
"Sayang...." panggil Rania kepada sang suami yang sibuk memperhatikan beberapa sketsa yang baru saja selesai dia bikin.
"Tumben..." ujar Rangga yang kesenangan sang istri memanggil sayang, tidak seperti biasanya cuma manggil kakak.
"Ncek... di panggil sayang malah di bilang tumben, ya udah deh, aku panggil kakak aja lah" cemberut Rania kesal sama sang suami.
"Eee.... jangan marah dong, dan jangan ubah panggilan itu, kakak suka sayang, kakak seneng banget kamu panggil kakak dengan kata kata itu" ujar Rangga membawa sang istri duduk di pangkuannya.
"Tadi bilangnya tumben..." dengus Rania, yang masih cemberut.
"Tadi kakak kaget sayang" rayu Rangga dan mencium lembut pipi sang istri.
"Sudah selesai urusan di kampus?" tanya Rangga kepada sang istri.
"Sudah..." ujar Rania, menyenderkan kepalanya ke dada bidang sang suami.
"Kakak Sibuk ngak?" tanya Rania dengan suara manjanya.
"Kenapa nanya gitu hmmm...." ujar Rangga balik nanya.
"Ih.... suka gitu deh, klau di tanya malah balik nanya" kesal Rania memekul pelan dada sang suami, membuat Rangga terkekeh dengan kekesalan sang istri.
"Klau di bilang sibuk ya pasti sibuk sayang, namanya kerja, tapi klau buat kamu pasti ada waktu, mana mungkin kakak ngak punya waktu buat kamu sayang, mau apa sayang mas ini hmmm...?" tanya Rangga membelai puncak kepala sang istri yang tertutup hijab itu.
Mau ajak jalan jalan ke pantai, sudah lama loh kita ngak jalan jalan" ujar Rania memanyunkan bibir nya.
"Siap Tuan putri, mau kapan? sekarang, besok atau kapan?" tanya Rangga yang selalu mengecup pipi sang istri.
"Nanti sore aja" ujar Rania.
"Baiklah. klau gitu mas lanjutin kerjaan kakak sedikit lagi selesai" ujar Rangga.
"Ok..." ujar Rania beranjak dari pangkuan sang suami.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Rangga saat sang istri ingin keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Mau ambil minum, haus" ujar Rania.
Rangga yang mengerti menganggukan kepala nya dan dia lansung mengerjakan kerjaan yang sedikit lagi selesai.
Rania melangkahkan kaki menuju lemari pendingin di ruang tunggu, yang memang di sediakan oleh Rangga untuk para customer nya.
"Kak Nia ada yang nyari" ujar salah satu karyawannya, memang Rania dan Rangga tidak pernah mau di panggil Bapak atu Ibu serasa tua banget gitu, padahal mereka masih muda.
"Siapa...?" tanya Rania bingung, dia merasa tidak punya janji sama siapa pun.
"Ngak tau kak, katanya sih saudara kakak" ujar Karyawanya.
"Baiklah, nanti saya temui" ujar Rania yang melanjutkan niatnya yang tertunda.
Glek...
Glek...
Aahhh...
"Legaaaa...." ujar Rania, berasa tenggorokan nya yang tadi kering kerontang lansung segar setelah di sirami oleh air dingin.
"Astagfirullah.... loe apa apaan sih kak, datang datang marah marah, lagian siapa suruh loe ke sini, gue ngak ngerasa punya urusan sama loe" sewot Rania, yang jantungnya masih berdebar kencang gara gara teriakan Anjeng itu.
"Ncek. kelamaan loe, gue butuh uang, kasih gue uang dong, secara usaha loe maju pesat nih, jadi gue minta uang dong 10 juta aja, itu pasti kecil buat loe" ujar Ajeng santai seolah olah dia punya saham dan punya kuasa di bengkel yang Rania kelola berdua sang suami itu.
Rania sampai ternganga dengan ucapan sepupu yang ada akhlak itu, sekate kate minta uang 10 jt. dia pikir m gampang cari uang segitu, tak habis pikir dia dengan anak pamannya itu.
"He... ce odah, klau mau uang kerja bukan minta minta sama orang, minta ngak kira kira lagi, loe pikir uang 10 jt itu kecil, kami cari uang segitu sampai jungkir balik, lah loe tinggal minta, enak bener hidup loe!" sewot Rania menghadapi anak pamannya itu.
"Ncek.... ngak usah pelit pelit loe Nia, tinggal kasih aja apa susahnya sih, ngak usah ceramah deh, buru ambil uang nya, gue ngak punya waktu banyak nih, sudah di tungguin sama teman teman gue" ujar Ajeng tak tau diri.
"Jangankan 10 jt, seribu perak pun gue ngak bakal kasih loe, loe pikir gue punya pohon duit tinggal petik, pergi sana! gangguin gue aja loe" kesal Rania.
"Dasar pelit, medit, koret loe sama saudara, baru segini aja usaha loe sudah belagu, sudah lupa sama saudara" kesal Ajeng.
__ADS_1
Rania hanya memutar mata males melihat ke arah Ajeng itu.
"Suah... suah.... sana loe pergi, klau mau minta minta di jalan, mau uang banyak usaha, bukan morotin orang" usir Rania melambai lambaikan tangannya mengusir Ajeng.
"Awas loe, gue Aduin sama bapak!" ancam Ajeng.
"Loe pikir gue takut, sampai bapak loe macam macam sama gue, keluar loe semua dari rumah gue, tinggal di kolong jembatan sana!" ujar Rania yang tidak pernah takut takutnya sama Ajeng.
"Dasar sialan" gumam Ajeng berlalu sambil menghentak hentakan kaki ke lantai.
"Hati hati neng lantainya licin, nanti jatuh loh. mau di gendong sama babang tampan" goda karyawan Rania yang belepotan dengan oli.
"Dih najis...!" ketis Ajeng menatap jijik kepada karyawan Rania itu.
"Eehhh... neng, najis najis, klau babang ganti kostum ngak kalah ganteng sama opa le min ho neng" ujar karyawan Rania itu.
"Ngaca loe ngaca, masukin dulu gigi loe yang maju itu, baru bandingin diri sama lee min ho" kesal Ajeng yang memang karyawan Rania satu itu giginya agak maju dari pada bibir.
"Ya elah neng, ini mah pemanis neng, neng mau coba ngak" ujar mang didin itu.
"OGAH GUE....!!" pekik Ajeng dan berlari terbirit birit meninggalkan bengkel R&R itu.
Buahahahha....
Melihat Ajeng yang lari terbirit birit membuat semua karyawan Rania terbahak bahak, termasuk Rania yang masih berada di sana ikutan terpingkal pingkal, ulah kelakuan karyawannya yang konyol itu, dan membuat Ajeng kabur secepat kilat.
"Bang, kerja bagus!" ujar Rania memberi dua jempol kepada Mang Didin.
Mang Didin pun mengangguk senang.
"Kalian aku traktir makan siang ya, tapi bilang terimakasih sama bang Didin dulu, itu berkat Bang Didin bisa ngusir hantu" kekeh Rania.
"Ya elah neng, dikata saya pawang demit apa" dengus Mang Didin.
"Bisa jadi, buktinya satu hantu ngibrit ketakutan sama abang" kekeh Rania.
__ADS_1
"Ya Allah, untung bos" ujar Mang Didin melihat ke arah Rania dengan tampang kesal, Rania hanya terkekeh dan berlalu masuk ke dalam ruangan sang suami.
Bersambung....