
Beberapa hari kemudian..
Hari ini Dimas, istri dan anaknya datang ke rumah orang tuanya karena Tria baru saja selesai di wisuda.
Beberapa keluarga tampak hadir di acara syukuran tersebut.
Tria menggendong Rayn, ia berkali-kali mengecup pipi keponakannya itu.
"Selamat, ya. Kamu berhasil menyelesaikan kuliah," ucap Alya.
"Terima kasih Kakak ipar," Tria tersenyum.
Sepupu Dimas juga memberikan ucapan selamat kepada Tria.
"Apa kamu akan bekerja?" tanya sepupu perempuannya Tria.
"Tidak," Azzam memotong pembicaraan beberapa wanita itu.
"Memangnya kenapa kalau aku bekerja, Mas?" tanya Tria.
"Tugas kamu di rumah dan aku yang bekerja mencari nafkah," jawab Azzam.
"Lalu bagaimana dengan ijazah aku, Mas?"
"Biarkan saja," jawab Azzam.
"Apa yang dikatakan Azzam ada benarnya," Alya menimpali.
"Tapi, aku ingin bekerja dan tentunya memimpin perusahaan," ujar Tria.
"Biar perusahaan yang mengurus Mas Dimas dan papa," ucap Azzam.
Tria tampak kecewa dengan keputusan suaminya.
-
-
Jam 2 siang, Dimas dan istrinya berpamitan pulang. Di perjalanan Alya lantas berkata, "Azzam melarang Tria untuk bekerja meskipun itu perusahaan sendiri."
"Memangnya kenapa kalau Tria bekerja? Ku rasa dia mampu memimpin perusahaan kami," ujar Dimas.
"Apa aku boleh bekerja juga?"
Dimas menoleh dan tak memberikan jawaban.
"Aku juga pernah memimpin sebuah perusahaan, apa salahnya kini ku mencobanya lagi," ungkap Alya.
"Kamu tetap di rumah, menungguku pulang bekerja dan merawat Rayn."
"Berarti sikap Azzam pada Tria itu benar, dong?"
Dimas terdiam.
Sementara di lain tempat Tria dan Azzam kini berada di kamar, beberapa tamu sudah berpulangan.
"Mas, aku ingin bekerja lagian ku juga belum hamil," ucap Tria.
"Kamu harus banyak beristirahat agar cepat hamil."
"Mas, itu tak berpengaruh mau aku kerja atau tidak!"
"Kamu harus menjaga kesehatan agar cepat hamil, Tria!"
"Mas, aku janji jika hamil ku akan berhenti bekerja."
"Baiklah, kamu boleh bekerja," ucap Azzam pasrah.
"Terima kasih, Mas!" Tria mengecup pipi suaminya.
****
Selang seminggu kemudian....
Tria berdandan cantik, ia bersiap akan berangkat ke kantor tentunya di antar oleh suaminya.
Sementara dikediaman Dimas, sepasang suami istri sedang menikmati sarapan seperti biasa bersama.
__ADS_1
"Aku akan pulang lama hari ini," Dimas berkata seraya mengelap bibirnya dengan tisu.
"Kenapa, Mas?"
"Hari ini Tria mulai bekerja, aku harus mengajarkan dia menjalankan bisnis," jawab Dimas.
"Oh, ternyata dia jadi bekerja," celetuk Alya.
"Ya, suaminya mengizinkannya. Mereka juga belum memiliki anak apa salahnya jika Tria bekerja," jelas Dimas.
"Oh," ucap Alya singkat.
"Aku berangkat, ya!" Dimas memundurkan kursinya dan mendekati kursi khusus bayi yang di duduki putranya lalu mengecup pipi bayi laki-laki itu.
"Hati-hati, Mas. Sepulang kerja, aku titip belikan martabak daging sapi," pinta Alya.
"Iya, nanti aku belikan," Dimas pun melangkah ke arah mobil dan melesat ke kantor papanya.
-
-
Jarum jam telah menunjukkan angka 9, namun Dimas belum juga pulang. Hal itu membuat Alya cemas apalagi nomor ponsel suaminya itu tak aktif.
Alya akhirnya menghubungi Tria, tak lama kemudian wanita itu mengangkatnya.
"Halo, Tria!"
"Halo, Kakak ipar. Ada apa meneleponku?"
"Apa Mas Dimas masih bersama denganmu?"
"Mas Dimas telah pulang sepuluh menit bersama Kak Clara," jawab Tria.
"Begitu, ya. Terima kasih," Alya menutup teleponnya.
Alya menghempaskan tubuhnya di sofa, hatinya menjadi cemburu ketika mendengar adik iparnya mengatakan kalau suaminya pulang bersama dengan mantan pacar.
Jam 9 lewat 20 menit, Dimas tiba di rumah dengan menenteng kantong plastik berisi kotak martabak daging sapi pesanan istrinya.
Wajah Alya ditekuk, ia pun gegas pergi ke kamar.
"Kenapa ponsel Mas Dimas sulit dihubungi?"
"Tadi ponsel ku lowbat, aku lupa membawa charger," jelas Dimas.
"Apa tadi Mas Dimas mengantarkan Clara pulang?"
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku tadi menelepon Tria."
"Oh, iya. Aku memang mengantarkan dia pulang kebetulan tadi kami makan malam bersama," tutur Dimas.
"Kalian makan berdua?"
"Tidak, ada Tria dan suaminya juga."
"Kenapa kalian berdua saling bertemu? Apa Clara ingin mengajakmu balikkan?"
"Alya, Clara bekerja di perusahaan yang menjadi rekan kerja perusahaan milik papa. Makanya kami sering bertemu," jelas Dimas.
"Pasti kamu senang terus bertemu dengannya," tuding Alya lagi.
"Kenapa kamu begitu cemburu?"
"Karena aku tidak mau Mas Dimas direbut wanita lain!"
Dimas menatap wajah istrinya.
Dengan cepat Alya membuang muka.
"Jangan terlalu mencintaiku terlalu dalam, itu akan menyakitimu."
Alya menghela nafas, bergegas keluar kamar.
Dimas tak menyusul atau membujuk istrinya, ia memilih membersihkan diri setelah itu merebahkan tubuh di ranjang.
__ADS_1
Alya tak kunjung memasuki kamar.
Dimas turun dari ranjang dan mencari keberadaan istrinya.
Berjalan ke kamar Rayn, perlahan membuka pintu. Memasuki ruangan itu, Dimas mendekati istrinya yang tertidur di sofa. Menyentuh rambut dari ibu anaknya.
Alya tersentak bangun karena rambutnya di sentuh.
"Maaf, menggangu kamu tidur," ucap Dimas pelan.
Alya lantas duduk dan bertanya, "Kenapa Mas Dimas di sini?"
"Aku dari tadi menunggu kamu."
"Mas Dimas butuh sesuatu?"
"Tidak, aku hanya kecarian kamu saja."
"Tadi Rayn rewel makanya ku sengaja tidur di sini," jelas Alya.
"Kita bawa saja Rayn tidur di kamar," usul Dimas.
Alya setuju.
Dimas mengangkat tubuh putranya dan membawanya ke kamar mereka.
Rayn di rebahkan di ranjang, Dimas dan Alya berada di kanan dan kiri bayi itu.
"Jika Rayn di sini, kita bisa gantian untuk menjaganya," ucap Dimas.
Alya mengangguk.
"Ayo sekarang tidur!"
"Iya, Mas."
***
Dimas bangun pagi lebih awal, ia pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan buat dirinya dan istrinya.
Selama tidur bersama dengannya dan istrinya, Rayn tidak terbangun sama sekali malah sangat pulas dan nyenyak.
Alya terbangun ketika mendengar suara berisik dari arah dapur, melihat jam dinding. Ia bangkit, mengikat rambut dan bergegas keluar kamar.
Alya melangkah ke dapur, "Mas, kenapa tidak membangunkan aku?"
"Kamu terlalu lelah mengurus Rayn semalam, jadi ku tak mau mengganggu waktu tidurmu."
"Mas, merawat dan mengurus memang tugasku."
"Dan tugasku juga," potong Dimas.
"Lebih baik Mas siap-siap pergi ke kantor, biar aku buatkan sarapan."
"Hari ini aku tidak ke kantor," ujar Dimas.
"Kenapa?"
"Aku ingin mengajak kalian berdua jalan-jalan," jawab Dimas.
"Benarkah?" Alya tampak begitu semangat.
"Iya, kamu mau kita pergi ke mana?"
"Terserah mau ke mana asal perginya dengan Mas Dimas."
"Bagaimana kalau kita ke pantai?" usul Dimas.
"Aku mau, Mas." Jawab Alya semangat.
"Ya."
"Kalau begitu aku akan siap-siap dan mengabari Mba Tini jika hari ini tak perlu masuk kerja," ujar Alya.
Mba Tini, asisten rumah tangga yang akan datang pukul 8 pagi dan pulang jam 3 sore. Tugasnya mencuci piring, menyapu, mengepel, belanja dan menyetrika.
"Jangan banyak bawa baju karena kita tidak menginap!"
__ADS_1
"Iya, Mas!" teriak Alya dari kejauhan.