Bertahan Walau Terluka

Bertahan Walau Terluka
Bab 49 - Melamar Tria


__ADS_3

Tria belum sadar, ia masih terbaring di ranjang di temani Arsen.


Mawar telah diantar pulang ke rumah karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk menjaga Tria di rumah sakit.


Di perjalanan Alya tampak diam dan sendu, ia memalingkan wajahnya dari suaminya.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Mas, kemarin Tria sebelum pulang dari rumah kita dia memelukku sangat erat."


"Ya, memangnya kenapa?"


"Tapi, ini tak seperti biasanya. Dia ngomong padaku terima kasih telah menjaga kamu. Padahal selama ini aku 'kan memang menjagamu," jawab Alya.


"Jadi, kamu kepikiran dengan ucapan Tria?"


"Iya, Mas. Aku takut sekali."


Dimas mengeratkan jemari tangannya dengan istrinya. "Kita berdoa sama-sama, ya!" menatap Alya tersenyum.


Alya mengiyakan.


Begitu sampai rumah, kedua anaknya Alya dan Dimas berlari menghampiri orang tuanya.


"Mama, Papa, bagaimana dengan kabar Tante Tria?" tanya Rayn.


"Tante belum sadar, Nak."


"Tante baik-baik saja, 'kan?" tanya Elisa.


"Kita berdoa sama-sama, semoga Tante Tria lekas sembuh," Dimas menggendong tubuh Elisa.


"Kami selalu berdoa agar Tante Tria sehat, Ma!" ujar Rayn.


Alya tersenyum mendengar ucapan putranya.


-


Di rumah sakit, Arsen duduk di kursi. Ia tak hentinya memandangi Tria yang masih memejamkan matanya.


Arsen tetap terjaga meskipun rasa kantuk mulai menyerangnya. Maya ingin menemani putranya menjaga Tria namun dilarang dengan alasan kesehatan.


Maya mengaku salah karena telah menyakiti hati Tria dengan tutur katanya.


Dimas datang ke ruangan adiknya pukul 9 malam, ia membawa sebungkus nasi beserta lauk pauk dan minuman teh dalam botol.


"Kak Dimas!"


"Aku akan menemanimu menjaga Tria karena kalian 'kan belum menikah," ujar Dimas sebelum lelaki yang dihadapannya bertanya.


Arsen hanya tertawa kecil.


"Apa kamu sudah makan?"


"Belum, Kak."


"Makanlah, Alya tadi meminta aku membawakan untukmu. Dia tak mau Tria memarahi kami karena membiarkanmu kelaparan," ujar Dimas, meletakkan bungkusan plastik di nakas.


"Aku sebenarnya tidak lapar, Kak."


"Makanlah, tidak mungkin kamu dan Tria gantian di rumah sakit," celetuk Dimas.


"Baiklah, aku akan makan," Arsen mengambil bungkusan plastik di nakas lalu membukanya.


-


Dimas tertidur dengan posisi berbaring di sofa sementara Arsen tidur dekat ranjang Tria dengan posisi duduk dan lipatan tangan sebagai penopang dahinya.


Pukul 12 malam, Tria memberikan respon dengan menggerakkan jemari dan mengeluarkan suara meskipun pelan.


Arsen yang tidak benar-benar terlelap, tersentak bangun. "Tria!" lirihnya tersenyum.

__ADS_1


Arsen gegas menekan tombol yang berada di dinding dekat brankar.


"Kak...Kak Dimas.. Kakak... bangunlah!" Arsen berteriak memanggil Dimas dari ranjang Tria yang tak jauh dari sofa.


Dimas mengerjapkan matanya, ia lantas duduk kemudian berdiri dan melangkah ke ranjang adiknya.


Dimas tersenyum senang melihat adiknya telah sadar.


Tak lama seorang dokter dan 2 orang perawat memasuki kamar rawat Tria.


Arsen dan Dimas memperhatikan Dokter memeriksa kondisi Tria.


Dokter pun tersenyum ketika melihat pasiennya bisa melewati masa kritis.


"Aku mau menelepon Mama dan Alya, mengabari ini," Dimas mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Dimas melangkah keluar kamar.


****


Keesokan paginya, Mawar dan Alya datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Tria.


Begitu masuk, Mawar gegas menghampiri putrinya dan memeluknya. "Mama, benar-benar khawatir!" air matanya kembali menetes.


"Ma, aku tidak apa-apa. Jangan mengkhawatirkan aku!" lirihnya. Karena Tria belum mampu berbicara kuat.


Mawar melepaskan pelukannya lalu mengecup kening putrinya. "Mama takut kehilanganmu, Tria!"


Tria tertawa kecil.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Mawar memandangi wajah putrinya yang pucat.


"Sudah, Ma."


"Syukurlah!" Mawar tersenyum senang.


"Apa kata Dokter, Mas?" tanya Alya.


"Dokter mengatakan jika luka di perut Tria tidak melukai organ tubuh lainnya. Sore atau besok pagi Tria diperbolehkan pulang," jelas Dimas.


"Arsen, kamu boleh pulang istirahat biar Tante yang menjaga Tria," ucap Mawar.


"Tidak, Tante. Biarkan saya di sini sampai Tria pulang," ujar Arsen.


"Kata Mama benar, Sen. Lebih kamu pulang dulu dan beristirahat. Karena di sini ada Alya dan Mama aku." Dimas turut menjelaskan.


"Tapi, Kak..."


"Aku juga mau pulang, nanti datang bersama anak-anak," ujar Dimas.


"Pulanglah, Sen. Istirahat nanti jika Tria pulang, kami akan mengabarimu," timpal Alya.


"Baiklah, aku akan pulang," ucap Arsen.


"Kamu harus tidur sesampainya di rumah, jangan khawatir dengan kondisi Tria. Dia aman bersama kami," ujar Alya.


"Iya, Kak."


Arsen pun berlalu setelah berpamitan dengan Tria yang masih lemas.


Sejam Arsen pulang, Azzam berserta istri dan kedua anaknya datang menjenguk.


"Mama!" Nia menghampiri dan mengenggam tangan Tria. "Mama, kenapa?" tanyanya.


"Mama hanya terluka sedikit," jawab Tria dengan senyum.


Azzam dan Dimas memilih mengobrol di luar kamar sementara para wanita menemani Tria.


-


-

__ADS_1


Tiga jam berlalu....


Di kediaman orang tuanya Arsen...


"Apa Arsen sudah bangun?" tanya Maya kepada salah satu pelayannya.


"Belum, Bu. Mas Arsen dari tadi belum ada keluar kamar," jawabnya.


"Biar saya ke kamarnya saja," Maya melangkah ke kamar putranya.


Maya mengetuk pintu beberapa kali, tak ada sahutan ia pun membukanya secara perlahan.


Arsen masih tampak terlelap tidur.


Maya memperbaiki selimut Arsen, lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


Arsen terbangun ketika kepalanya di sentuh, "Mama!" Ia lantas duduk menatap wanita yang melahirkannya di hadapannya.


"Bagaimana kondisi Tria?"


"Dia mulai membaik, Ma."


"Syukurlah," ucap Maya tersenyum. "Mama berutang budi padanya, bagaimana cara membalasnya?" tanyanya.


"Kenapa Mama bertanya hal begitu?"


"Tria berani melawan perampok itu dan Mama telah melakukan menyakiti perasaannya."


"Ma, semua telah berlalu. Tria sudah membaik dan Mama tak perlu merasa bersalah."


"Jika Mama melamarnya untukmu, apa kamu mau?"


Arsen lantas memperbaiki posisi duduknya, "Mama serius?"


"Mama lihat kamu begitu menyayangi dan mencintai Tria," jawab Maya.


Arsen lantas memeluk Maya dan tersenyum, "Terima kasih, Ma."


"Bangunlah, lekas mandi dan makan lalu kita pergi temani Mama ke rumah sakit menemuinya.".


"Baiklah, Ma. Tunggu sebentar!" Arsen bergegas turun dari ranjang.


Dua jam kemudian, Arsen dan Maya tiba di rumah sakit. Di ruangan rawat inap hanya ada Alya yang menemani Tria.


"Tante!" Tria tampak terkejut dengan kedatangan ibunya Arsen.


"Bagaimana kondisi kamu?" tanya Maya lembut.


"Alhamdulillah telah membaik," jawab Tria.


"Terima kasih telah menolong Tante," ucap Maya.


"Sama-sama, Tante."


"Tria, ada yang ingin Tante bicarakan kepadamu?"


"Kakak keluar dulu, ya. Mau membeli makanan," Alya meminta izin pada adik iparnya. Ia tahu pasti Maya dan Arsen ingin bicara serius dengan Tria.


"Iya, Kak."


Alya pun keluar kamar.


"Tante ingin bicara apa?" tanya Tria.


"Apa kamu menerima perasaan putra Tante?" tanya Maya.


Tria mengalihkan pandangannya kepada Arsen yang berdiri dengan wajah mengharap.


"Tante pernah melakukan kesalahan dengan menolak kamu, tapi kali ini Tante memohon agar menerima cintanya Arsen," ujar Maya.


"Saya bukan wanita baik untuk Arsen, Tante. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik, kesalahan masa lalu saya perbuat telah membuat beberapa orang tersakiti termasuk mantan suami. Saya tidak mau, Arsen mengalaminya. Saya masih banyak kekurangan." Ungkap Tria dengan tulus.

__ADS_1


"Tante yakin kamu telah berubah, kamu bisa menjadi istri dan ibu yang baik," ujar Maya.


"Tapi, Tante ....."


__ADS_2