


"Mi, sudah aku bilang, jangan pernah lagi membuat rusuh sama Rangga Mi, lagian bengkel itu bukan lah pemberian dari keluarga ini, dia berjuang bersama istrinya dari nol Mam, jadi. Wajar dia tidak mau memberikannya sama kita, walaupun dia mau memberikannya, siapa yang akan mengelola bengkel itu Mi, kita ngak ada yang bisa mengelolanya, kita ngak tau tentang mesin dan ***** bengek tentang mobil dan motor." ujar Radit.


"Ncek... Wajar lah dia memberikan bengkel itu buat kita, hitung hitung balas budinya, karena telah Mami lahirkan ke dunia ini, lagian siapa yang nyuruh kamu turun langsung ke bengkel kumuh itu, ieewww... menjijikan, Mami hanya mau bengkel itu jadi milik kita, dan biarkan saja dia yang mengerjakan semua pekerjaan kotor itu, dia memang pantas untuk itu, anak bodoh seperti dia, Memang pantas kerja seperti itu, tapi, klau urusan dengan klaen kamu yang handel, jadi kamu makin terkenal, karena dia tidak pantas menjadi pemimpin, cocoknya jadi buruh" ujar Mami Inge dengan tampang angkuhnya.


"Astaga Mi, gitu gitu dia itu anak Mami loh, harusnya Mami bangga sama dia, walau dia ngak pernah kita perhatiin, kita kasih makan enak, ngak pernah dapat kasih sayang, nyatanya dia membuktikan dirinya mampu bersaing dengan kami dengan caranya sendiri, dan dengan usahanya sendiri, kenapa juga harus Mami usik." ujar Randi tidak habis pikir.


Memang semenjak waktu Radit membela sang adik, Rangga sadar semua bukan salah adiknya, adiknya memang tidak pintar di bidang akademik, tapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan bahkan usaha adiknya malah makin terkenal, membuat dia semakin sadar, dia tidak ada apa apanya di banding sang adik, kalau bukan dengan nama besar keluarganya, namun Rangga bisa terkenal dengan dirinya sendiri.


"Ncek... dia itu anak bodoh, tidak cocok untuk bersanding dengan pengusaha pengusaha ternama, Mami ngak suka!" marah Mami Inge.

__ADS_1


"Mi..." ucapan Randi terhenti karena di sela oleh Maminya.


"Diam lah kalian, ngak usah menggurui Mami, ini urusan Mami, pokoknya Mami akan tetap meminta hak Mami kepada anak sialan itu." ujar Mami Inge, memotong pembicaraan Randi.


"Terserah sama Mami, jangan sampai apa yang Mami lakukan akan membuat Mami malu, apa Mami lupa siapa istrinya, dan satu lagi, asal Mami tau, Rania itu bukan orang sembarangan Mi, di belakangnya dia di dukung oleh pengacara kondang, jangan sampai Mami mempermalukan diri sendiri, seperti Papi kemaren." ucap Randi memperingati Maminya.


"APA.... Kenapa bisa pengacara itu memihak kepada mereka, dasar. Ngak bisa di biarkan ini, Mami akan bikin anak itu menyerahkan bengkel itu kepada Mami." ujar Mami Inge, dia sama sekali tidak takut degan ucapan sang anak, dia hanya kaget saja, kenapa bisa pengacara kondang itu bisa mendukung mereka, klau untuk takut, tentu saja tidak mungkin, karena sejatinya Mami Inge memang sangat angkuh, dan suka merendahkan orang lain, karena hanya dia lah yang boleh di atas, orang lain harus di bawah dirinya.


"Terserah, apa yang ingin Mami lakukan, ingat apa yang akan Mami lakukan, bisa jadi akan berimbas dengan perusahaan kita, masalah yang papi lalukan kemaren saja, sudah membuat saham kita sedikit goyah, dan beberapa investor malah mengundurkan diri, tidak mau bekerjasama dengan kita, bahkan perusahaan mobil Yundo kemaren pun tidak jadi bekerjasama dengan kita." tutur Radit.


Pak Yudist hanya diam saja, karena pikirannya sedikit sembrawaut gara gara masalah kemaren, dan sahamnya turun, ada rasa sesal juga dia melakukan kecerobohan kemaren itu, berharap dia akan untung malah jadi buntung, pikir dia Rangga dan Rania tidak akan melawan dan akan menurut apa yang dia ucapkan, setaunya Rangga orangnya pendiam dan penurut, apa semua ini gara gara Rania, jadi anaknya berubah." pikir Pak Yudist.


Sementara di lain tempat Rangga dan Rania sedang duduk bermesraan di rumah mereka, setelah makam malam.


"Kak aku rasa, Mami kakak tidak akan berhenti sampai di sini saja." ujar Rania.

__ADS_1


"Biarin aja, terserah dia mau melakukan apa, yang penting bengkel dan aset aset kita yang lainnya, bukan atas nama kakak, biarin aja dia berkoar koar, sudah biasa itu." ucap Rangga, yang memeluk sang istri yang berada di atas pangkuannya, dengan menggunakan dress tidur, berbahan satin dan bertali spageti itu.


"Kok kakak kepikiran gitu, semua aset atas nama aku, kenapa ngak pakai nama kakak?" tanya Rania.


"Kakak tau siapa Mami dan Papi kakak sayang, pasti mereka akan merampas apa yang kakak punya, maka dari itu kakak antisipasi dulu, dan ke jadian kan, baru juga tau bengkel kita, coba klau mereka tau aset aset yang kita bangun lainnya, bisa makin menjadi mereka, kakak ngak mau itu terjadi, makanya kakak mau semuanya atas nama kamu, dan nam anak anak kita nantinya." ujar Rangga panjang lebar.


Rania mengangguk tanda mengerti, sungguh dia tidak menyangka klau Rangga mempunyai orang tua toxic kaya gini, malang sekali nasib suaminya ini.


"Sayang... bikin dedek yuk...." bisik Rangga di kuping Rania.


Rania mah pasrah aja, dia tau suaminya hanya ingin mengalihkan pikirannya yang kacau ulah mertuanya itu, Rania akan melakukan segala cara agar suaminya itu bisa tenang, apa pun yang di minta suaminya, Rania akan memberikannya, agar suaminya bisa kembali ceria, memang sejak pulang dari bengkel tadi, Rangga banyak diam, dan melamun.


"Mau di sini, apa di kamar?" tanya Rania mesra, kepada sang suami.


"Pengen di sini aja." sahut Rangga bersemangat, lalu dia berdiri menutup semua pintu dan jendela, tidak lupa mematikan lampu ruang tengah tersebut, sebelum mereka bertempur di ruang tengah tersebut, dia memastikan semuanya aman, apa lagi kadang kadang Paman Rania dengan tidak tau malu suka datang tiba tiba.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2