
Malam itu Rania, Rangga, Albi dan Gilang lansung beraksi memasang cctv di bengkel Rangga. Mereka tidak mau berlama lama menindaki kejahatan, takutnya akan beresiko buruk untuk kelangsuangan bengkel yang baru saja mulai naik daun itu.
"Abang ngak habis pikir deh, sama mereka yang masih mau bekerjasama dengan orang luar untuk merusak usaha kamu Ngga, padahal kurang apa coba kalian pada karyawan, yang tadinya hidup mereka blingsatan, sekarang sudah hidup enak, makan cukup, biaya sekolah anak mulus, tapi kok ada ya orang masih punya sifat jahat kaya gini" heran Gilang, dia merasakan juga nikmat bekerja sama Rangga, yang dulunya anak buah dia, ibarat kata, guru menjadi anak buah muridnya itu.
Dulu walau sudah mempunyai bengkel, dan banyak pelanggan juga, selama Rangga bekerja sama Gilang, tetap saja Gilang kepayahan menjalani biaya bengkelnya itu, dan makan anak istrinya, karena dia kekurangan peralatan atau apalah, semenjak bekerjasama dengan Rangga, anaknya tidak kekurangan susu, rumah tangganya adem ayem, istri sudah pintar bersolek, bisa buka usaha kecil kecilan di rumah, dan bengkel masih berjalan, walau di jalankan anak buahnya, makmur sudah hidup di bawah kendali Rangga bukan hanya dia, semua rata rata karyawan Rangga itu sejahtera, namun tetap saja ada yang mau berhianat.
"Ya namanya manusia bang. Yang selalu haus dengan harta, masih merasa kurang dan kurang." ujar Rania.
"Benar itu, apa lagi mereka rasa, Rangga dan Rania masih kecil, masih mudah lah untuk di kibuli, dan tidak mungkin tega sama mereka, apa lagi ada iming iming uang besar yang di suguhkan, jadi silaukan mereka." ujar Albi.
"Mari kita perlihatkan seberapa baik hatinya Rania dan Rangga." ujar Rania dengan senyum misteriusnya.
"Astaga, jangan senyum kaya gitu napa dek!" kesal Gilang melihat senyum Rania tersebut, membuat bulu kuduk nya merinding.
"Hehehe... Lupa Bang" kekeh Rania.
"Kenapa lu bisa suka sih, sama cewek psiko kaya dia" bisik Albi di telinga Rangga.
"Entahlah, karena cinta itu buta" kekeh Rangga.
Sementara di rumah Guitama. Pak Yudist duduk termenung di ruang tamu, memikirkan apa yang terjadi tadi siang saat dia bertemu Rangga dan Rania, betapa gadis cantik itu begitu melindungi Rangga.
__ADS_1
Di sana dia tau. Rania begitu mencintai Rangga, begitupun sebaliknya, benar kata Radit mereka pasangan yang susah untuk di pisahkan, dan tadi Pak Yudis bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, dan bahkan hatinya tertohok dengan kata kata yang di ucapkan oleh Rania kepadanya tadi.
"Kenapa sih Papi bengong aja, cerita dong sama Mami" ujar Mami Inge, yang melihat sang suami dari tadi hanya duduk melamun di kursi tamu sana.
"Hhhh....." Pak Yudist menghembuskan nafasnya dan menyedekan punggungnya di senderan kursi tamu itu.
"Tadi Papi menemui Rangga" ucap Pak Yudit.
"Lalu, apa yang membuat Papi jadi bengong begini?" tanya Mami Inge yang tidak sabaran, suaminya hanya diam setelah mengucapkan ketemu Rangga.
"Jadi....." Pak Yudist lansung memberi tau apa yang dia bicarakan dengan Rangga tadi, dan juga bagaiman Rania memaki dirinya untuk membela sang suami.
"Iya Mi. Tapi dia tidak mau, dan tidak ingin bersama Radit, yang dia mau hanya Rangga." ujar Radit, tiba tiba sudah berada di dekat mereka.
"Kamu kan bisa rebut dia, dari anak bodoh itu, masa kamu kalah sama anak ngak guna itu!" omel Mami Inge.
"Mi, sudah lah Mi. Jangan ganggu mereka lagi." ujar Radit, yang mulai sadar dengan ucapan sahabatnya.
"Kenapa? kamu kalah sama anak bodoh itu, atau kamu sudah ngak mau karena dia bekas orang!" sinis Mami Inge.
"Bukan Mi. Bukan karena aku kalah dan bukan juga dia bekas Rangga, kalau itu aku bisa maklum. klau wanita itu mau sama aku, tapi dia wanita yang tidak mudah di taklukan, dia hanya cinta sama Rangga, jangan usik lagi kebahagian Rangga Mi, sudah cukup dia menderita Mi." ujar Radit yang mulai terbuka mata dan hatinya.
__ADS_1
"Halah.... Apa sih yang di banggakan dengan anak bodoh itu, ngak ada!" ketus Mami Inge.
"Mi, sebenarnya kenapa sih Mami begitu benci sama Rangga, apa karena dia tidak pintar di akademik? tapi dia punya bakat di luar akademik Mi, bahkan dia itu selalu jadi juara di kejuaraan taekwondo, dia bisa menghidupi dirinya sendiri Mi." ucap Radit.
"Halah... Tetap saja anak itu memalukan, selalu jadi anak bodoh membuat Mami malu saja, kenapa juga Tuhan melahirkan ke dunia ini, melalui rahim Mami, kenapa tidak sama orang lain saja!" ketus Mami inget, dia selalu ingin anak yang dia lahirkan sempurna dia atas segala galanya, harus di atas anak anak saudara dan juga teman temannya, gengsinya terlalu tinggi, nilai akademik lebih penting bagi Mami inge.
"Mi. Apa salah Rangga Mi, bahkan Rangga tidak pernah Mami sekolahkan semenjak tamat SD, namun dia mampu sekolah dengan biaya sendiri sampi tamat SMA tanpa meminta biaya dari kita, bahkan Mami tidak pernah memberi dia uang saku, tapi dia bisa membeli kebutuhannya sendiri, pakaian yang bagus bagus, dan bahkan dia bisa beli motor Ninja sendiri, tanpa minta uang pada Mami dan Papi, sementara aku dan Randi, semuanya di fasilitasi sama Mami dan Papi."
"Dan apa setiap perlakuan kita pernah di balas jahat sama Rangga, ngak kan Mi. Segitu jahatnya kita sama dia, dia sama sekali tidak membalas, bahkan dia jadi anak baik, tidak salah gaul, tidak merokok, tidak kena obat obatan terlarang, ngak kan Mi. Coba anak lain mungkin saja sudah membangkang, membuat malu keluarga, namun itu tidak di lakukan oleh Rangga." ujar Radit.
"Ya. semenjak di amuk temannya. Radit selalu mencari kesalahan Rangga, namun tidak ada satupun kesalahan Rangga yang dia dapat. justru banyak prestasi yang Rangga punya, walau tanpa dukungan keluarganya, adiknya itu pun berteman dengan orang orang baik, tidak terjerumus dengan pergaulan bebas di luar sana.
"Coba Mami pikir, kami pintar berprestasi dan kuliah di universitas ternama karena Mami dan Papi memfasilitanya, sementara Rangga tidak sama sekali kalian fasilitasi, namun dia bisa menyelesaikan sekolahnya sampai SMA, coba klau Aku atau Randi di posisi Rangga, pasti kami jadi gembel di luar sana Mi, belum tentu kami mampu seperti Rangga, dia mampu mengembangkan bakat melukisnya, tidak sedikit lukisanya di beli oleh orang luar negeri, dia mampu membuka bengkel tanpa bantuan dari kita, bahkan bengkelnya mulai meroket saat ini, itu semua atas kerja keras Rangga sendiri Mi. Jadi aku mohon jangan ganggu lagi Rangga dan Rania Mi, Rania adalah hidup Rangga, Rania lah sumber kebahagian Rangga, dialah satu satunya orang yang berada di saat senang maupun susahnya Rangga Mi." ujar Radit memohon kepada sang Mami.
"Ha... Terserah kau lah, tetap saja bagi Mami dia anak bodoh, dongo, bahlul!" oceh Mami Inge meninggalkan mereka di ruang tamu sana.
Sementara Pak Yudist, diam tanpa menjawab satupun ucapan Radit, memang benar apa yang di katakan oleh Radit, anaknya itu, entah kapan dia bertanya dan memeluk Rangga, entah kapan dia memberi Rangga uang jajan, dia sendiri lupa akan hal itu, anaknya ada atau pun tidak ada di rumah pun, Pak Yudis tidak pernah perduli.
Sementara di luar rumah, ada Randi tertunduk sedih, ucapan abangnya menohok lubuk hatinya paling dalam, karena ke kurangan adiknya, membuat dia malas berhadapan dengan Rangga, dia merasa paling pintar dari sang adik, namun pada kenyataannya Rangga adalah pemenang dari mereka semua, Rangga mampu berdiri di kakinya sendiri, Rangga merintis usaha dari nol hingga berjaya, sementara dia dan Radit hanya pewaris, tinggal melanjutkan usaha orang tuanya, yang sudah di wariskan entah dari berapa turunan. Mereka berdua terkenal karena menyandang nama Guitama di belakangnya, namun Rangga di kenal dengan hasil karya sendiri, sungguh kini dia merasa sangat kecil di hadapan sang adik."
Bersambung.....
__ADS_1