
Kini usia kandungan Alya memasuki bulan ke 4, waktunya menagih janji kepada suaminya.
"Mas, apa kamu memiliki waktu pagi ini?" tanya Alya ketika melihat Dimas baru bangun tidur.
"Ya, aku mau pergi kerja."
"Ini bulan keempat, kamu janji akan menemani aku periksa kehamilan," ucap Alya.
"Oh, ya sudah kamu pergi saja sendiri," Dimas menyibak selimutnya.
"Mas, kamu tega 'ya membiarkan aku pergi seorang diri ke rumah sakit. Ini anak kamu juga," Alya berkata dengan sedikit nada tinggi.
"Tak usah menjadi wanita manja," ucap Dimas. "Bukankah kamu sendiri yang mau hamil?"
"Astaghfirullah, tidak mungkin aku menggugurkannya, Mas!"
Dimas meraih dompet dan membukanya, mengambil 10 lembar uang berwarna merah. Lalu meletakkannya di atas ranjang. "Jangan ganggu aku, pergilah!"
"Mas!" pekik Alya kesal.
"Kamu masuk di kehidupan aku saja sudah membuat masa depanku hancur, jadi jangan harap ku bisa mencintaimu dan menganggapmu sebagai seorang istri!"
Alya menarik nafasnya lalu ia hembuskan, gegas ia mengambil uang yang tergeletak di ranjang kemudian keluar kamar.
"Ciih, mau juga dia uangnya!"
-
Dimas bersiap-siap berangkat ke kantor, ia melangkah ke meja makan namun tak ada sama sekali makanan.
"Alya!" Dimas memanggil dengan berteriak.
Panggilan pertama tak ada jawaban...
Panggilan kedua begitu juga....
Dimas lalu mengelilingi rumahnya namun istrinya tak ia temukan, lantas dengan cepat menghubungi Alya.
"Assalamualaikum, Mas!"
"Waalaikumussalam, kamu di mana?"
"Aku sudah berada di dalam taksi online, Mas."
"Kenapa tidak menyediakan sarapan untukku?"
__ADS_1
"Aku buru-buru, Mas. Lagian juga Mas Dimas jarang sarapan di rumah, jadi ku tak membuatnya," jawab Alya.
"Jika kamu ingin pergi, apa salahnya membuatkan sarapan," ucap Dimas.
"Iya, ya, lain waktu sebelum ku pergi aku akan membuatkan sarapan. Sudah dulu 'ya, Mas!" Alya menutup ponselnya.
Dimas mengepalkan tangannya karena kesal.
-
Dimas akhirnya pergi tanpa sarapan, di tengah perjalanan Tria meneleponnya dan mengajaknya bertemu.
Dimas pun mengiyakan ajakan adiknya.
Begitu sampai di kafe, jantungnya berdegup kencang. Wanita yang ia harapkan menjadi istrinya kini ada dihadapannya.
"Apa kabar, Dimas?" Clara mengulurkan tangannya.
"Baik, kamu?"
"Aku sangat baik, maaf mengajak kamu bertemu tanpa pemberitahuan sebelumnya dan melalui Tria," ucap Clara lembut.
"Tidak apa-apa, aku senang jika kamu mau bertemu denganku lagi," ujar Dimas.
"Aku dengar kamu sudah menikah," ucap Clara.
"Tria juga telah menjelaskannya, tapi kenapa kamu mau menikah dengan wanita yang tidak kamu cintai?" tanya Clara.
"Aku tidak ingin menjadi anak durhaka," jawab Dimas.
"Ternyata kamu memang pria yang baik, maaf kemarin ku terlalu egois sehingga hubungan kita harus berakhir begitu saja," ujar Clara.
"Tapi kalian 'kan bisa kembali lagi," sahut Tria.
"Bagaimana mungkin Tria?" tanya Dimas.
"Kak, bukankah pria bisa menikah sampai empat kali?" ujar Tria.
"Kakak tidak mau menduakan Alya," ucap Dimas.
"Kalau begitu Kakak ceraikan saja dia," saran Tria.
"Iya, Dimas. Kamu 'kan tidak mencintainya untuk apa mempertahankannya," sambung Clara.
"Dia sedang mengandung anakku, ku tak mungkin menceraikannya meskipun ku tidak mencintainya," ucap Dimas.
__ADS_1
"Tapi, aku sangat menyesal dan ingin kamu kembali lagi, Dimas," ungkap Clara.
"Maaf, aku tidak bisa." Tolak Dimas.
Sementara ditempat yang sama, seorang wanita mengepalkan tangannya. "Aku akan membalas rasa sakit hati ini dengan caraku!" gumamnya.
-
Malam harinya...
Dimas lebih awal pulang, pukul 7 malam pria itu telah berada di rumahnya.
Alya memperhatikan suaminya dari atas kepala hingga ujung kaki. "Mas Dimas tidak salah pulang jam segini?" sindirnya.
"Aku sangat lelah hari ini, tolong buatkan makan malam!" titahnya.
"Baik, Mas!" ucap Alya semangat.
Alya gegas ke dapur dan membuatkan makanan kesukaan suaminya dengan begitu semangat.
Tak sampai 1 jam, akhirnya hidangan telah selesai dimasak. Alya memanggil suaminya dan mengajaknya makan malam bersama.
"Mas, terima kasih buat malam ini!"
"Memangnya aku melakukan apa?"
"Mas Dimas mau menyempatkan waktu untuk makan malam bersamaku dan aku sangat senang sekali," Alya melemparkan senyum terindahnya.
"Ya, sama-sama."
"Apa kata dokter tadi?"
"Calon anak kita sehat dan berkembang dengan sempurna."
"Syukurlah!"
"Mas, setelah bayi ini lahir. Apa kamu akan menceraikan aku?"
Dimas menghentikan gerakan sendok dan garpu lalu menatap istrinya, "Jika kamu yang mundur dan menyerah, ku akan melepaskanmu."
"Jika aku bertahan?"
"Aku akan mempertahankan kamu meskipun dirimu terluka."
"Mas tidak mencoba untuk membuka hati?"
__ADS_1
Dimas menggelengkan kepalanya.
Alya yang paham hanya tersenyum samar.