
Hari ini adalah hari yang di tunggu tunggu oleh Albi dan Leni di mana hari ini mereka akan mengucapkan janji suci sehidup semati mereka.
Leni di dalam kamar, dia sudah di rias oleh MUA yang sudah di kirim oleh sang mama mertua, merasa gugup karena.
"Haii... Len, ngak jadi minggat ke jakarta." ejek Rania yang datang ke dalam kamarnya.
"Ncek... ngeselin." cibik Leni, karena kesal dengan ledekan dari sahabatnya itu.
"Hahaha... lagi kamu belum nanya apa apa, sudah main kabur, trus pak mau minggat segala," kekeh Rania.
"Ya iya bumil, loe lama lama kenapa jadi ngeselin gini sih, apa bawaan bayi ya." ujar Leni sambil mengelus perut buncit Rania.
"Hiih... ada ada saja kamu ini, mana ada orang hamil usil." kekeh Rania.
"Ini contohnya kamu." kekeh Leni.
"Ncek... nyebelin, ngomong ngomong, kamu cantik banget tau, manglingin," ujar Rania memuji sahabat baiknya itu.
"Masa sih, tapi emang benar juga sih, tadi gue ngaca kaya bukan diri gue gitu." ujar Leni terkekeh, Rania sengaja mengajak sahabatnya itu bercerita ngalor ngidul, agar dia tidak gugup. Rania tau rasanya deg degan menunggu calon suaminya mengucapkan janji sucinya di luat, dan sahutan kata sah itu membuat jantung berdebar sangat kencang, dan menegangkan.
"Huu... narsis." cibir Rania.
__ADS_1
Sementara di luar Albi sedang mengucapkan akad dan berjabat tangan dengan Randi yang mewakili sang ayah yang sudah tiada, jadi Albi lah yang menikahkan sang kakak.
Randi sampai bergetar saat menikahkan kakak kesayangan kepada Albi, dia lansung terbayang wajah sang ayah, dan meleleh sudah air matanya, saat kata SAH... sudah bergemuruh di pelaminan itu, menandakan klau sang kakak sekarang sudah menjadi hak suaminya seutuhnya.
Leni keluar di gandeng oleh Rania dan kakaknya, walau sedikit kesal melihat pernikahan sang adik yang kelewat mewah menurutnya, mau tidak mau dia tetap menggandeng sang adik, menemui suaminya.
Albi terpesona melihat kecantikan sang istri, dia tidak menyangka kalau Leni bisa secantik ini, yang biasanya hanya bergaya tomboy, memakai kaos oblong dan celana jeans sobek sobek. kadang pakai celana trening, kali ini sang istri memakai kebaya, dan di dandani seperti barby hidup, membuat Albi terpesona oleh sang istri.
"Ehem... ehemmm... nanti puas puasin melihatnya, sekarang tanda tangan surat nikah dulu, biar sah semuanya." goda penghulu, membuat Albi salah tingkah, tentu saja membuat tawa para saksi di san pecah melihat wajah Albi yang salah tingkah.
Setelah semua selesai, dan kini keduanya sedang berdiri di atas pelaminan menerima ucapan selamat dari semua orang, tidak terkecuali sang adik Randi.
"Jangan menangis, kakak mu tidak akan kemana, dia hanya akan menjadi tanggung jawab abang sekarang, tapi dia tetap menjadi kakak mu, abang tidak akan pernah memisahkan kalian, kamu tetap lah kuliah, jangan sampai karena kami menikah, kamu mengubur cita cita kamu, abang ngak mau itu, dan terima kasih, kamu sudah menikahkan abang dengan kakakmu, dan itu artinya kamu juga sekarang jadi adikku." bisik Albi saat bersalaman dan memeluk adik iparnya.
"Mana mungkin abang akan menduakan kakak mu itu, klau mau mah, dari dulu saja saat dia mengundur pernikahan kami, sudah abang pergi ninggalin dia, nyatanya abang menunggu dia, jadi ngak usah kau risau dengan itu." ujar Albi.
"Selamat ya sayang, sekarang kamu sudah menjadi anak mama, dan semoga rumah tangga kalian samawa, dan di setiap rumah tangga pasti akan ada kerikil kerikil tajam yang menghadang, tapi itu bisa kalian lalui tergantung sikap kalian, hilangkan ego saat ada masalah pecahkan semua masalah dengan kepala dingin, jangan pakai emosi." tutur ibu mertua Leni itu.
"Makasih ma, sudah menerima Leni jadi menantu mama, dan tolong bimbing Leni menjadi istri yang baik untuk bang Albi." ujar Leni.
Albi yang di panggil Mas oleh sang istri lansung berbunga bunga, dan senyum senyum sendiri, biaya Leni hanya memanggil dirinya dengan nama, sekarang sudah ada embel embel Mas, sungguh Albi sangat bahagia.
__ADS_1
"Selamat nak, jadi lah istri yang berbakti kepada suamimu, dan jangan pernah melawan suamimu selagi suami kamu masih di jalan yang benar dan menurut syariat islam, kamu wajib mengikuti perintahnya." tutut sang ibu, berkaca kaca.
"Iya bu, in syaa allah, aku akan patuh sama suami, dan Terimakasih sudah mendampingin aku selama ini," tutur Leni dia tidak mampu lagi berkata kata, hanya tangisnya lah keluar.
"Sudah jangan menangis, malu sama orang, nanti riasannya berantakan loh." ujar sang ibu.
Satu pasti sudah mengucapkan selamat dan do'a kepada Leni, termasuk Rania dan suaminya, pesta berlansung sangat meriah, dan di hadiri banyak tamu undangan baik dari pihak Leni mau pun dari pihak Albi.
"Katanya, cuma ngundang sedikit, tapi kok ini ngak habis habis tamunya ya mas." tanya Leni yang kakinya sudah sangat pegal.
"Sabar sayang, kamu kan tau, aku itu anak tunggal sudah pasti mama mengundang teman teman dan seluruh anggota keluarga dari pihak mama dan pihak papa, belum orang orang kantor mereka masing masing." ucap Albi.
"Tapi kata mama kemaren cuma sedikit, dan aku nemenin mama beli suvenir juga pesan sedikit." bingung Leni.
"Mama hanya mengikuti aja kemauan kamu, agar kamu mau menikah, dia mengiyakan semua permintaan kamu, tapi misinya tetap berjalan, walau suvenir yang dia pesan sedikit, emang dia ngak mati akal untuk menghubungi tempat kalian membeli suvenir itu, emang dia ngak bisa menambah jumlah makanan yang telah kalian pesan ." kekeh Albi.
Membuat Leni terbengong karena, kena tipu habis habisan oleh sang mama mertua.
"Ya ampun gue kena tipu kekeh Leni, tidak percaya dengan kenyataan itu, pantas saja dekorasinya sangat cantik, tidak sesuai dengan pesanan mereka kemaren, dan jumlah makanan juga sangat banyak macamnya.
Bersambung....
__ADS_1
"